Jumat, November 30, 2007
Surga Bumi Terakhir Terlahir Kembali
>>A. Qorib Hidayatullah
Gubahan naluriah manusia tak tertambat yang suka berkelompok (zoon politicon), kerap menghantarkan ia pada aktivitas yang bisa membidani agar letupan hasrat kecilnya terpenuhi. Kata kelompok disini perlu dikasih tanda petik (“”), menjadi “kelompok”, sebab beban makna tamsil yang diusung sangatlah berat dan hampir enyah dilakukan keumuman orang.
Dilacak dari kajian subkulturnya, tak dinafi’kan, garapan proyek keberanjakan alam tradisionalisme menuju modernitas terbilang berhasil menanam benih-benih ego menjadi ego individualis-subjektif. Dan subkutur itupun menjadi wilayah pergeseran makna akan kebersaman dan mengubur filosofi “duduk bareng” diatas latar belakang diri yang berbeda-beda.
Nah, disinilah makna kata “kelompok” teruji. Disamping sebuah kata kudu memiliki ruang target kritis dan didudukkan secara diskursif, tak lupa pula soal arti kekuatan kata dibalik makna, yaitu kata “kelompok” dijadikan kata kerja, menjadi “berkelompok”.
Kata kerja “berkelompok” pun, perlu kiranya disisipkan tanda petik (“”), karena suatu kata kerja bisa saja bebas nilai (mengundang beragam interpretasi), tergantung pada siapa subjek yang melakukan. Nalar logikanya begini, akan muncul pertanyaan: “Apa yang sedang dilakukan oleh orang saat berkelompok?”. Mesti dapat ditebak jawabannya akan bermacam-macam, tergantung siapa orang memaknai, dan memiliki motif apa ia memaknai kata kerja dari “berkelompok” tersebut.
Saking beranekanya pemahaman yang muncul dari kata kerja “berkelompok”, maka diperlukan tafsir atasnya. “Berkelompok” disini, bisa saja orang berkelompok bebas berbuat apapun. Bisa saja, ia berkelompok guna mempresentasikan ideologinya masing-masing lewat nongkrong dan ngopi di cafe atau warung, dan bisa juga berkelompok memperkokoh daya perlawanannya, dll.
Kata kerja “berkelompok” yang saya maksud disini adalah sekian orang (baca: komunitas) yang tapaki aktivitas dijalan sunyi, lengang, senyap, dan getir diruang kebersamaan yang tiada hijab apapun. Sebab, alam sekat dan batas oleh kelompok kami dianggap sebagai suatu keterbatasan, yang pada akhirnya membawa pada keterkungkungan pengetahuan. Dengan begitu, saya memberikan tanda petik diantara kata kerja berkelompok yang dimaksud.
Dari ulasan diatas, telah jelas bahwa komunitas/berkelompok kami berarus lain dibanding kelompok bikinan orang lain. Ruh tunggal kelompok kami adalah ruh kegelapan yang hanya ada satu pijaran cahaya lilin. Amanah kami, bagaimana tetap bisa menjaga cahaya lilin terus-menerus menyala meski pertaruhannya kena bakar sekalipun. Hal ini urusan komitmen dan tekad kami!
Nikmatnya serasa disurga
Kami menganggap kelompok kami sebagai surga bumi terakhir yang terlahir kembali. Namun berbeda sekali dengan surga yang diiming-imingi Tuhan kelak diakhirat, surga kami tanpa hiasan bidadari cantik gemulai, tapi aksesorisnya melebihi itu semua. Letak bedanya, surga kami, diseluruh sudut ruangan malah dipenuhi teks-teks bacaan berupa buku-buku. Surga kami, berbentuk surga sejarah, surga ekonomi, surga sosial budaya, surga politik, hingga surga sastra serta surga filsafat. Cara menikmatinya, kelompok kami selalu mengkaji, membedah, dan menganalisis beragam surga buku dengan tema berbeda-beda.
Akhirnya, anggur gnosis kami reguk, ekstase puncak dahsyat kami capai, dan ereksi dini pun tersalurkan. Hal ini, tak lepas dari keimanan kami yang mengimani bahwa surga dunia hanya ada pada surga buku dengan beragam corak-warna tema berbeda seperti tertera diatas.
Inilah, kegiatan kelompok kami, eksotika surga yang bergelut setia dibidang buku dan literasi. Prinsip kelompok kami cukup satu komitmen, yaitu berani berkata “ya” pada surga kami, dengan tidak bertekuk lutut pada nasib kebodohan dan keterbatasan pengetahuan. Meski hamparan nasib diruas jalan sunyi, lengang, getir, dan letih adalah pilihan mutlak, kendatipun harus kami jalani sepenuh hati. Kata terakhir pada surga kami, “mengakhiri segala-galanya bila perlu, namun bagaimana kelezatan buku bergizi yang tak tertandingi, serasa disurga saja…”.
Minggu, November 18, 2007
Malcolm X dan Übermensch Kulit Hitam
Judul Buku : Malcolm X Untuk Pemula
Penulis : Bernard Aquina Doctor
Penerbit : Resist Book
Cetakan : I, Mei 2006
Tebal : xi + 186 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah
Setiap manusia, dapat dipastikan berprakarsa sama, yaitu ingin mengangkat harkat dan martabat rasnya masing-masing. Abraham Maslow dalam teori kebutuhan dasar pokok manusia, mentesiskan bahwa manusia mengantongi rasa ingin dihargai oleh orang lain.Tentu, perjuangan membutuhkan ikhtiar gigih, anti letih, tahan getir, dengan mengasah kecerdasan srawung. Dalam hal ini, Malcolm X meyakini kecerdasan itu hanya bisa didapat lewat lama-lama membaca buku, dan aktif bergiat diorganisasi.
Perjuangan yang terus-menerus diasah hingga lancip pasti temukan ketajamannya sendiri. Ibarat pisau daging, apabila terus dipertajam akan mempermudah dalam pengirisannya. Begitu juga tentang kisah Malcolm X, yang telah mencicipi manis asamnya pergulatan hidup, hanya demi “pengakuan” atas ras dan keadilan hak-hak sipilnya. Sehingga, inilah nantinya yang menjadi tema sentral gagasan revolusionernya, hingga menghantarkan namanya dikenang dalam sejarah.
Syahdan, Malcolm X kecil sudah diwarisi benih sikap berani oleh sang ayah, yaitu Earl yang mati dibunuh. Ibarat aforisma kearifan popular: “Buah kelapa jatuh tak jauh dari pohonnya”, ini juga berlaku pada Malcolm X, ia juga mati kerena dibunuh.
