Kamis, April 10, 2008

Buku Ajar Agar Menarik di Baca


Oleh: A Qorib Hidayatullah

Tajamnya daya saing jagad perbukuan, menuntut penulis sekaligus penerbit cakap menyajikan buku agar menggiurkan serta menyolok mata. Buku yang menarik (eye catching) langsung dikerubuti pembeli buku ditiap-tiap book store.


Buku-buku yang tampak kaku, misalnya buku ajar, terancam ditinggalkan oleh pembeli. Buku ajar, kini perlu gesit berbenah strategi agar buku itu tak tampil “garang” lagi. Mengosmetika buku ajar secantik mungkin dan memiliki daya menyala.


Buku ajar, kerap kita temui di sekolah-sekolah ataupun di perguruan tinggi. Buku tersebut sengaja ditulis khusus menjadi pedoman siswa dan mahasiswa. Buku ajar dihadirkan bertujuan mempermudah proses belajar-mengajar guru pada siswa, atau dosen terhadap mahasiswanya. Tak ayal, buku ajar yang awalnya diharap mampu membantu proses belajar-mengajar, malah dijauhi oleh pembaca. Tentu, hal ini tak luput dari karakter lazim buku ajar —meliputi pewajahan buku dan artistik buku serta isi buku— yang tak lentur.


Seturut Joseph Brodsky, “Membakar buku sebuah kejahatan, tetapi ada yang lebih jahat dibanding membakar buku, yakni tidak membaca buku.” Untuk ihwal buku ajar, pendapat Brodsky belumlah tentu tepat. Tak semua orang malas membaca buku teridentifikasi jahat. Beragam alasan manusia memilih enggan membaca buku ajar, salah satunya dikarenakan buku tersebut tidak memiliki daya magnet ketertarikan sehingga sukar membangkitkan selera pembaca membacanya.


Berdasar pengalaman pribadi, saya pun merasa malas berkunjung ke toko buku merogoh kocek sendiri membeli buku-buku ajar anjuran dosen. Tapi apa boleh buat, jika tak membeli buku itu dosen pun enggan memberi nilai A pada mahasiswanya. Padahal, perkara beli buku ajar atau tidak, bagi saya, itu tergantung pada menarik tidaknya kemasan buku itu. Buku ajar, sungguh membuat saya tutup mata membacanya. Melotot judul bukunya saja terbayang kalau buku ajar itu berat, tak mudah dicerna. Ditambah dengan gaya bahasa tulis yang linear tak dikemas populer yang kering sisipan cerita-cerita inspiring.


Hakikatnya, membaca bukanlah amal mengerutkan kening. Demi mewujudkan buku ajar yang menyenangkan, mudah, serta asyik dibaca, Depag (Departemen Agama) RI mengadakan lomba membuat “Buku Pelajaran yang Mencerdaskan”. Buku yang mencerdaskan tersebut khusus diperlombakan yang ditujukan kepada siswa Madrasah Aliyah (MA). Sebuah langkah terobosan baru kategori buku ajar agar siswa betah berjam-jam saat membacanya.


Prof Yohanes Surya, Ph D —juri lomba penulisan buku ajar bidang fisika—, saat diwawancara di Tabloid Republika “Dialog Jum’at” (01/02/2008) mengenai lomba yang diselenggarakan Depag RI itu, ia pun merespon baik. “Buku pelajaran yang mencerdaskan ialah buku yang dapat membuat anak-anak belajar jadi asyik, mudah, dan menyenangkan. Sehingga belajar tidak lagi menjadi sangat sulit. Contoh saja fisika, ketika orang mengatakan fisika maka yang terbayang di kepala mereka adalah rumus. Hal ini yang seharusnya kita ubah.”


Sebagai ilmuwan pakar fisika, Prof Yahanes Surya pun paparkan cara penyusunan buku-buku fisika agar tak melulu memuat rumus. Ia menitik pentingkan ulasan ilmu fisika bukan tergantung pada rumus, melainkan konsep. Karena itu, peran rumus dapat diganti dengan logika. Ia mencontohkan: “misal ada suatu benda dengan kecepatan lima meter per detik. Berapa jaraknya dalam lima detik. Untuk menjawab ini, cukup dengan logika. Lima meter per detik berarti dalam satu detik benda tersebut bergerak sejauh lima meter. Kalau lima detik, tinggal dikali saja dengan lima. Tidak perlu rumus apapun.”


Menulis buku tak segampang yang diterka oleh banyak orang, utamanya buku ajar. Orang sukses menulis buku hingga meraup keuntungan besar, mesti dibarengi dengan proses membaca yang sangat meletihkan. Namun, sepelik apapun persoalan bila ditangani serius segera temukan penyelesaian.


Tilik misalkan pada tahun 1962, sebuah buku yang berjudul Silent Spring (Musim Semi yang Sunyi) berhasil mengguncang dunia. Dalam waktu singkat buku itu laku 500.000 eksemplar. Sedangkan penulisnya, Rachel Carson ditentang oleh para industri pestisida. Mengapa? Sebab buku itu melukiskan betapa sunyi bumi ini bila semua unggas dan serangga mati akibat disemprotkannya racun di lahan-lahan pertanian. Masyarakat tergugah. Tetapi pabrik-pabrik insektisida, pestisida, serta racun-racun lainnya marah. Beribu dolar dihabiskan guna melancarkan kampanye bahwa, Rachel Carson keliru. Penulis itu dianggap orang histeris yang dungu. Tapi hasilnya, ia malah mendapat berbagai macam hadiah. Kini kita mengenal Rachel Carson sebagai pahlawan yang menyulut maraknya gerakan pelestarian lingkungan.

Buku ajar tak hanya memberikan kebijaksanaan, tapi juga mendorong dilakukannya kebajikan. Dalam perbuatan baik inilah termuat keterampilan, kemampuan dan kemauan untuk melakukan tindakan nyata. Buku ajar tentang laut dan gunung, membuat pembacanya tergerak untuk menyatakan cintanya pada alam. Buku pelajaran ekonomi menolong pembacanya mempraktikkan sistem manajemen, kesadaran akan pentingnya pembiayaan dan pertumbuhan. Termasuk juga untuk buku budi-pekerti, pelajaran agama, petunjuk olahraga, memasak, dan ilmu komputer. Idealnya, buku ajar mampu meletakkan pembacanya ditengah konstelasi dan konfigurasi dunia yang terus menerus berubah.

Rabu, Maret 19, 2008

Ayat-ayat Cinta & Tuhan sebagai Komoditas


Esei A. Qorib Hidayatullah*

*penikmat sastra, kerani Komunitas Sandal Jepit


Stok tema soal cinta tak bakal habis diulas. Tema yang satu ini memiliki daya aktual kuat yang didesain khusus mampu berkompromi dengan setiap limit waktu dan ruang. Sifat kekekalan cinta memberi peninggalan ‘rasa’ yang bersemayam di lubuk hati terdalam. Tak dinafi’kan, rasa mencintai merupakan fitrah alamiah tiap-tiap orang.


Kelenturan rasa cinta yang kerap menjadi ‘bunglon’ atas apapun, menyeretnya berubah ‘barang’ dagangan yang bebas dikonsumsi ramai-ramai oleh publik. Kiranya betul bila penyanyi tersohor tanah air ini mengalegori ‘cinta tak kenal logika’, menyebabkan tema cinta mudah menghipnotis para penghambanya. Tema cinta berhasil mengebiri kecanggihan rasio takluk akan buaian romantisme alpa. Tema cinta kini telah dikosmetika secantik mungkin menjadi budaya massa.


Tak dapat ditampik bila para penghamba cinta sekaligus penjilat kapital, tak ambil pusing untuk menyiasati komoditasnya laku keras di pasar, cukup dibumbui dengan kekuatan rasa cinta. Misalnya Habiburrahman El-Shirazy, lewat novel Ayat-Ayat Cinta-nya sejak 2004 hingga akhir 2007 mencapai rating penjualan 400.000 eksemplar. Novel ini mengalahkan angka penjualan karya Asma Nadia (Catatan Hati Seorang Istri), Langit Kresna Hariadi (Gajah Mada), Muammar Emka (Jakarta Undercover), Andrea Hirata (Laskar Pelangi dan Edensor). Bayangkan, saban sebulan alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu menerima royalti sekitar Rp 100 juta. Gila! Tak puas dengan itu, tangan serakah kapital yang lain akhirnya menggubah novel tersebut menjadi film. Film Ayat-ayat Cinta (AAC), yang diledakkan pada pengujung Februari silam.