Malcolm X merupakan putra ketujuh dari pasangan Earl dengan Louise. Ia lahir pada bulan 19 Mei 1925 di Omaha, Nebraska. Dari sisi fisik, Malcolm X memiliki tampang yang tidak umum, karena ia berdarah campuran. Kakeknya dari pihak ibu berdarah Skotlandia, yang memberi Malcolm X kulit terang, rambut berwarna pirang-pasir, dan matanya mempunyai warna campuran tak biasa antara coklat, biru, dan hijau tergantung kondisi cahaya.
Sejak kecil, Malcolm X telah menerima pelajaran-pelajaran hidup sederhana bahkan sengsara. Keluarganya yang miskin, kerap kali membuat ia kelaparan, karena tak cukup makanan untuk dimakan. Meski demikian, ia tak pernah mengeluh sedikit pun, sebab yang dianggapnya sebagai pelajaran penting kelak ketika ia dipertemukan oleh sang ayah dengan pemimpin karismatik, Marcus Garvey.
***
Dalam buku Malcolm X untuk pemula, karya teks ilustratif Bernard Aquina, Malcolm X digambarkan sebagai pemuda yang nekat dalam mengambil keputusan apa yang dapat dijadikan acuan hidupnya saat itu. Terbukti, ia membikin geng dengan kawan-kawannya guna melakukan perlawanan kecilnya.
Tapi paling menarik dari kisah Malcolm X adalah hidupnya yang tak menentu.
Seiring ranumnya karakter, ia terus bergolak dinamis agar pencapaian utuh berpengharapan dapat teraih. Misalnya, ia menyempatkan diri untuk menjadi selebritas dilingkungan kulit hitam, padahal “profesi” barunya ini sangat bertentangan dengan dunia yang ditapaki sebelumnya. Yaitu, dunia hitam-getir, penuh keterhimpitan, berpenampilan awat-awutan (gembel), serta berbau tak sedap.
Namun, berkat perkenalannya dengan Marcus Garvey, pendiri United Negro Improvement Association (Asosiasi Perbaikan Negro Bersatu) atau UNIA, adalah awal karir revolusinya untuk tunjukkan taring tajam kekritisannya guna mengkritik ketimpangan sistemik oleh kulit putih Amerika kepada kulit hitam Afro-Amerika.
Semangat awal lahirnya organisasi UNIA, adalah untuk membangun masyarakat yang secara ekonomi yang tak lagi tergantung pada kulit putih Amerika, dengan cara membangun properti, industri, jasa-jasa, serta perdagangan. Perlawanan tanpa diawali intrik politik, seakan terkesan menabuh tong kosong nyaring bunyinya, sebab tiada isi.
Karir organisasi Malcolm X, dapat dibilang sering gonta-ganti, dengan melesat pindah dari organisasi yang satu ke organisasi lainnya yang dirasa lebih andal dalam mem-back up sepak terjangnya. Cukup lama berada di UNIA, ia beralih ke organisasi keislaman, yaitu NOI (Nation of Islam) dibawah kepemimpinan Elijah Muhammad.
Malcolm X saat itu, sangat ta’at patuh atas titah-perintah yang diberikan oleh Elijah Muhammad kepadanya. Secara otomatis, melihat keseriusan Malcolm X dalam turut berda’wah melawan penindasan, Elijah tak sampai hati. Kemudian, ia angkat Malcolm X sebagai kawan kepercayaannya, dengan mengutusnya ke tempat-tempat yang dirasa perlu di advokasi.
Suatu jalinan memang tak melulu mulus, tanpa putusnya estafet rantai perkawanan. Jalinan perkawanan Elijah dengan Malcolm X, akhirnya putus juga karena beberapa alasan. Elijah yang berstatus pimpinan NOI, melakukan skandal, yaitu menghamili perempuan-perempuan hingga punya anak. Bentuk konsekuensi tindak skandalnya, Elijah lalu dijebloskan kepenjara.
Guna upaya pembebasannya, Malcolm X sebagai kawan karib turut membantu Elijah agar tak jadi didepak ke sel tahanan. Seribu cara pun dilakukan oleh Malcolm X, tapi upaya itu berakhir dengan sia-sia, karena Elijah memang nyata-nyata terbukti bersalah . Ia telah malanggar garis moral yang dibikinnya sendiri secara ketat.
Perpisahannya dengan Elijah, Malcolm X mengepakkan sayap ekspansi ke negara-negara Islam lainnya, yaitu Saudi Arabia. Selain itu juga, ia pun berhaji ke Makkah dan memperluas link dengan tokoh-tokoh Islam terkenal. Disinilah ekstase keimanan Malcolm X terlihat bernas, ia semakin arif berkonsepsi dalam hidup.
Akhirnya, Malcolm X kembali lagi ke Afro-Amerika. Sekembalinya, gagasannya semakin cemerlang, sehingga ia disebut sebagai nabi kebanggga kaum kulit hitam. Bahkan, ia tak ragu-ragu lagi menyatakan bahwa perlakuan kulit putih Amerika atas kulit hitam (Afro-Amerika) merupakan pengebirian atas hak sipil masyarakat. Usaha untuk menambat estafet penindasan tersebut, Malcolm X “mengemis” keadilan ke PBB, dan melakukan gerakan masif bersama antar kaum hitam. Inilah yang nantinya disebut dengan “kuasa kulit hitam.”
Membaca buku seri pengantar kajian tokoh Malcolm X ini, beragam raupan pesan perjuangan aktivasi demi pengakuan ras. Resiko yang akrab dengan istilah perjuangan atau revolusi, taruhannya adalah nyawa. Dan lagi buku ini, lewat imbuhan ilustrasi demi mempermudah pemahaman atas bacaan teks-teks isi, menjadi tarik tersendiri bagi pembaca. Terakhir, karena buku ini adalah buku kajian tokoh untuk pemula, sangat baik bila pembaca tak berhenti hanya dengan membaca buku ini. Selamat membaca!
Senin, November 12, 2007
Giliran Islam Meruntuhkan Kapitalisme
Judul Buku : Islam Melawan Kapitalisme
Penulis : Zakiyuddin Baidhawy
Penerbit : Resist Book
Cetakan : I, Agustus 2007
Tebal : vi + 262 Hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Ketika keambrukan kapitalisme tampak bernas, tinggallah mendayaguna niat kita untuk melawan. Seakan menjadi derita bersama apabila kita tetap mengamini atau berkata “ya” pada sistem kapitalisme. Kemiskinan yang kian meruyak, eksploitasi alam yang kian buas, dan konsumerisme yang kian masif, tak lepas dari buah tangan kegagalan peradaban kapitalisme itu sendiri.
Melacak dari akar jerat kapitalisme berbuah proyek kendaraan globalisasi, diawali oleh krisis pembangunan yang pada dasarnya merupakan bagian dari krisis sejarah dominasi manusia atas manusia. Proses sejarah dominasi itu dapat dibagi dalam tiga periode formasi sosial.
Pertama, periode kolonialisme. Suatu fase dimana perkembangan kapitalisme di Eropa mengharuskan ekspansi secara fisik untuk memastikan perolehan bahan baku mentah. Kedua, periode neo-kolonialisme. Dimana modus dominasi dan penjajahan tak lagi fisik secara langsung, melainkan melalui penjajahan teori dan ideologi. Selanjutnya adalah periode neo-liberalisme (kebangkitan kembali liberalisme). Yaitu, konstruk kepercayaan bahwa pertumbuhan ekonomi dicapai sebagai hasil normal lewat kompetisi bebas.
Melihat formasi laju ekonomi global seperti diatas, pasti dapat menumbuh-subur dan mengarus-deraskan kapitalisme, yang ditandai dengan globalisasi pasar, investasi, serta proses produksi dari perusahaan-perusahaan transnasional. Namun, angin segar segera mengipasi rakyat seiring runtuhnya kapitalisme Asia Timur yang berbarengan dengan globalisasi muncul.
Era baru tersebut mencoba meyakinkan rakyat miskin di Dunia Ketiga seolah-olah merupakan aras baru dengan ekspektasi kebaikan disegala lini kehidupan umat manusia dan keharusan sejarah manusia dimasa depan. Sudah saatnya kini memikirkan permasalahan sekitar pemiskinan rakyat, marginalisasi rakyat, serta persoalan keadilan sosial.
***
Islam, memiliki desain penolakan khusus guna mengganti sistem ekonomi yang mapan, adil, dan tanpa eksploitasi. Dalam buku Islam Melawan Kapitalisme, karya Zakiyuddin Baidhawy ini, Islam tak sekadar disemai sebagai agama, yang melulu mengurus soal ibadah an-sich, tapi lebih kepada tanggung beban spektakulernya adalah menuntun hidup (duniawi) makhluk bumi. Umat Islam diajarkan bagaimana ia tidak terperosok pada penguasaan serakah materi tanpa diimbuhi sisi spiritualitas.
Sebagai agama rahmatal lil-alamin disamping juga agama-agama lainnya, Islam sangat mencitakan keadaan masyarakat atau umat agar sejahtera, makmur, dan bebas dari belitan kemiskinan tanpa kesudahan seperti sekarang. Kemiskinan yang menempa masyarakat saat ini, dapat secara kasat mata dilahirkan oleh rahim kepincangan sistem yang menggiring kepada kemiskinan struktural. Struktur dan sistemlah yang membikin rakyat sengsara, menderita, hingga getir tapaki hidup.
Maka dari itu, tata keranuman konsep sesegera mungkin dilakukan, seperti halnya Zakiyuddin dengan karyanya ini. Ia lewat ijtihad ilmiahnya menaklukkan kegarangan kapitalisme. Di bab dua buku ini, ia memaparkan kegagalan teori-teori keadilan kontemporer. Seperti, prinsip egalitarianisme radikal, prinsip perbedaan (John Rawls), prinsip berbasis sumber daya (Dworkin), prinsip berbasis kesejahteraan, prinsip berbasis balasan, dan prinsip libertarianisme (Robert Nozick).
Pada bab ketiga, Zakiyyudin telah memasuki wilayah kajian dengan ekspolarasi ayat al-Qur’an yang dijadikannya sebagai jawaban atas isu kepemilikan secara tematik. Sehingga, diharap akan tercipta rumusan prinsip keadilan yang matang dalam kepemilikan berikut implikasinya.
Kepemilikan, menurut al-Qur’an, disebut dengan satu istilah, yaitu al-milk. Allah sebagai sumber segala kepemilikan disebut sebagai al-Malik (hlm. 52). Kalau menyitir Q.S. 34:22, disana dibunyikan bahwa: “Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki sebesar atom pun apa yang ada dilangit dan bumi.” Sepenggal pesan ayat yang menyiratkan bahwa Allah memiliki segalanya, langit, bumi dan beserta isinya.
Problem utama dalam perekonomian adalah bagaimana menjawab soal kelangkaan sebagai akibat ketakseimbangan antara kebutuhan masyarakat dengan faktor-faktor produksi yang tersedia. Dengan begitu, Tuhan menciptakan seluruh sumber daya yang ada di alam semesta sebagai suatu keharusan bagi manusia untuk dapat bertahan hidup dan melangsungkan kehidupannya.
Pada saat yang sama, Tuhanpun membekali kepada manusia alat untuk mendayagunakan secara rasional (akal) sumber daya agar memproduksi barang dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan dan memuaskan keinginan-keinginannya. Karena keserakahan menggerus secara serampangan sumber daya alam, maka disini sama sekali tak dibenarkan.
Kata al-Khizanah (sumber daya) beragam bentuk dalam al-Qur’an disebut sebanyak 13 kali. Q.S. 15:21 misalnya, yang berbunyi: “Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran tertentu.” Wahbah al-Zuhaili menjelaskan kata khaza’inuhu dalam konteks ayat ini adalah tidak ada sesuatupun di alam semesta ini yang bermanfaat bagi manusia kecuali Allah yang mampu mewujudkan dan mengadakannya dengan ukuran yang diketahui. Al-Khaza’in adalah tamsil bahwa Tuhan menetapkan segala sesuatu menurut ukurannya.
Disamping itu, Zakiyuddin pada bab lima mengulas perilaku konsumsi bersahaja. Adalah suatu keharusan memerhatikan bagaimana manusia mengonsumsi atau memanfaatkan kekayaan. Mungkin saja dalam suatu wilayah terdapat limpahan kekayaan sebagai akibat memiliki sistem pertukaran dan distribusi yang adil dan seimbang, tapi kewajiban untuk tetap menjaga agar tetap stabil adalah tuntutan yang terus-harus dirawat. Sehingga, produksi yang adil perlu diimbangi dengan cara mengonsumsi yang benar dan proporsional.
Pada kajian selanjutnya, yaitu bab enam, diurai masalah distribusi dan redistribusi berpihak. Tema-tema menggugah tampak terbangun, misal “Zakat sebagai wujud solidaritas sosial”, “Wakaf sebagai filantropi sosial” dll, turut membikin segar kajian pada bab ini. Tak anyal, zakat dan masalah wakaf mutakhir ramai diperbincangkan tak hanya pada wilayah karitas pengguguran kewajiban keagamaan, tapi bagaimana kedua bentuk ibadah agama itu dapat mengentaskan kemiskinan global.