Film garapan sutradara Hanung Bramantyo itu mencetak fenomena terbaru industri perfilman Indonesia. Dalam pekan pertama pemutarannya di bioskop, AAC mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Disinyalir Harian Kompas (02/03/2008), Manoj Punjabi, produser AAC, memberi kepastian bahwa di gedung-gedung bioskop yang memutar film itu serentak sejak 28 Februari 2008. Pada saat itupun, gedung-gedung bioskop dijubeli penonton mengular hingga kapasitas tempat duduk terisi di atas 95 persen.


Di samping film itu fenomenal, juga memberi pembuktian kesuksesannya yang ditakdirkan sama seperti capaian keberhasilan novel yang mengeruhinya. Ternyata, tenunan sebuah dongeng cinta nuansa religi —yang mengundang derai air mata sehabis menontonnya— mampu menyaingi film berkisah horor serta roman ABG. Selera masyarakat yang keranjingan akan cerita cinta religi gesit dibidik pemain kapital guna meraup keuntungan besar. Untuk tayangan perdana, MD Pictures yang dipimpin Manoj menggandakan pita film itu hingga 100 copy, sebuah angka fantastis sekaliber film nasional. Rata-rata film Indonesia lazim hanya dicetak berkisar 10-20 copy. Bahkan film-film utama Hollywood pun paling banyak dicetak 65-70 copy.


Kesuksesan besar AAC yang mendulang apresiasi hangat dari masyarakat, tak melunasi rasa misteri penasaran akan kisah cinta yang ditawarkan film tersebut. Dongeng kisah cinta klasik yang menjadi nyawa film itu kerapkali membikin diri hendak mual. Alur cinta yang sangat menyehari dan jauh panggang dari api terjadi pada diri seseorang, semakin memperjelas hal klise film garapan sutradara sekaliber Hanung Bramantyo. Hanung kentara betul menyengaja diri siap dicaci-maki perkara mempertaruhkan seorang lelaki yang dicintai empat wanita dan ia harus menentukan pilihannya. Di lanskap inilah kecerdikan Hanung dapat dibilang berhasil mengibuli penonton. Sebuah film yang mampu menyedot penasaran ibu-ibu anggota pengajian.


Lelaki itu adalah Fahri bin Abdillah (diperankan Fedi Nuril), seorang mahasiswa S-2 asal Indonesia yang kuliah di Universitas al-Azhar, Cairo, Mesir. Ia anak seorang penjual tapai yang polos, sederhana dan sangat taat beragama. Perihal jatuh cinta, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam hidupnya dan pacaran adalah sesuatu yang dilarang menurut keyakinan agamanya.


Proses pemanjaan pun terjadi, buru-buru empat wanita malah jatuh cinta kepada Fahri. Mereka adalah Nurul (Melanie Putria), mahasiswa dari Indonesia yang menjadi teman dekat Fahri di kampus. Kemudian ada Maria Girgis (Carrisa Puteri), gadis Mesir tetangga se-apartemen (Flat) dan sekaligus sahabat dekat Fahri, beragama Kristen Koptik, tetapi mempelajari serta mengagumi al-Qur’an. Sosok ketiga adalah Noura (Zaskia Adya Mecca), seorang perempuan Mesir yang terpisah dari orangtuanya dan jatuh ke tangan seorang penjahat (Bahadur) dan suatu hari ditolong Fahri. Terakhir adalah Aisha (Rianti Cartwright), perempuan berdarah Jerman-Turki yang terkesan saat bertemu Fahri kali pertama di sebuah kereta api.


Sementereng apapun film itu, selera pos-modernisme mengajarkan boleh mencicipinya secara bebas. Kalau hasil mencicipi dirasa tak enak, selera pos-modern absah mencemo’oh ataupun memaki habis film tersebut. Misalkan adegan saat Maria mendaras surat Maryam (al-Qur’an) di sebuah bus dengan aksentuasi nada subal. Ditambah saat Fahri mengaji yang dihaturkan kepada gurunya (Syekh Usman), kentara sekali suaranya yang tak asli. Cacat kecil seperti ini mengganggu kenikmatan penonton menonton film yang batal shooting di Mesir karena terbentur biaya rumah produksi lokal yang mahal (mencapai Rp 15 miliar).


Yang paling menarik diamati di balik keberhasilan film bertemakan populer-religi, semisal AAC, menandakan bahwa masyarakat Indonesia kini pada suka —meminjam judul esai Danarto dalam Horison Esai Indonesia, Kitab 2—, “Menjual Tuhan dengan Harga Murah”. Wujud linearitas selera filmis masyarakat Indonesia yang menjadikan Tuhan sebagai komoditas. Sifat mematung-bisunya Tuhan dijadikan lahan eksploitasi tangan serakah kapital guna meraup laba besar. Tuhan tak banyak berontak dalam hal ini…

Di Balik Kemegahan Kota Terlarang


Judul Buku : Empress Orchid

Penulis : Anchee Min

Penerbit : Hikmah Jakarta

Cetakan : I, Januari 2008

Tebal : xvii + 595 Hal

Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*



Cerita fiksi (novel) tak melulu merekam kehidupan hampa. Selain menimbun nilai estetis, novel juga berseru lirih ihwal kekejaman hidup. Anchee Min lewat karyanya, Empress Orchid ini cakap bertutur perkara ‘kekuasaan’ di era Dinasti Ch’ing.


Syahdan, Dinasti Ch’ing sudah tak dapat diselamatkan lagi sejak Cina dikalahkan Inggris Raya dan sekutunya dalam perang Candu. Lahirlah seorang gadis desa di tahun Kambing dari klan Yehonala yang hidupnya ditakdirkan memiliki kekuatan meski ia lebih awal kudu taklukkan rintangan. Para peramal menujumkan gadis yang lahir di tahun Kambing akan tumbuh besar menjadi kambing yang keras kepala dan berakhir menyedihkan. Untuk menepis nasib sial gadis itu, peramal memberinya nama Anggrek.


Anggrek adalah wanita menawan serta lentur. Berkat kemenawanannya, saat Kaisar Hsien Feng mengaudisi selir muda yang diikuti ribuan wanita cantik, Anggrek terpilih menjadi salah satu istri dari tujuh istri Kaisar Hsien Feng. Sejak menjadi selir muda, Anggrek meninggalkan keluarganya dan bermukim di Istana Anggrek yang berada di Kota Terlarang. Disamping itu Kaisar menyiapkan istana-istana khusus bagi istri-istrinya, misalnya, Istana Nuharoo, Istana Putri Soo, Istana Ibu Suri, Istana Putri Mei, Istana Putri Hui, Istana Putri Yun, serta Istana Putri Li.


Di balik tekstur dan warna megah Kota Terlarang, Anggrek ditemani kasim An-te-hai. Kasim An-te-hai memberitahu seluk-beluk serta mengajari tindak-tanduk Anggrek di Kota Terlarang. Bukannya tanpa alasan kasim An-te-hai dipilih Anggrek untuk mendampinginya. Kasim An-te-hai yang lincah, cerdik, piawai, dan berpengalaman luas tentang keadaan Kota Terlarang menjadi pertimbangan Anggrek memilihnya. Berbekal kecerdikan, An-te-hai berjasa besar atas popularitas Anggrek di Kota Terlarang. Strategi mapan dan rapi dari An-te-hai, Anggrek mendapat perhatian lebih dari Kaisar Hsien Feng menyaingi ratu Nuharoo. Yang pada akhirnya, Maharani Anggrek menjadi kaisar perempuan yang paling lama berkuasa di Cina. Seorang gadis desa, Putri Yehonala yang cantik itu manapaki kekuasaan lewat rayuan, intrik politik, serta pembunuhan. Saat Cina terancam oleh musuh dari luar, tampaknya hanya Maharani Anggrek yang mampu menyatukan negeri tersebut. Seorang perempuan yang berhasil bertahan dan akhirnya mendominasi dunia laki-laki.