Sabtu, November 03, 2007
Sakralitas Al-Qur'an Terkoyak
Judul Buku : Al-Qur’an Bukan Da Vinci’s Code
Penulis : Khulqi Rashid
Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika)
Cetakan : I, Januari 2007
Tebal : 151 Hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Meski al-Qur’an diyakini sebagai kitab suci umat Islam yang diakui kesahihannya, akan tetapi masih banyak dari kalangan Barat menolak dan kemudian menggiring kepada pemahaman kita bahwa al-Qur’an tidak orsinil lagi. Anehnya, mereka (Barat) dalam berargumentasi penolakannya terhadap orisinalitas al-Qur’an berdasarkan cara-cara ilmiah dan penelitian.
Banyak buku-buku dari hasil penelitian kalangan Barat yang cukup representatif untuk mengandaskan logika keimanan umat Islam. Misalkan, buku karya dari Christoph Luxenberg, Die Syro-Aramaeische Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschlϋsselung der Koransprache atau Qira’ah Syriak-Aramaik: Upaya Menjelaskan Bahasa al-Qur’an. Buku itu diterbitkan untuk edisi pertamanya tahun 2000 dalam bahasa Jerman oleh penerbit Das Arabische Buch yang berkedudukan di Berlin. Dalam buku itu, juga memakai bahasa Romawi hingga halaman ix, dan berbahasa Arab hingga halaman 306. Untuk bibliografi dicantumkan dihalaman 307 hingga 311. Buku itu ber-ISBN 3-86093-2748, paperback.
Ada empat poin besar dan penting dari buku itu. Pertama, buku itu menyajikan tesis, sumber-sumber, metode, dan contoh-contoh aplikasinya dalam delapan belas bab. Bab satu sampai delapan meliputi latar belakang, metode, dan aplikasi metode tersebut untuk mengungkap etimologi dan makna kata Qur’an, yang menurut Luxenberg merupakan kunci untuk memahami keseluruhan naskah. Bab sebelas sampai delapan belas membahas kesimpulan-kesimpulan yang dipaparkan dalam separuh pertama buku dengan mengajukan solusi untuk beberapa ungkapan bermasalah di sepanjang naskah al-Qur’an. Itu mencakup masalah-masalah leksikal, morfologi dan sintaksis. Selanjutnya, Luxenberg mengurai dalam bukunya itu tentang prinsip-prinsip yang mendasari banyak ketidaktepatan dalam riwayat al-Qur’an pada hal. 11-14. Dan pengembangan metode untuk mengkaji masalah-masalah yang menciptakan kekeliruan pemahaman materi tematik di seluruh naskah al-Qur’an pada hal. 15-16.
Kedua, pada kata pengantarnya, Luxenberg menyajikan rangkuman tentang peran penting bahasa Syriak tertulis dari sudut pandang budaya dan linguistik bagi bangsa Arab dan al-Qur’an. Pada masa Muhammad Saw., bahasa Arab bukanlah bahasa tertulis. Syro-Aramaik atau Syriak adalah bahasa komunikasi tertulis di Timur-Dekat dari abad ke-2 hingga ke-7 M. “Yang terpenting adalah bahwa literatur Syriak Aramaik dan lingkungan budaya tempat literatur berada hampir seluruhnya Kristen.” Jadi pengaruh Syriak terhadap mereka yang menciptakan bahasa Arab tertulis disampaikan melalui media Kristen, yang pengaruhnya sangat besar.
Ketiga, Luxenberg memaparkan tradisi Islam tentang riwayat penyampaian awa al-Qur’an. Menurut tradisi itu, Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M) adalah yang kali pertama mengumpulkan catatan-catatan tertulis dari ujaran-ujaran Muhammad (570-632 M) menjadi satu kitab tunggal.
Keempat, disajikan dalam bukunya (Luxenberg) tentang perkembangan tulisan Arab dan peran pentingnya dalam sejarah penyampaian al-Qur’an. Ia juga menunjukkan bahwa aslinya hanya terdapat enam huruf untuk membedakan sekitar dua puluh enam bunyi. Huruf-huruf itu sedikit demi sedikit dibedakan dengan titik-titik yang ditulis di atas atau di bawah setiap huruf. Abjad Arab yang digunakan dalam al-Qur’an dimulai sebagai sistem tulisan cepat (short hand) untuk membantu pengingatan (mnemonic device) dan tidak dimaksudkan sebagai kunci lengkap ke bunyi-bunyi bahasa itu.
Buku ini, Al-Qur’an Bukan Da Vinci’s Code karya dari Khulqi Rasyid ingi “beroposisi” dengan buku karya Christoph Luxenberg, Die Syro-Aramaeische Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschlϋsselung der Koransprache, tersebut. Penulis (Khulqi Rasyid) dalam karyanya itu berusaha menambat kekeliruan arus laju penemuan dari Luxenberg. Ia mengungkapkan bahwa al-Qur’an pure adalah firman Tuhan, tidak berasal dari bahasa Syriak-Aramaik. Lebih jauh ia paparkan, bahwa kitab suci al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT. kepada utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW., selama 22 tahun 2 bulan 22 hari secara mutawatir (berangsur-angsur).
Periode turunnya wahyu (al-Qur’an) tersebut ada dua, yaitu periode Makkah yang berlangsung selam 13 tahun dan periode Madinah yang berlangsung selam 10 tahun. Ayat-ayat yang turun di Makkah kemudian disebut ayat-ayat Makkiyah dan ayat-ayat yang diturun di Madinah disebut ayat-ayat Madaniyah. Sedangkan total dari seluruh ayat tersebut terhimpun dalam 114 surat, dan kemudian keseluruhan ayat tersebut dibagi-dibagi dalam 30 juz (hal.50).
Jumlah surat yang terdapat dalam al-Qur’an, yaitu 114 surat, berikut nama-nama surat dan batas-batas tiap-tiap surat, serta susunan ayat-ayatnya adalah berlandas ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. sendiri (tawqifi). Sementara itu, pembagian al-Qur’an menjadi 30 juz sudah dilakukan sejak zaman sahabat Nabi. Pembagian itu sekadar untuk hafalan dan amalan dalam tiap-tiap hari semalam atau di dalam sembahyang (Shalat).
Dalam bukunya Luxenberg, Profesor bahasa Semitik, dinyatakan bahwa versi al-Qur’an yang ada saat ini salah salin dan berbeda dengan teks aslinya, jelas itu mengundang kontroversi akut oleh kalangan umat Islam. Menanggapi hal demikian, Taufik Adnan Amal, pakar tafsir al-Qur’an, menjelaskan “Tanpa argumentasi-argumentasi teologis, siapapun harus mengalah dan mengakui bahwa al-Qur’an telah membuktikan diri sebagai sesuatu yang mampu menciptakan peradaban dan tradisi menulis yang sangat tinggi.”
Sedangkan menurut Ali-Syari’ati, “Umat manusia membutuhkan al-Qur’an sebagaimana mereka membutuhkan matahari, lepas dari masa sejarah, pertimbangan-pertimbangan genealogis atau keadaan budaya, pertanian, ekonomi, dan politik. Lebih jauh lagi, al-Qur’an tidak boleh dibandingkan dengan kata-kata seorang pengarang, penyair, filsuf, ataupun sosiolog..”
Membaca buku ini, diharapkan bagi siapa pun, khususnya mahasiswa yang bergelut dalam bidang tafsir, dan bagi umat Islam umumnya. Karena, dengan membacanya akan memukau nalar dan memperkokoh Iman. Dan juga, buku ini memiliki daya pikat yang tinggi, karena cover depan match dengan isi buku. Namun sayangnya, penulis terkesan linear mengkaji counter text, karena posisi kajiannya didudukkan secara terpisah. Kendati pun, buku ini tetap memberikan kontribusi dahsyat dalam cakrawala dan khasanah keislaman.
Jumat, Oktober 05, 2007
Beribadah ala Cak Nun

Judul Buku : Tidak. Jibril Tidak Pensiun
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Progress
Cetakan : I, Juli 2007
Tebal : 244 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Esai-esai gubahan Cak Nun panggilan akrab Emha Ainun Nadjib ini, masih survival-eksis membincang praktik ibadah keseharian umat Islam. Urat pena energi kreatif Cak Nun membenahi wilayah eksoteris (ibadah tampak) dan esoteris (ibadah tak tampak) ubudiyah keumatan. Ia bidik kinerja pendakwah atau muballig yang seharusnya (kata Cak Nun) benar-benar memiliki emban tanggungan terhadap kualitas kesalehan umat Islam.
Cak Nun, budayawan merakyat. "Banyak kita temui dikampung-kampung aneka ragam pengajian, yang pada dasarnya mempunyai seruan terhadap amar ma’ruf nahi munkar, namun terlepas daripada itu esensi pengajian belum teraih dan masih berkutat mandek pada tataran ritual-seremoni sesaat", ujarnya. Bak menegakkan benang basah, acara pengajian tidak betul-betul memberikan tausiyah hakiki, menghantarkan umat Islam menuju amal saleh dan kemapanan spiritualitas yang bermuara pada pemahaman urgensi ibadah sosial.
Di salah judul esainya: "Mauidhah Dakwah Kita Kurang Hasanah", Cak Nun mempertegas bahwa dakwah itu diselenggarakan terutama untuk proses perubahan munuju kondisi salih, dari kondisi yang tidak atau belum salih. Ia skeptik, apakah frekuensi dakwah tidak berbanding terbalik dengan kondisi kesalihan kita semua? Bukankah semakin ‘kosong’ semakin diperlukan pengisian? Sehingga peningkatan kapasitas pengisian justru menunjukkan tingkat kekosongan?
Cak Nun tidak bermaksud menuduh, sekadar mengajak berhati-hati dan menyadari selalu perlunya ishlah diri. Lebih jauh, Cak Nun menghimbau muballig agar apa yang diucapkan atau kalimat-kalimat dakwah yang disampaikan juga mempertimbangkan determinasi psikologis para pendengar. Banyak muballig tak pintar merayu pendengar, melainkan menekan. Bukan mencuri hatinya, tapi membuat ngeri, dan orang yang merasa ngeri tidak banyak kecenderungan lain kecuali melarikan diri.
Himbauan Cak Nun itu berbasis pada pengalamannya. Ia sangat kaya pengalaman mengisi dakwah di tempat-tempat pengajian yang dibikin bersama jama’ahnya. Beragam wahana transformasi dakwah yang dimiliki Cak Nun: Padhang Mbulan (Jombang), Mocopat Syafaat (Yogyakarta), Kenduri Cinta (Jakarta), Gambang Syafaat (Semarang), dan Obor Ilahi (Malang). Selain itu, bersama Kiai Kanjeng, terhitung dari tahun ke-6 berdirinya (Juni 1998) hingga Desember 2006, Cak Nun telah mengunjungi lebih dari 22 provinsi, 376 kabupaten, 1430 kecamatan, dan 1850 desa di seluruh pelosok Indonesia. Pernah pula, Cak Nun bersama Kiai Kanjeng diundang ke berbagai belahan manca Negara.
Beserah
Betapa hebatnya manusia, tingginya kadar intelektualitas, bahkan mapan dalam sisi karir, tak pantas bersombong atau takabbur. Semuanya berpuncak pada kekuasaan Allah. Allah yang menentukan semuanya, manusia hanya berikhtiar dan berseru. Sebagian lain esai Cak Nun, "Tidak. Jibril Tidak Pensiun", sekaligus menjadi judul buku ini, bernada profetik yang bermuara pada ketawakkalan seseorang.
Apabila manusia telah merasa mampu menemukan sesuatu, mengadakan yang tak ada, menciptakan sesuatu, dan berkat itu ia menjadi seniman Nobel, doktor akademik atau sarjana kehidupan, maka karya-karyanya, kata-katanya, lukisannya, musiknya, tak bisa disebut semuanya adalah miliknya (hamba) melainkan berkat kasih karya Allah semata. Kalau kita membaca karya itu, kita membaca karya Allah. Kalau kita dengarkan ia baca puisi, itu puisi Allah. Kalau kita nonton pameran lukisannya, hakikatnya kita nonton lukisan Allah.
Meneroka keakar teologisnya, menghasilkan rincian titian pemahaman demikian: Allah bisa cukup bilang Kun (fa-yakuun) demi kepentingan apapun saja. Takaran dibawah wahyu tak diperlukan Jibril (malaikat). Pekerjaan-pekerjaan kecil begitu Allah tak memerlukan organisasi birokrasi, tukang-tukang pos, dan ahli-ahli agen penyalur, hanya cukup saja Allah berkata Kun (fa-yakuun), maka terealisasilah.
Buku ini dihadirkan dengan pewajahan yang sangat kental suasana esoteris, sehingga mencerminkan gejala-gejala batin manusia. Pembaca dibantu dengan tulisan esai, pembahasan berat beralih ringan, dan juga hal ini tak lepas dari gaya tutur bahasa Cak Nun yang renyah.
(Me) Revolusi Pendidikan Lewat Perlawanan
Penulis : Eko Prasetyo
Penerbit : Resist Book
Cetakan : Pertama, Mei 2006
Tebal : xii + 206 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Sepertinya tak dapat dipungkiri, kemajuan pesat sebuah bangsa atau negara disebabkan kemapanan bingkai sistem pendidikannya. Kedewasan berpolitik, majunya perekonomian, hidup berkesadaran sosial, dan budaya masyarakat - sangat sulit dilepaskan dari peran agung pendidikan. Satu contoh, mencuatnya kasus korupsi yang menyebabkan bangsa ini tertorehkan tinta hitam dunia sebagai koruptor rangking wahid. Serasanya, tak dapat dipisahkan dengan keberadaan pendidikan bangsa ini yang menggambarkan kegagalannya.