Semakin keujung menikmati cerita novel ini, ternyata para lelaki di istana berusaha mengesankan satu sama lain atas kecerdesan mereka. Titah perintah Maharani Anggrek dalam istana mengalami pertarungan tiada henti dengan para penasihat yang ambisius, dan para menteri yang penuh tipu muslihat.


Kisah Maharani Anggrek berkonotasi kisah kelam. Di Cina, anak-anak belajar bahwa runtuhnya setiap Dinasti selalu disebabkan kesalahan seorang selir. Hukuman mati yang dijatuhkan pada seorang selir menjadi justifikasi kesalahannya. Misalkan, kisah Madame Mao yang dihukum mati, sementara suaminya dianggap sebagai George Washingtonnya Cina. Kisah yang melekat hingga kini, sang Maharani harus bertanggung jawab atas kehancuran peradaban Kekaisaran Cina yang berumur dua ribu tahun.


Anchee Min lewat karyanya ini tampak presisif betul menampilkan detail kisah nyata. Beragam riset dilakukan, misalnya, Min meneliti tak melulu dokumen yang ada di Kota Terlarang, pun juga catatan medis, keuangan, dan data kepolisian, seperti halnya riset yang luas untuk bukunya, Becoming Madame Mao yang bestseller itu.


Selain itu, sebelum menggubah novel ini, Min menekuni bacaan tentang kehidupan para kasim, pelayan, guru-guru istana, para sedadu Kekaisaran, dan buku panduan sang Maharani tentang makanan serta tetumbuhan obat. Min mengaku, dirinya bisa mengakses dokumen-dokumen asli yang dijaga ketat pejabat Beijing itu dibantu oleh segelintir orang lewat “jalan belakang”. Al-hasil, buku inipun akhirnya dinobatkan sebagai A san Francisco chronicle best book of the year.


Senin, Maret 03, 2008

Membela Kaum Miskin Tabah Bencana


Judul Buku : Kagum Pada Orang Indonesia

Penulis : Emha Ainun Nadjib

Penerbit : Progress

Cetakan : I, Januari 2008

Tebal : 56 Halaman

Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*




Meski banyak orang pesemis pada bangsa Indonesia, Emha Ainun Nadjib (akrab di panggil “Cak Nun”) malah merayakan optimisme bergelimang harap. Tahun 1998, penyair Taufik Ismail menggarit puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”, sedang Cak Nun pada 2008 menggubah buku “Kagum Pada Orang Indonesia”. Wujud filantropi budayawan, Cak Nun, mengipasi bara ketegaran rakyat saat centang perenang dan banjir problem tiba.


Cak Nun, --budayawan kelahiran Jombang Jatim itu--, terlihat sangat gigih meninggikan anten kepekaannya akan penderitaan masyarakat miskin tabah bencana. Ia menghayati betul tamsil yang diukir Elie Wiesel, novelis peraih Nobel Perdamaian dalam memoar Night (1958): “Pada saat Adam dan Hawa mengkhianati-Mu, Tuhan, Kau usir mereka dari Taman Firdaus. Saat dikecewakan generasi Nabi Nuh, Kau datangkan air bah. Saat kota Sodom dan Gomorah tak lagi menjadi kesayangan-Mu, Kau buat langit memuntahkan kutukan hujan api. Tapi lihatlah para korban yang nasibnya bagai beras sedang diayak dan ditampi ini. Mereka bersimpuh dihadapan-Mu. Mereka memuji kebesaran-Mu.”


Buku ini, Kagum Pada Orang Indonesia, merupakan kumpulan sembilan esai panjang Cak Nun yang sebelumnya sempat nangkring di beberapa koran. Lewat buku ini pulalah, Cak Nun, membesarkan hati rakyat Indonesia yang kini temukan rona kemurungannya. Betapa rakyat saat ini sukar memiliki zona untuk tentram, damai, serta makmur sejahtera. Rakyat kerap ketiban sial, kiriman bencana atau musibah tak henti-henti menghantam kehidupan rakyat Indonesia baru-baru ini.


Renungan Bencana

Bangsa Indonesia memanglah bangsa yang hidup dinegeri kaya akan bencana alam. Aceh, Nias, dan Pengandaran digulung Tsunami. Yogyakarta dan Klaten diterjang gempa. Sidoarjo direndam bencana korporasi-birokratik lumpur panas Lapindo tak usai-usai. Halmahera diguncang gunung meletus. Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat disapu banjir bandang justru dimusim kemarau sedang menggila diseantero wilayah Nusantara. Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Mentawai, dan Blitung, tak lepas disatroni lindu. Hingga kawasan Tapal Kuda (pantai utara Jawa), Situbondo dan Bondowoso pun diterjang banjir bandang pekan silam.

Ditengah keporakporandaan puing-puing bangunan yang melibas, dan hamparan ketakpastian yang harus dijalani para masyarakat korban, tugas manusia antar sesama, bagaimana ia mampu menarasikan penderitaan yang ditempa oleh masyarakat korban. Memberi wujud narasi penyelesaian sehingga mengurangi kesedihan masyarakat korban. Setiap narasi mesti temukan alur akhir. Mengakhiri kesedihan rakyat korban bencana dengan ketegaran dan kebahagiaan.


Alam sendiri bukanlah makhluk hidup yang bisa memperbaiki kerusakan sel-sel dalam tubuh. Tersirat dalam al-Qur’an bahwa, kerusakan alam juga tak lepas sebab ulah tangan jahil manusia. Dengan begitu, manusia yang hidup diatas permukaan bumi yang harus mencegah agar daya rusak ekologi tak semakin parah.


Disinilah pemantik kesadaran Cak Nun, dia langsung terjun mengadvokasi masyarakat korban di lapangan. Lewat mengisi acara pengajian yang diadakan di wilayah-wilayah korban, iapun berseru kepada masyarakat agar tegar hadapi bencana. Cak Nun siap bersama rakyat melawan bila ada pihak-pihak yang mengail di air keruh berbisnis penderitaan manusia.


Wujud optimisme Cak Nun: “Kendati Indonesia terus-menerus dihantam bencana (kaya bencana), bangsa inipun memiliki berkah turah kekayaan alam melimpah ruah. Semuanya ada di bumi pertiwi ini. Tak ada bangsa di dunia yang kewajiban rasa syukurnya kepada Tuhan melebihi bangsa Indonesia.” Hal itu tentu tak lepas, sebab rahmat, kasih sayang, perhatian, dan berkah Tuhanlah yang menganugerahkan kepada bangsa Indonesia jauh melebihi bangsa-bangsa manapun di dunia. Tapi untuk saat ini, kekayaan Indonesia dihabisi oleh persekongkolan elite politik dan birokrasi bangsa untuk kepentingan pribadi.


Ironi, bangsa (Indonesia) bergelimang kekayaan, namun rakyat masih didera kemiskinan kritis. Manusia Indonesia sudah miskin, ditambah lagi tak henti-henti digilas oleh bencana dahsyat. Sungguh kompleks derita rakyat Indonesia bila hingga kini masih belum mampu melepaskan kerangkeng tragika hidup miskin yang padat bencana. Ditengarai kesigapan pemerintah dalam penanganan bencana, bila status bencana dinaikkan menjadi bencana nasional. Bukankah meski satu korban pun, perlu kita bantu selekas mungkin?


Peluang harap datang, saat kita dapat memaknai aforisma ‘Jasagen’ Nietzsche --filsuf yang membuka pintu gerbang posmodernisme itu--, “Meski hidup bisa menjadi sangat sulit, mengecewakan dan bikin gila, satu-satunya jalan adalah terus mengatakan “ya” kepada apa yang menggerakkan jiwa”. Nietzsche hendak menampik sejarah kegagalan yang membikin manusia bertekuk lutut menyerah pada nasib.