Kegagalan-kegagalan dalam bidang pendidikan, oleh Eko Prasetyo penulis buku ini, Guru: Mendidik Itu Melawan, cukup lihai dipotretnya. Meliputi, kebijakan kurikulum, pengelolaan guru, dan managemen pendidikan tidak luput dari amatannya . Dengan gaya eksplorasi ulasan yang mendalam dan ketajaman isi, buku ini memberikan angin segera dan mengundang para aktivis pendidikan guna mendiskusikannya. Dan sebaliknya, menjadi tamparan telak bagi birokrasi elit pendidikan yang hanya enak-enak duduk santai dietalase gedung-gedung Diknas.
Tentang kebijakan-kebijakan pemerintah dalam dunia pendidikan, Eko Prasetyo merangkum penjelasan-penjelasannya dalam gambar tabel. Misalnya, kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kurikulum. Penulis kemudian mencari problemnya: ‘pergantian (kurikulum) yang berulang-ulang tanpa pernah dievaluasi’. Terakhir, dicarilah solusi dari kebijakan kurikulum dengan problemnya yang akan mengahasilkan dampak: ‘peserta didik terbebani baik karena perubahan yang terlalu cepat maupun konsekuensi biaya yang ditanggung’ (hal 43).
Terbantu dari tabel itulah, akan mempermudah pembacaan kita dengan ghirah kultur kritis terhadap proses dan berlangsungnya pendidikan di Indonesia. Kalau dilihat dari sumbangsih pemikiran, yang ia tuangkan lewat buku-bukunya sangatlah besar sekali. Ia sangat getol memotret keberlangsungan dan keberadaan pendidikan Indonesia. Ia sepertinya tak takut, apalagi sungkan-sungkan berhadap-hadapan dengan birokrasi pemerintah, utamanya birokrat pendidikan. Itu terlihat dari karya-karyanya yang mengurai dan mengkritisi habis pendidikan di Indonesia. Seperti dalam karya lainnya, yang juga berbicara tentang dunia pendidikan, Orang Miskin Dilarang Sekolah, dan Pengumuman: Tidak Ada Sekolah Murah dll.
Bahkan, mengenai anggaran pendidikan pun tidak lepas dari bidikannya. Misalkan, angaran pendidikan yang semestinya harus sesuai dengan undang-undang sebesar 20%, tapi praktik dilapangan-anggaran pendidikan yang disetujui pemerintah pada tahun 2006 hanya 8,4%. Presentase sebesar ini yang membuat sektor pendidikan hanya mendapat jatah sekitar Rp 36 triliun dari total anggaran yang mestinya dialokasikan sebesar Rp 425 triliun. Lain lagi, dana tersebut yang masih dipotong oleh Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp 12 triliun (hal 24).
Menyoal dana BOS, yang kerap diskriminasi dalam praktiknya, yaitu tidak mengindahkan kesenjangan pendidikan antara kelompok masyarakat miskin dan kaya (Kompas, 02/01/2007). Yang seharusnya, ada penyikapan serius pemerintah melalui kebijakan pembiayaan yang kian berpihak kepada kalangan miskin. Sehingga pada prinsipnya, BOS yang menjamin siswa miskin bisa tetap bersekolah dengan membebaskan mereka dari seluruh iuran sekolah dan penyediaan bantuan transportasi dapat terlaksana.
Bentuk Perlawanan
“Toyib, guru dari Tangerang, masih menyimpan kesal. Sebagai guru honor daerah di Kabupaten Tangerang, dia digaji Rp 200.000 per bulan. Honor itu seharusnya diterima setiap tiga bulan. Tiga bulan pertama, beres. Namun, selama sembilan bulan kemudian honor itu tidak kunjung datang. Setelah demonstrasi oleh para guru, baru uang yang menjadi haknya itu turun. Bagi Toyib, honor bulanannya itu sangat berharga untuk menopang kehidupan sehari-hari.” (Kompas, 02/01/2007)
Sekelumit gambaran keadaan guru honorer diatas, si Toyib, menjadi ulu persoalan dalam buku ini. Secara khusus, Eko Prasetyo dengan karyanya ini mutlak diperuntukkan kepada seluruh guru-guru honorer di Indonesia. Permasalahannya sekarang, di satu sisi perlunya menisbatkan ucapan-ucapan sakral yang sudah ada semenjak dulu, seperti: Guru, pahlawan tanpa tanda jasa, dan Guru, sebuah profesi yang mulia dan terhormat. Kalimat-kalimat itu sah-sah saja didaulatkan kepada semua guru Indonesia sebagai bentuk penghormatan kepadanya, yang telah mengajarkan anak-anak kita tentang kebajikan dan nilai-nilai universal kehidupan. Namun disisi lain, kita juga harus bertanya bagaimana cara membalas jasa-jasa guru? Kata Victor Hugo, sang maestro dan seorang sastrawan besar, hanya dua orang yang menyumbang besar bagi peradaban sebuah bangsa yakni seorang guru dan seorang perawat.
Dalam bab terakhir, Guruku: Jangan Takut Melawan dalam buku ini, penulis memberikan ruang khusus untuk hal ihwal perlawanan sosok guru. Sudah saatnyalah kita memberikan balasan jasa yang setimpal kepada guru, dengan memberikan gaji kesejahteraan yang layak. Melihat fenomena dimasyarakat pada umumnya, profesi guru hanya dijadikan profesi sampingan. Pendikotomian itu bukanlah tanpa alasan. Hal itu terjadi sudah bisa disangka, karena gaji atau uang kesejahteraan guru sangatlah minim. Meski, telah ada UU Guru dan Dosen serta Rancangan peraturan pemerintah tentang Guru dan Dosen masih tetap ada rasa kekahawatiran ketiadaan jaminan terhadap perlindungan profesi guru.
Kalau melihat dari full dedication sosok guru, utamanya guru yang ada dipedalaman sangatlah memprihatinkan keberadaaanya. Ia masih betah-betah duduk mengajar, meskipun gaji kesejahteraannya minim. Ia bergairah mendidik, meskipun tinggal dipedalaman dengan fasilitas apa adanya. Pengorbanannya tak dapat diukur dan ditukar sebatas nominal. Hanya satu komitmennya, ia khawatir nanti bangsa ini akan hancur karena generasinya bodoh-bodoh.