Guna mendapat empati masyarakat luas atas kondisi masyarakat miskin tabah bencana, Cak Nun lewat bukunya ini berseru mirip Rabindranat Tagore: “Bukalah mata tuan dan lihatlah. Di mana petani meluku tanah yang keras. Di mana pembuat jalan memecah batu. Disitulah Tuhan. Tuhan bersama petani dan kuli berpanas dan berhujan. Turunlah ke tanah berdebu itu, seperti Dia. Beranjaklah dari samadi dan hentikan nyala setanggi. Meski pakaian tuan usang dan kotor. Cari dan tolonglah dia dalam bekerja, dengan keringat di kening tuan”.


Buku ini berbasis menggugah ruh filantropi (filos ‘cinta’, antropos ‘kemanusiaan’), berwujud cinta kasih akan kemanusian. Membacanya, membikin nurani terketuk hendak lekas berbuat sesuatu terhadap kaum miskin tabah bencana. Tak cukup hanya meratap sedih bila mendapati kaum miskin tabah tuna daya digempur bencana.


Sejarah Media dan Industri Kematian


Oleh: A. Qorib Hidayatullah


Tak banyak yang diharapkan dihari itu. Seluruh sudut terkecil kota lengang, sepi, bercampur getir. Suasana itu konstruk media yang over gembar-gembor kematian H.M. Soeharto, mantan Presiden ke-2 RI. Minggu, 27 Januari 2008, Bapak Pembangunan tersebut mangkat selamanya keharibaan Tuhan. Seluruh media, baik elektronik maupun cetak berebut informasi saling mengup-date berita kematian Soeharto.


Dalam kolom-kolom media cetak tak kosong dari ulasan-ulasan obituari. Di TV beragam program reportase kematian Soeharto ditayangkan. Ada yang wawancara langsung kepada tokoh politik (Amin Rais), budayawan (Cak Nun), hingga aktivis mahasiswa 1998 (Fadjroel Rahman), dan banyak lainnya.


Selain itu, pampangan iklan disetiap media cetak maupun elektronik saling berdesakan untuk dimuat. Iklan tersebut terlansir bukan ihwal komersial produk atau promosi barang, melainkan iklan yang berisi garitan kalimat belasungkawa pada penguasa orde baru selama 32 tahun memimpin bangsa Indonesia.


Bahkan, salah satu media cetak terlengkap, Kompas 28 Januari 2008, yang memiliki slogan “Lintas Generasi” itu menyediakan edisi khusus laporan kematian Soeharto. Pembaca setia Kompas pada hari itu disuguhi hingga nyaris “muntah” akan berita kematian Soeharto.


Rubrik opini Kompas pun, dikolom paling atas tergambar kartun Soeharto. Disana tertera kartun ilustratif yang apabila ditangkap pesannya: “Pak Harto mengangkat tangan laiknya hormat kepada SBY, seraya berbicara ‘selamat tinggal Indonesia, selamat tinggal sanak-saudara, selamat tinggal anak cucu’.” Kolom Tajuk Rencana pun ditiap-tiap media dihiasi peristiwa mangkatnya Soeharto.


Simak misalkan, opini Kompas (28/01/2008) mengulas kematian Seoharto. “Merenungi Kematian”, tulisan A Sudiarja (Dekan Fak. Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta) membikin saya terkesan. Tulisan opini itu menggambarkan betapa wajar bila seseorang mati ditaburi bunga Tulip, sebab “Bunga Tulip itu hidup”, kata Hideo kepada Takichiro (dalam novel Yasunari Kawabata, The Old Capital —1962—).


Meski media membombardir berita kematian Soeharto, saya tak terlalu banyak mengikutinya. Pikir saya, itu sudah keterlaluan. Media ditengarai mereduksi inti kematian yang lazimnya direnungi dan diratapi. Seakan peristiwa kematian menjadi lahan basah sebagai “industri kematian” bagi media dengan meraup keuntungan nan fantastis. Iklan belasungkawa pada Soeharto yang nangkring dimedia, kalau dibaca dari segi profit, jelas akan memberi untung besar pada media tersebut.

Selasa, Februari 19, 2008

Mengenang Soeharto dalam Cerpen Indonesia


Oleh: A. Qorib Hidayatullah



Haji Muhammad Soeharto telah berpulang selamanya, menghadap keharibaan Tuhan Yang Mana Esa. Minggu, 27 Januari 2008 jam 13.10 WIB adalah hembusan nafas terakhir mantan Presiden kedua RI itu meninggalkan seluruh rakyat bumiputra. Kala resonansi medis berhenti, tak bergetar lagi, pertanda nyawa hengkang dari jasad manusia. Tak satupun relikui kehidupan dibawanya menuju liang lahat, tempat persemayaman terakhir.


Ada silogisme (hukum penalaran) yang meniscayakan kematian: “Semua manusia mati. Socrates manusia, Socrates mati.” Kematian! Siapakah yang mampu menampiknya? Tak seorangpun –-juga sang patriarkh yang dielu-elukan oleh begitu banyak manusia itu. Hanya derap serempak ungkap ratap: “Selamat jalan Pak Harto.” Rest in peace…


Pak Harto saking lamanya memimpin bangsa ini, 32 tahun, memagnet pesastra mendedah ihwal “kekuasaannya” dalam cerita pendek. Antologi cerpen yang berjudul “Soeharto dalam Cerpen Indonesia” yang diterbitkan Bentang, 2001, dengan penyunting naskah M Shoim Anwar. Cerpen tersebut merupakan hasil gubahan kolektif dari sastrawan andal tanah air: YB Mangunwijaya, Seno Gumira Ajidarma, Taufiq Ikram Jamil, F Rahardi, Joni Ariadinata, Indra Tranggono, M Fudoli Zaini, Jujur Prananto, Agus Noor, Sunaryono Basuki KS, Bonari Nabonenar, Moes Loindong, dan Troyanto Triwikromo.


Di cover muka buku Soeharto dalam Cerpen Indonesia itu, terilustrasi bahwa Soeharto adalah seorang raja Jawa, yang sarat dengan atribut kebesarannya, duduk diatas singgasana, berpose stereotip yang memancarkan kekuasaan.


Secara jujur, Soeharto tergolong tokoh yang sangat penting dalam preseden sejarah Indonesia. Ia mampu mempersatukan sekian ratus kelompok etnik dan kebudayaan menjadi suatu republik yang disegani, pastilah tak lepas dari strategi pengaturan kekuasaan yang hebat dari seorang Jendral Besar tersebut. Kekuasaan sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang terbentuk selama pemerintahan Soeharto tidak hanya terasa dilapisan atas, tetapi sampai ke lapisan masyarakat yang paling bawah (grass root).


Situasi yang diciptakannya itu pasti saja menimbulkan korban, sebab tidak pernah ada keadaan yang tidak memakan korban. Dalam zaman-zaman sebelumnya dinegeri kita ini juga banyak yang dikorbankan demi berlangsungnya kekuasaan. Jika yang menjadi korban itu mampu menyusun kekuatan, dan jumlahnya semakin besar, kecenderungan yang kemudian timbul adalah penumbangan kekuasaan.


Sejarah, konon, akan terus berulang sehingga ada baiknya jika kita belajar dari sejarah. Sejarah, kata para sejarawan, ditulis oleh pihak yang menang. Dan sastrawan ternyata bukan sejarawan yang mengikuti keyakinan itu. Sastrawan “hanya” memberikan tanggapan terhadap apa yang terjadi disekitarnya, sekaligus memberikan penilaian pribadinya.


Soeharto, seorang Jawa yang menjadi “raja Jawa” di Indonesia, yang sekaligus juga memberi konotasi kekuasaan dan kesewenang-wenangan. Sikap kepemimpinannya yang terakhir itu (“sewenang-sewenang”), membikin semakin banyak yang tertindas dan semakin luas kekuatan yang menentangnya.


Dalam masyarakat dimanapun, sastra mempunyai fungsi yang tidak pernah tunggal. Jika pantun bisa menjadi sarana menghubungkan manusia dengan intelegensia abadi dalam hati, sastra boleh dipergunakan untuk menyebarluaskan agama, menggambarkan cinta kasih, mengungkapkan perasaan remaja, menggoda kita untuk tertawa, bahkan sekadar mengajak kita bermain-main. Dan tentu saja, sastra juga untuk menyampaikan kritik dan kemarahan terhadap segala sesuatu yang terjadi disekeliling kita.


Nada cerita Soeharto dalam Cerpen Indonesia, memotret “kekuasaan” Soeharto dari satu sisi, yang pada taraf tertentu seragam. Antara lain tentu karena keyakinan bahwa sastra memiliki fungsi untuk membela kaum miskin tabah tuna daya (tertindas). Atau bisa juga dikatakan bahwa strategi Soeharto dalam mempertahankan kekuasaannya berhasil, antara lain dengan cara memaksakan cara berpikir seragam kepada rakyat.


Itulah menurut keyakinan sementara orang tentang hakikat kesusastraan. Kita tahu, dalam banyak karya sastra klasik para sastrawan bahkan menggubah fiksi mengenai asal-usul raja yang kemudian oleh rakyat banyak dianggap sebagai fakta. Mungkin sekali para penulis cerpen dibuku itu tidak secara langsung menciptakan fiksi tentang Soeharto. Apa yang diciptakan oleh para penulis cerpen tersebut tentu saja bisa ditujukan terhadap rezim jenis apa saja, disini maupun negeri lain.


Setidaknya dalam kumpulan cerpen itu muncul kesan bahwa segala sesuatu yang terjadi di Indonesia ini, meminjam kata pengantar editornya (M Shoim Anwar), “Soeharto-lah yang harus bertanggung jawab.” Kemudian muncul kecenderungan dikalangan para sastrawan untuk membela para korban kekuasaan. Selama kekuasaan itu masih belum tergoyahkan, para sastrawan mencari berbagai cara untuk menyiratkan atau “menyembunyikan” kemarahan dan kejengkelannya dalam berbagai bentuk, simbolik maupun metaforik. Sastra dijadikan mesiu perlawanan.


Dalam sejumlah cerpen yang umumnya sudah mencapai taraf komposisi yang menarik, kita menyaksikan proses pengabadian suatu rezim, dan karena hakikat sastra, Soeharto pun menjadi sosok kekal. Meski, di cerpen itu kita tidak mendapati nama mantan Presiden kedua RI itu. Yang ada hanya simbolisasi “kekuasaan” Soeharto yang memberi ruh besar dalam karya cerpen tersebut.


Kendati pun, kita (rakyat Indonesia) memiliki kesan beragam cara mengenang Bapak Pembangunan yang telah tiada itu. Bagi para aktivis gerakan demokrasi yang menjadi korban kebijakan represif di era Orde Baru, Soeharto dikenang sebagai tokoh diktator. Namun, bagi sejumlah pejabat di era kepemimpinannya, Soeharto adalah pejuang dengan jasa besar.


Alangkah baiknya kita menyimak garitan puisi gubahan Sapardi Djoko Damono, “Ziarah”, 1969: dengan kaki telanjang; kita berziarah/ke kubur orang-orang yang/telah melahirkan kita//Jangan sampai mereka terjaga!/Kita tak membawa apa-apa//Kita tak membawa kemenyan atau pun bunga-bunga;/kecuali seberkas rencana-rencana kecil (yang senantiasa tertunda-tunda) untuk/kita sombongkan kepada mereka.


Pada akhirnya, tidak pernah ada malaikat diantara kita. Kini pemimpin itu telah pergi meninggalkan kita semua. Bagaimana bangsa ini mengubah persepsi menjadi visi. Mengatasi keduniawian dengan kesejatian. Menggeser hadirin dari kepala ke nurani mereka. Kekurangan yang dimiliki Pak Harto tak harus menghapuskan kelebihannya.


Sabtu, Februari 02, 2008

Mengakrabkan Sastra Kepada Tuhannya


Judul Buku : Nabi Tanpa Wahyu
(Esei-esei Sastra Perlawanan)
Penulis : Hudan Hidayat
Penerbit : Pustaka Pujangga Lamongan
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xii + 218 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*



Bertumpu pada kesadaran tertingginya, manusia akan mewujud melebur kedalam huruf, kata, hingga kalimat-kalimat. Manusia dapat bebas tentukan langgam tema karya sastra yang ia hasilkan. Menembus kanon sastra menjadikannya lentur. Memagnet pesastra pemula asyik-masyuk bergelut dengan dunia sastra yang tak lagi garang penuh aturan. Sehingga, terengkuh energi kreatifitas yang tak melulu membincang ihwal “langit” dari sumber tunggal (simbol agama). Serasa gawat, bila ada pemasungan kompleksitas dunia pada satu ruang agama formal.


“Bila Tuhan menubuh pada dunia, dan ruh menubuh pada badan manusia, maka kesadaranlah menubuh pada kata-kata.” Begitulah garitan kalimat mukaddimah gubahan Hudan Hidayat (HH) “Kredo Seni di Atas Kredo Puisi” dalam buku ini. Kata-kata adalah ruang bagi kesadaran untuk berdiam mengeram. Karena itu kata-kata memang alat untuk menampung kesadaran.


Nabi Tanpa Wahyu HH memuat 26 esai sastra perlawanan. HH mengajak kita (utamanya penulis sastra pemula) agar bebas temukan kemandirian genre sastra yang mengeruhi karya sastra kita kelak. Garis bernas esai HH menyiratkan bahwa beragam rute jalan mengakrabkan sastra kepada Tuhannya. HH berani berpolemik panjang nan meletihkan, demi perjuangkan kemerdekaan ekspresi tuangkan imaji.


Tamsil menggugah HH: “Dengan mengabarkan kesyahduan dan kegilaan, sisi kemanusiaan menjadi lengkap, orang bisa berkaca padanya untuk menggenapkan kehidupan. Orang bisa berkaca padanya untuk sampai pada kebajikan.” Disini HH berusaha tidak menutup sebelah mata dalam melihat realitas keduniawian. Hidup seseorang dipandang HH secara fair, mesti mutlak mengandung nilai baik dan buruk. Sastra, diharap HH tak hanya menampilkan yang baik-baik saja dari manusia. Sastra tak hanya berkutat pada wilayah estetis an-sich, berbalik jauh melampaui, sastra sebagai mesiu mengetuk hati nurani, mengakui kemunafikan.


Bermula dari Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail didepan Akademi Jakarta (2006), yang menyuarakan moral agama dalam sastra. HH menganggap pidato tersebut bukan hanya menyerang sastra dan seni, tapi lebih memporak-porandakan hidup itu sendiri. Taufiq Ismail melancarkan serangan stigmatik sastra: sastra SMS --sastra mazhab selangkangan-- atau sastra FAK --Fiksi Alat Kelamin—(Jawa Pos, 17 Juni 2007).


Itulah pemantik polemik HH dengan tuan Taufiq. Hingga esai ini digubah, tak lain adalah wujud dialog sehat tentang “nasib sastra”. HH hendak mendedah kredo sastra yang dikunci rapat-rapat oleh tuan Taufiq. “Terasa bagi saya serangan balik tuan Taufiq sangat mematikan. Dengan semangat anti-dialog dan anti-wacana, Taufiq seolah petinju yang memukul lawannya secara ‘kalang-kabut’. Dalam SMS-nya pada saya, Taufiq menyebut tentang ‘kebakaran budaya’, yang penyebabnya antara lain sastra SMS atau sastra FAK.”


Basis tuduhan Taufiq Ismail membikin kategori sastra SMS atau sastra FAK, langsung membidik jantung karya sastra dari beberapa pesastra, sebut misalkan: Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Fadjroel Rachman, Muhidin M. Dahlan, Hudan Hidayat, serta Mariana Amiruddin. Karya Ayu Utami ‘Saman’, cerpen Djenar Maesa Ayu ‘Menyusu Ayah’ di Jurnal Perempuan atau ‘Melukis Jendela’ di Majalah Horison, cerpen Mariana Amiruddin ‘Kota Kelamin’ di Jawa Pos, dsb.


Bak seamsal seorang hakim, Taufiq Ismail langsung memvonis karya-karya sastra tersebut sebagai ‘sastra cabul’ atau sastra yang membincang ‘daun surga’. Padahal kalau ditilik mendalam, menyibak makna dibalik pesan tersurat, karya sastra yang tertera diatas jauh dari klaim sepihak Taufiq Ismail.