Guru sering kali mendidik dan mengajari murid atau generasi muda untuk berpikir besar tentang bangsa ini, mengingat bangsa ini dulu didirikan oleh para pemikir besar. Ia memberitahu dan memaparkan tentang Nasionalisme Soekarno, Ekonomi Rakyat Hatta, Sosialisme Tan Malaka, dan prinsip etika Haji Agus Salim (hal 196-198). Sementara bangsa Indonesia tahun-tahun ini, dirundung musibah atau bencana yang beraneka rupa silih berganti kerap terjadi tanpa jeda, membuat hati sakit dan prihatin - sepertinya lebih menyakitkan dan memprihatinkan, ketika engkau dan profesimu (guru) sudah tidak dihargai lagi. Apakah memang itu, bentuk takdir perlawananmu untuk merevolusi pendidikan Indonesia?
Sabtu, September 29, 2007
Centang Perenang Gaya Hidup Indië
Judul : Resistensi Gaya Hidup: Teori & Realitas
Penulis : Agung Hujatnikajennong (dkk)
Editor : Alfathri Adlin
Penerbit : Jalasutra
Cetakan : Pertama, September 2006
Tebal : xix + 327 hal
Peresensi : A. Qorib. Hidayatullah*
“Kulihat orang-orang terkuat dan terpandai. Kulihat semua potensi ini. Dan kulihat itu disia-siakan. Seluruh generasi memompa gas, menunggu meja, atau jadi budak berdasi. Iklan membuat kita mengejar mobil dan pakaian, mengerjakan pekerjaan yang kita benci supaya kita bisa membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan. Kita adalah anak-anak sejarah, tanpa tujuan atau tempat. Tak ada perang besar, tak ada depresi besar. Perang besar kita adalah spiritual. Depresi besar kita adalah hidup. Kita dibesarkan untuk percaya suatu hari jadi jutawan dan bintang rock, tapi sebenarnya tidak. Dan kita mempelajari fakta itu dan kita menjadi sangat marah.” (Sekelumit orasi Tyler Durden)
Zaman sudah berbalik haluan. Manusia-manusia yang menempati zaman memiliki tolok ukur sendiri atas dunia yang ditempatinya. Ikon kejayaan peradaban dahulu seiring rotasinya terindikasi menemui titik kekaburan. Sejarah hanya dijadikan narasi-narasi yang selayaknya terjadi. Tak ada kajian yang lebih kritis terhadapnya. Manusia-manusia dibiarkan untuk merayakan kreativitas penciptaannya. Pengeksplorasian besar-besaran turut terjadi tanpa hasrat menjadi. Kapitalisme! Benar kiranya tesis dari pujangga sufi, anak kelahiran tanah Jawa bernama R. Ngabehi Ronggowarsito, yaitu dengan menyebutnya “Zaman Edan”!.
Hal itulah yang menginspirasi FSK (Forum Studi Kebudayaan) ITB melakukan telaah-telaah terhadap budaya-budaya bangsa maupun dunia. Yang dikemas dengan bentuk kajian-kajian rutin setiap minggu dan bulanan. Hasilnya pun sekarang sudah tampak yaitu berupa kumpulan tulisan-tulisan tentang kebudayaan, kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku: RESISTENSI GAYA HIDUP: Teori dan Realitas. Buku ini menjadi dua elemen besar. Pertama, bagian teori yang memberikan landasan teoritik untuk membedah gaya hidup, budaya, resistensi dan hasrat, habitus, teori meme (gen budaya), imagologi dan tinjauan psikologis. Kedua, bagian realitas yang mengemukakan berbagai realitas resistensi gaya hidup. Mulai dari gerakan New Age dan revitalisasi agama, resistensi seni, metroseksual, feminisme dan posmodernisme, media alternatif dan resistensi gerakan literasi, resistensi di dunia cyberspace, serta gerakan subkultur.
Dari sintesis teoritik dengan realitas (gaya hidup) tersebut, dicari titik resistensinya. Resistensi dari kekreatifan membaca dan menafsirkan sesuai dengan latar belakang individu, yang kemudian diidentikkan pada gaya hidup tertentu. Misalnya, kelompok computer underground, resistensi merupakan hasil pembacaannya atas hegemoni komersialisasi pengetahuan komputer oleh sekolompok produsen. Hal ini juga dilakukan oleh kelompok literasi. Bagi kelompok literasi, kondisi saat ini dibaca sebagai minimnya minat baca karena kecenderungan hura-hura dikalangan mahasiswa yang seharusnya menjadi golongan terpelajar dan akademisi tulen. Lanjut kelompok literasi, “dalam transaksi jual beli buku banyak toko buku besar yang memasang harga mahal, harus melakukan resistensi dengan memberikan harga diskon, layanan bersahabat dengan membangun kultur yang berbeda yaitu kultur literasi.”
Mengenai gaya hidup kelompok literasi, diawal abad kesembilan belas, di bagian Eropa dan Amerika mulai menarik perhatian dan berkonflik dengan gaya hidup lainnya. Melalui gaya hidup alternatifnya, mereka suka dan enjoy hidup dibagian kota-kota miskin, menyesaki waktu dengan membaca, berkarakter milankolik, dan bersekutu dengan seni. Kemudian dengan lambat laun, mereka pun dijuluki Bohemian, sebuah nama yang diambil dari karya Henri Murger, Scenes de la vie de Boheme (1851) yang menggambarkan gaya hidup intelektual bebas dikafe-kafe Paris (hal 24).
Gaya hidup Bohemian tersebut bertolak belakang dengan gaya hidup Borjuasi yang meletakkan materi sebagai hal utama atau skala prioritas. Perbincangan kaum Borjuasi hanya seputar dimanakah pesta yang paling bergengsi malam ini dan gaun apa yang pas dan paling cocok dipakai. Manusia oleh kaum Borjuasi diukur berdasarkan kesuksesan material dan reputasi sosialnya saja.
Tak dapat dipungkiri, dalam realitas masyarakat banyak tebaran gaya hidup yang niscaya beragam. Hal ini disebabkan, gaya merupakan sistem bentuk dengan kualitas dan ekspresi bermakna yang menampakkan kepribadian atau pandangan umum suatu kelompok (hal 166). Selain itu, gaya juga merupakan wahana ekspresi masyarakat yang mencampurkan nilai-nilai tertentu dari agama, sosial, dan kehidupan moral melalui bentuk yang mencerminkan perasaan.
Resistensi Simbol Keagamaan
Kita sering melihat diwilayah nyata masyarakat yang menggunakan atribut yang berupa simbol keagamaan dalam kehidupan sehari-harinya, bahkan dibawa ke ruang yang lebih luas. Entah berupa kalung, cincin, pakaian, dan lain sebagainya. Namun, yang menjadi unik adalah ketika dari atribut atau simbol tersebut diyakininya atau dipercaya dapat mendatangkan kekuatan, keberuntungan atau kesucian bagi yang memakainya.