“Membaca kedua cerpen Djenar itu memang menyebutkan alat kelamin, tapi alat kelamin itu sekadar pintu masuk untuk makna lain. Yakni, penderitaan sang anak yang menjadi korban kekerasan keluarga. Darinya menyembul simpati akan korban kekerasan. Bukan nafsu seks dalam konteks ‘sastra mazhab selangkangan’ yang dimaskud Taufiq,” ujar HH.


Begitu juga, bila membaca cerpen Mariana di Jawa Pos, Kota Kelamin. Spirit yang dibangun Mariana malah bukan hasrat seks, melainkan simpati akan manusia modern yang lelah mengatasi hipokrisi, melulu menutup rapat seolah kelamin terbalut pada tubuh manusia. Sehingga ungkap HH: “daging luar gagrak sastra seperti inilah yang ‘memfitnah’ kami sebagai motor penggerak ‘Gerakan Syahwat Merdeka’. Padahal sastra yang ditulis itu bukanlah semata ‘syahwat merdeka’. Tetapi ‘syahwat’ sebagai sampiran untuk kemerdekaan manusia (hal 11).


Dalam buku kumpulan esai ini, HH getol betul menggawangi kekebasan sastra dengan mutu argumentasi yang kokoh. Senjata ampuh HH yang dibidikkan kepada Taufiq Ismail ialah apakah ketelanjangan disana bukan sebuah ancang-ancang, untuk meraih makna kesepian atau ketuhanan? HH yakin bahwa Taufiq tidak bisa menghindar dari filsafat penciptaan dan ideologi penciptaan.


Michel Foucault (1926-1984) telah mengingatkan bahwa persepsi tentang tubuh adalah efek dari jaringan struktural kekuasaan dan pengetahuan. Tubuh mengandung metafor tempat kekuasaan memancangkan nafsu kekuasaannya sehingga melalui tubuh dapat dibaca konsekuensi perubahan-perubahan sosial sepanjang sejarah yang panjang.


Dalam ayat dari surat-Nya (QS. 7:22). Tuhan Yang Maha Imajinatif menggambarkan Adam dan Hawa telanjang, setelah melanggar. Akankah kita mengatakan Kitab Suci sebagai teks yang porno? Ketelanjangan Adam dan Hawa, ditempatkan Sang Kreator dalam bingkai sesuatu yang mengatasinya; sebagai sampiran, untuk menerobos kenyataan yang lebih tinggi. “Ketelanjangan”, dalam upaya meraih makna lebih luas, Tuhan membikin lewat peristiwa dan kata-Nya.


Nah, dari situ sastrawan dituntut melakukan tafsir dunia dan menemukan makna untuk kekayaan batin manusia. Seperti seorang ilmuwan melakukan tafsir dunia dan menemukan benda untuk kemudahan manusia. Puisi Simone Honecker “Sich Entssheiden atau Mengambil Keputusan”: Setuju tidak setuju/panas atau dingin/terserah, asal janganlah/setengah-setengah//Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak.


Berkat kerisauan Taufiq Ismail dan kelompok Saut Situmorang akan neo-liberalisme yang mewujud dalam dugaan adanya “sastra seksual”, memaksa HH membuat argumen “teologis” dalam esai ini. Menjangkau Tuhan dengan lambang dan sampiran, sehingga sastra menjadi dunia metafora yang sedap untuk dibaca. Mencerahkan manusia. HH malah khawatir, bila sastra hendak menjauh dari Tuhannya. Oh, aih aih.


Jumat, Januari 11, 2008

Belajar Sejarah dari Timbunan Cerita


Judul Buku : Rahasia Meede (Misteri Harta Karun VOC)
Penulis : E. S. Ito
Penerbit : Hikmah

Cetakan : I, Oktober 2007
Tebal : 675 Hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*








Dalam jagad fiksi belakangan ini -baik itu novel, cerpen, maupun puisi-, tak sedikit pengarang memanjakan imanijasi untuk selalu bertanya. Misalnya, Dan Brown yang piawai mengkait-kelindankan konstruksi ceritanya dengan alur hidup seniman besar, Leonardo Da Vinci, hingga novelis itu berhasil melahirkan karya adiluhung The Da Vinci Code yang menggemparkan itu. Begitu juga dengan Matthew Pearl yang membingkai kisahnya dengan kepeloporan penyair, Dante Alighieri (1265-1321), hingga sukses menggubah The Dante Club, novel yang telah melambungkan namanya dalam kancah sastra dunia.


Novel karya Es ito ini, Rahasia Meede (Misteri Harta Karun VOC), juga tidak bertolak dari semangat membingkai kisah dengan gagasan besar sebagaimana dilakukan Dan Brown dan Matthew Pearl. Pengarang muda ini, mengemas rapi kisahnya lewat sejarah kartel dagang Belanda, VOC, sejak masa awal, masa kejayaan, hingga fase kebangkrutannya, tahun 1799. Jantung tutur kisah dalam novel ini, berkisar di seputar perburuan harta karun VOC yang bermula dari kedatangan laki-laki misterius ke penginapan delegasi Indonesia untuk Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.



Syahdan, para juru runding Indonesia sedang dihadapkan pada pilihan sulit. Pihak Belanda menyodorkan klausul tentang pengalihan utang Hindia Belanda sebesar 4,3 miliar gulden kepada Indonesia. Bung Hatta sudah mencari jalan tengah, tapi para perunding tak berhasil mencapai mufakat. Orang asing itu memberikan selembar kertas lusuh pada seorang delegasi, Ontvangen maar die onderhandeling. Indonesie heeft niets te verliezen! (Terima itu perundingan! Indonesia tak akan rugi!), begitu ia berbisik.
Tentu saja Indonesia tak bakal rugi, sebab yang diserahkan laki-laki itu adalah dokumen rahasia berisi petunjuk tentang lokasi penyimpanan emas batangan milik VOC. Celakanya, dokumen itu raib, tak ditemukan di dalam peti dokumen KMB yang dibawa delegasi Indonesia. Itulah basis problem setiap rangkaian cerita dalam novel setebal 675 halaman ini.


Namun, pengarang tidak langsung menukik pada perburuan harta karun yang tertimbun selama lebih dari tiga abad itu. Es Ito malah membuka cerita dengan kasus pembunuhan berantai yang meninggalkan sejumlah tanda tanya besar.


Dalam waktu kurang lebih lima bulan, ditemukan lima mayat yang semuanya terbilang orang penting. Mayat Saleh Sukira (ulama) ditemukan Bukittinggi, Santoso Wanadjaya (pengusaha) dibunuh di Brussels, Nursinta Tegarwati (anggota DPR) dibunuh di Bangka, JP Surono (birokrat) dibunuh di Boven Digoel dan Nono Didaktika (peneliti) dibunuh di Banda Besar.
Satu selubung misteri belum terungkap, pengarang sudah merancang keterkejutan baru. Batu Noah Gultom (wartawan koran Indonesiaraya) dipusingkan oleh penculikan Cathleen Zwinckel, mahasiswi universitas Leiden yang sedang melakukan penelitian tentang sejarah ekonomi kolonial di Jakarta.


Sebelum diculik, Cathleen dititipkan oleh Prof. Huygens (pembimbingnya) di lembaga penelitian partikelir, Central Strategic Affair (CSA).
Redaktur senior Indonesiaraya, Parada Gultom, juga hilang entah ke mana. Batu hampir memastikan bahwa dalang semua peristiwa itu adalah gerakan bawah tanah yang menyebut dirinya ; Anarki Nusantara. Sebelumnya, kelompok pengacau yang dipimpin Attar Malaka itu juga dituduh sebagai otak penyerangan bersenjata dan perusakan gedung di sebelah utara Jakarta.


lewat karyanya ini, Es Ito dengan leluasa menggiring pembaca ke dalam suasana Batavia di masa gubernur jenderal Cornelis J Spellman (1682) dan sepak terjang Monsterverbond (persekutuan rahasia yang mengendalikan VOC), lalu dengan sangat tiba-tiba ia mengungkap penemuan terowongan bawah tanah (De Ondergrondse Stad) di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). Terowongan itu diduga berujung di tempat penyimpanan dokumen rahasia tentang harta karun VOC yang hilang sejak 1949.



Pada saat yang sama, Es Ito memotret suasana Jakarta hari ini, ia menyebut ‘Bis Transjakarta’, Mikrolet S-11 jurusan Pasar Minggu-Lebak Bulus dan KRL Bojongggede Ekspress. Realitas yang sangat ‘menyehari’ bagi warga Jakarta hari ini.
Terjebak pada suasana mencekam dalam cerita novel ini, ternyata Batu Noah Gultom bukanlah wartawan biasa, ia anggota intelijen militer yang menyusup di Indonesiaraya guna melacak persembunyian Attar Malaka (sebelum buron ia bekerja di sana).


Saat menyelamatkan Cathleen dari penculikan, Batu mengaku polisi bernama Roni, padahal ia adalah Batu August Mendrofa, intelijen militer dengan nama sandi ‘Lalat Merah’.
Sebenarnya, Batu tahu pelaku penculikan Parada Gultom. Redaktur senior itu ‘diambil’ oleh orang-orang suruhan Darmoko, jenderal purnatugas, pemimpin ‘Operasi Omega’ untuk membasmi antek-antek Anarki Nusantara. Parada diinterogasi untuk mengorek informasi perihal keterlibatan Attar Malaka dalam penyerangan bersenjata, perusakan gedung, pembunuhan berantai dan penculikan Cathleen.


ES Ito, pengarang buku ini, membingkai kompleksitas cerita dengan detail sejarah Batavia Tempoe Doeloe. Ada dua pilihan bagi pembaca novel ini; cerita atau sejarah? Jangan-jangan kita memang lebih gampang membangun kesadaran sejarah bila diumpan dengan sederet cerita. Belajar sejarah lewat novel sejarah. Apa boleh buat…

Mengasah Genius Keprigelan Membaca Ekologis



Oleh: A. Qorib Hidayatullah*


Sejarah ibarat gelombang pasang yang siap menggulung siapa saja. Manusia bukanlah sepotong gabus yang setelah terombang-ambing dapat dengan mudah dihempaskan ke daratan dan menjadi sampah di pantai. Sejarah tentang unggulnya harapan di zaman bergelimang daya-dera yang menggilas. Sejarah yang gagal membikin manusia bertekuk lutut menyerah pada nasib.


Membaca adalah aktivitas niscaya. Agar masyarakat tak melulu dihantam dan dirundung masalah tanpa jeda, kegiatan membaca merupakan investasi mental. Yaitu, mental genius keprigelan masyarakat menggubah bahasa sekaligus mendalami refleksi (muhasabah) dengan bersikeras hendak mengubah tragika nasib hidup ini. Reading and writing is a basic tool in living of a good life (Membaca dan menulis merupakan salah satu piranti dasar kehidupan yang berkualitas)”, ujar Mortimer J. Adler.


Ayat suci yang kali pertama lahir dari rahim kitab universal, al-Qur’an, adalah kata Iqra’ (anjuran membaca). “Anjuran” Ilahi tersebut mengandung prinsip transformasi dari setiap makhluk bumi. Transformasi yang menggugah pesona diri bersama semesta hikmah agar arif pijaki alam (baca: arif ekologis). Kompleksitas sikap: kesadaran diri, spontanitas, terbimbing visi dan nilai, berjiwa holistik, kepedulian, menghormati keragaman, independen terhadap lingkungan, berpikir mendasar, pembingkaian ulang, mengambil manfaat dari kemalangan, kerendahan hati, dan keterpanggilan, adalah muatan sikap transformasi, ketika seseorang menjadi pendengar setia “anjuran” Ilahi itu.


Lebih jauh lagi, adalah perihal penting bagi seseorang meninggikan antena kepekaan membaca kondisi alam-ekologis saat ini. Ada tamsil indah-menggugah yang diukir oleh Elie Wiesel, novelis peraih Nobel Perdamaian dalam memoar Night (1958): “Pada saat Adam dan Hawa mengkhianati-Mu, Tuhan, Kau usir mereka dari Taman Firdaus. Saat dikecewakan generasi Nabi Nuh, Kau datangkan air bah. Saat kota Sodom dan Gomorah tak lagi menjadi kesayangan-Mu, Kau buat langit memuntahkan kutukan hujan api. Tapi lihatlah para korban yang nasibnya bagai beras sedang diayak dan ditampi ini. Mereka bersimpuh dihadapan-Mu. Mereka memuji kebesaran-Mu.”


Wujud kearifan dan sikap bijak dari masyarakat pembaca (reading society) pada zaman ini, mengapresiasi secara kontekstual serta menangkap tanda-tanda zaman yang akan terjadi dan telah telanjur terjadi. Bangsa Indonesia memang bangsa yang hidup dinegeri yang kaya akan bencana alam. Aceh, Nias, dan Pengandaran digulung Tsunami. Yogyakarta dan Klaten diterjang gempa. Sidoarjo direndam bencana korporasi-birokratik lumpur panas Lapindo. Halmahera diguncang gunung meletus. Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat disapu banjir bandang justru dimusim kemarau sedang menggila diseantero wilayah Nusantara. Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Mentawai, dan Blitung pun, tak lepas disatroni lindu, serta banyak rekaman-rekaman terbaru lainnya potret bencana kekinian yang tak tersebut disini.


Membaca dan Memaknai
Alam bukanlah makhluk hidup yang bisa memperbaiki kerusakan sel-sel dalam tubuh. Manusia yang hidup diatas permukaan bumi yang harus mencegah agar daya rusak tidak semakin parah. Didalam kesedihan, ditengah keporakporandaan puing-puing bangunan yang melibas, dan hamparan ketidakpastian yang harus dijalani oleh para masyarakat korban. Proses penyelaman ke dalam diri jangan sampai membuat tenggelam dan terputus dengan dunia nyata.


Yang perlu ditekankan dalam membaca untuk memaknai ialah garis tegas introspeksi perihal nilai dan makna interaksi dengan orang lain. Membuat keputusan strategis saat kondisi mental sedang buruk, capek, dan tertekan, perlu dihindari sejak dini. Contoh baik yang dapat ditampilkan, “pada minggu pertama setelah gempa, sebelum dapur umum menyala dan persediaan bahan mentah masih langka, operasi nasi bungkus sangat membantu. Bila tidak, kelaparan bakal meluas dan anak-anak kekurangan gizi.” Kemafhuman membaca atas suatu kondisi tertentu masyarakat, sangat menjadi perihal prioritas. Sebab, salah satu manfaat membaca ialah mengaktifkan learning connection, dan mengolahragakan pikiran.


Bencana itu musibah sekaligus berkah. Kepedulian terhadap kemanusiaan bisa dilatarbelakangi kepentingan politik, bisnis bantuan, dan berbagai semangat filantropis berlumuran pamrih. Misalnya, kepedulian merancang perumahan di Aceh pascatsunami dan rumah tahan gempa yang menutup mata terhadap kearifan lokal. Kepedulian semacam ini tak ubahnya burung gagak hendak berpesta pora memangsa bangkai yang terkapar dizona bencana.


Aparatus pemerintah, aktivis LSM, dan donatur internasional semua bergerak atas nama kemanusiaan. Mereka bisa berperan sebagai iblis, perusak bumi, dan pendewa materi. Membonceng ideologi kemanusiaan untuk melakukan kejahatan yang ujung-ujungnya mencederai kemanusiaan. Bisa juga berperan ganda, sebagai malaikat, pemelihara lingkungan, dan pengayom korban.


Membaca dan Keagungan
Solidaritas adalah harta karun bangsa Indonesia yang terancam punah. Berkah bangsa ini bukan terletak pada kekayaan alam yang kemarin dibanggakan kini diratapi karena dikuras habis persekongkolan elite dan ekonomi lebih cepat dibandingkan eksploitasi penjajahan Belanda dan Jepang.


Keunggulan komparatif bangsa yang bertengger di jalur gebalau alam dahsyat tak lain masih adanya manusia-manusia suka bekerja keras, tulus, ikhlas, jujur, hemat, dan pantang serakah mengail di air keruh berbisnis penderitaan manusia.


Dengan menertawakan nasib tragis para penyintas bertahan dalam kesulitan dan tabah dalam penderitaan. Dostoyevsky pernah berujar, ”Jika Anda berharap untuk melihat sekilas ke dalam jiwa manusia dan ingin mengenal seorang manusia, pandanglah saat dia tertawa. Jika dia tertawa dengan lepas, dia orang bijak.”


Manajemen yang perlu dipegang dan dilakukan oleh masyarakat pembaca ekologis yang telah menyaksikan langsung maupun tidak akan potret peristiwa-peristiwa getir seperti diatas, bagaimana ia mampu menarasikan alur kesedihan masyarakat korban. Setiap narasi mesti temukan alur akhir yang akan menutup cerita sedih menyayat hati, berbalik menjadi pemantik kesadaran tuna daya lewat keprigelan membaca baru dari masyarakat korban maupun masyarakat saksi. Sebab, ada juga tuduhan umum yang membidik jantung pertahanan bahwa peristiwa kejadian bencana maupun musibah, juga tak lepas dari ulah tangan manusia, tak melulu murni ujian dari Tuhan. Entah mana yang benar?


Geliat Jagad Potret Penerbitan Jogja


Judul Buku : Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja (1998-2007)
Penulis : Adhe
Penerbit : KPJ (Komunitas Penerbit Jogja)
Cetakan : I, September 2007
Tebal : xxxvi + 341 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*



Bersitan awal saat hendak bertandang-kunjung ke kota Gudeg, Jogja, ialah belanja buku sebanyak mungkin dan menjelajah habis dunia perbukuan disana. Bukannya tanpa alasan, citra Jogja -utamanya bagi mahasiswa Jawa Timuran- kadung populer sebagai tempat jual-beli buku melatas harga (murah meriah, akrab selera mahasiswa).


Apa boleh lacur, membincang Jogja sama halnya bercengkerama didunia perbukuan. Jogja telanjur identik industri buku, pun tentunya tak lepas landas dari suburnya penerbit-penerbit buku yang turut andil hebat menopang keberlangsungannya. Penerbitan buku Jogja, seakan menjadi ruh jiwa dari maraknya buku ditempat tersebut. Alam penerbit dan dunia perbukuan bertali-temali meniup serentak jantung pertahanan pasar pembaca. Musykil bila ada buku, tanpa dunia penerbitan.


Buku gubahan letih Adhe ini, Declare!, merekam panjang kamar kerja penerbit Jogja mulai 1998-2007. Merupakan buku debut utuh, ‘menelanjangi’ kulit hingga biji terdalam sejarah dan perkembangan penerbitan Jogja. Adhe mengungkap penulisan buku ini sempat mogok dikarenakan tak sesuai mood, melainkan provokasi kawan rekan kerjanya. Ditulis berbasis sudut pandang dari dalam (from within) dengan cara melakukan studi literatur dan wawancara mendalam terhadap para pekerja buku yang menjalani kelewat rentang waktu di dunia penerbitan.


Yang menarik disampaikan dari karya Adhe ini, ialah kegelisahan sesama penerbit Jogja yang terancam gulung tikar, disebabkan tuntutan pilihan sadar, tegakkan garis batas idealisme atau terjebak pada talapak kaki pragmatisme pasar. Tarik ulur diantara keduanya itu, terlihat betul dalam wacana perbukuan di Jogja. Asal diketahui, gemuruh semangat para pendiri penerbit di Jogja –yang mana para pendirinya mayoritas berangkat dari kalangan aktivis mahasiswa- ingin menerbitkan buku-buku bertema ‘berat’ dengan menutup mata rapat-rapat terhadap pasar. Sementara, ada penerbit yang menggadaikan idealisme sucinya dengan menerbitkan buku-buku murahan tapi mendapat lahan pasar yang bagus. Kasus dilematik seperti inilah yang selalu menghantui penerbit Jogja saat ini.


Lepas daripada itu, buku inipun menyampaikan analisis sosiologis kenapa penerbit Jogja berpotensi berkembang pesat dan banyak mendapat peneguhan disana-sini, sehingga menarik untuk dibahas. Ternyata alasan mendasar untuk menjawab hal itu, bukanlah terletak pada omzet atau pasarnya. Kalaupun berbicara tentang omzet, banyak penerbit dari kota lain yang lebih menarik dan menggiurkan. Namun, mengenai Jogja sebagai industri buku, seorang pebisnis buku mengaku: “Di Jogja apa saja ada.” Maksudnya, lingkaran industri buku dari pengadaan naskah hingga pemasaran dapat dilakukan di Jogja. Di Jogja, relasi timbal-balik antara industri buku dan industri budaya cukup jelas, masing-masing saling mengadakan, serta saling mengukuhkan.


Pengalaman menarik yang bisa dipetik dari sejarah perbukuan Jogja adalah bahwa menjadi penerbit ternyata tidak harus memproduksi buku-buku teks seperti lazim dilakukan oleh penerbit-penerbit yang sudah ada pada waktu itu. Orang ternyata bisa menjual buku yang selama ini belum ada dipasar. Dengan kata lain, lahirnya penerbitan juga melahirkan pengalaman melihat pasar, pengalaman melihat wacana alternatif, dan tentu saja pengalaman berorganisasi. Pengalaman ini sebagian besar berada diluar jaringan penerbitan yang sudah mapan.


Situasi ini ditunjukkan oleh kemunculan industri buku di Jogja tahun 1990-an. Industri buku di Jogja didukung pertama-tama oleh orang-orang yang ingin menjawab kebutuhan masyarakat akan munculnya wacana yang berbeda dari wacana yang sudah ada. Sebagian besar penerbit mapan kurang sensitif dengan apa yang berkembang dalam kantung-kantung intelektual di Jogja, entah itu dalam bentuk kelompok studi, LSM, dan sebagainya.


Penerbit Jogja, acap pula disebut penerbit kecil, penerbit alternatif, penerbit rumahan, penerbit koboi, dan penerbit gelap; memiliki kontribusi nilai dan yang sangat berharga bagi industri literasi di Indonesia. Penerbit Jogja juga telanjur diberi stigma sebagai penerbit sompral. Gemar melanggar hak cipta terjemahan, cenderung sembrono menerbitkan buku terjemahan, abai terhadap pembayaran honor penerjemah dan penulis lokal, pemilik penerbitan mencitrakan diri sebagai pengusaha makmur sementara karyawannya miskin kecingkrangan, tidak jujur dalam oplah cetakan, dan membikin semrawut tata niaga buku dengan jor-joran rabat besar.


Kendati sontoloyo dalam manajemen pengelolaan dan tuna daya dalam permodalan, penerbit Jogja yang dijuluki Lucky Luke (koboi jago tembak yang sering salah sasaran) yang serentak berkibar mulai 1998 itu boleh dibilang fenomenal. Lahir dari tangan para aktivis dan kaum idealis, penerbit Jogja identik dengan buku-buku wacana serius. Jogja melahirkan legenda buku sekaligus estetika sampul nyaris tak tergantikan: Buldanul Khuri dan Hari Ong Wahyu. Pula memasok para kampiun penulis muda berbakat seperti Moammar Emka, Herlinatin, Muhidin M. Dahlan.


Penerbit Jogja sesungguhnya hikayat kaum tabah yang memiliki distingsi (keunikan) dalam beberapa prinsip transformasi: spontanitas, pembingkaian ulang masalah, dan mengambil manfaat dari kemalangan. Kendati akhirnya rontok dan berguguran, Lucky Luke, si penunggang kuda lamban Jolly Jumper, terbukti mampu mengubah pola pikir dan perilaku pembaca menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman baru (openness to experience) dan penuh dedikasi (conscientiousness).


Buku ini juga membahas fenomena maraknya penerbit sesudah 2004 yang sangat pragmatis, bervisi jangka pendek, dan pro pasar. Dijelaskan pula ekspansi pemodal besar yang kepincut dengan gagrak (langgam) penerbitan Jogja. Tak kalah menarik fenomena merajalelanya event organizer yang getol menggeber pameran buku. Bagaimanapun, kelahiran para penerbit Jogja adalah fenomena luar biasa yang dilakukan dengan cara-cara sederhana.