Bentuk resistensi mengenai atribut atau simbol keagamaan tersebut, Yasraf Amir Piliang membangun lima pembacaan. Pertama, pembacaan denotatif atas teks kitab suci yang biasanya melahirkan bentuk-bentuk sikap yang harfiah dalam menampilkan agama secara gaya hidup maupun visual. Misalnya, seorang penganut agama harus memperlihatkan secara visual mulai dari ujung kepala hingga kaki, segala atribut keagamaan. Dengan pembacaan akan berujung pada sikap-sikap fundamentalistik.
Kedua, pembacaan konotatif atas kitab suci umumnya dapat melahirkan sikap-sikap yang lebih moderat dari kalangan agama. Suatu fenomena tidak serta-merta dihukumi secara harfiah begitu saja melalui sebuah teks. Ketiga, pembacaan dekontekstual biasanya dikemukakan oleh kalangan yang secara serampangan, dapat dikatakan memiliki sikap ambivalen, yaitu spiritual-enggan-sekuler tak mau.
Keempat, pembacaan fetisistik yaitu pembacaan yang umumnya paling sering berkembang dinegara-negara dunia ketiga. Pembacaan ini memiliki potensi resis terhadap berbagai hal rasional yang mementahkan tafsir yang dihasilkan. Kelima, pembacaan dekonstruktif adalah pembacaan yang paling lazim muncul dalam komunitas budaya pop. Pembacaan ini lebih banyak didasarkan pada segala hal yang bersifat popular, seperti imajinasi, cara berpikir dan argumen yang dangkal (hal 172).
Pertanyaannya kemudian, apakah kita cukup senang dengan gaya hidup yang kita miliki sekarang? Adakah unsur-unsur mutasi yang terkemas dalam memetis (meniru gaya hidup orang lain)? Dengan membaca dan memahami buku inilah, kita sedikit-banyak akan menemukan khazanah-khazanah budaya dan sedikit mengerti budaya-budaya kelompok manusia ataupun budaya-budaya pop. Mungkin, menurut pembaca biasa seperti saya, sulit menemukan tebaran kesalahan dalam buku ini. Begitu juga bagi para pembaca budaya awal, akan sulit menemukan kesalahan. Kalau begitu, awalilah dengan membaca buku ini.
Selasa, September 25, 2007
Syak Wasangka Kebenaran Holocaust
Judul Buku : Holocaust Fakta atau Fiksi?
Penulis : Stephane Downing
Penerjamah : Dwi Ekasari Ariyani
Penerbit : Med Press
Cetakan : I, 2007
Tebal : 172 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Peristiwa-peristiwa spektakuler yang layak dikenal dan dikenang tak lepas dari preseden sejarahnya. Ia tetap bergelantungan dideret-deret pojok bisu sejarah, meski kita mengobrak-abrik, memanipulasi, dan menutup-nutupi. Bagaimana pun, sejarah lahir dari rahim kesadaran yang dihentakkan oleh bunyi realitas faktual, tak akan hilang keotentikannya.
Kini tak sedikit batu-bata sejarah digugat, di break down, hingga ditelanjangi sampai-sampai segepok pertanyaan yang menghinggap dibenak berangsur hilang. Secara logika, kita tak lagi mampu berdialog dengan sejarah. Karena, sejarah berdialog dengan kausalitas korelasi antara massa waktu saat itu dan kejadian sejarah. Maka dari itu, kita terkesan patah ketika hendak mendefinisikan, menafsirkan, apalagi menyimpulkan eksemplar uraian sejarah.
Sejarah Holocaust misalnya, yang saat ini mengundang pertanyaan dan kian temukan titik runcing kontroversinya. Bahkan, Ahmadinejad presiden Iran berani bersuara miris tentang Holocaust tersebut: “Sekarang, mereka (bangsa Eropa) telah menciptakan sebuah dongeng dengan nama Holocaust dan menganggapnya melebihi Tuhan, agama, dan ramalan.”
Holocaust adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan genocide (pemusnahan secara terencana) kelompok-kelompok minoritas di Eropa dan Afrika Utara pada Perang Dunia II oleh Adolf Hitler dan Nazi. Paham diskriminasi ras telah membawa Hitler menempatkan ras-ras lain berada dibawah ras Arya. Kelompok-kelompok bangsa yang dianggap ras bawah seperti Yahudi, Polandia, Rusia, Belarusia-Serbia, Afrika, dan Asia dicap sebagai golongan Untermensch (manusia rendahan) dan menjadi target khusus aksi “pembersihan” Nazi.
Istilah Holocaust awalnya berasal dari bahasa Yunani halekaustann, yang berarti sebuah korban persembahan kepada dewa yang “sama sekali (holos) terbakar (kaustos)”. Akhir abad ke-19, istilah “Holocaust” digunakan untuk menjelaskan malapetaka-malapetaka atau bencana-bencana. (hlm. 10). Berdasar pada Kamus Bahasa Inggris Oxford, kata Holocaust kali pertama digunakan untuk mendeskripsikan perlakuan Hitler kepada orang-orang Yahudi dari tahun 1942, walau kata ini belum menjadi referensi standar hingga tahun 1950-an. Akan tetapi, pada pengujung tahun 1970-an makna lazim dari kata ini menjadi genocide Nazi. Holocaust pun memiliki beragam nama-nama yang telah dikenal guna mendeskripsikan genocide. Seperti, Ha-Shoah (bahasa Yahudi), Khurbn atau Halukaust (bahasa Yiddi), Porajmos (bahasa Romania), Calopalenia atau Zaglada (penyebutan kedua nama ini di miliki Bahasa Polandia).
Tanggal 8 dan 9 November 1938, merupakan langkah awal dari Holocaust melakukan pemusnahan massal terencana (pogrom) Kristallnacht dan Program Euthanasia T. 4. Kemudian, dilanjutkan dengan proyek pembentukan pasukan-pasukan pembunuh (killing squads) dan kamp-kamp pemusnahan (extermination camps) yang berniatan memiliki usaha terorganisir secara besar-besaran serta terpusat untuk membantai setiap orang yang menjadi target Adolf Hitler dan pasukan-pasukan Nazi. Ditengarai dari peristiwa dahsyat Holocaust, kebanyakan korbannya adalah orang-orang Yahudi di Eropa. Kira-kira 6 juta orang Yahudi terbunuh pada masa Holocaust. Mereka (orang-orang Yahudi), oleh Nazi disebut “Solusi Final atas Permasalahan Yahudi” (die Endlosung der Judenfrage) atau “pembersihan” (die Reinigung).
Untuk memperlancar misi Holocaust, beragam cara berbau kekejaman dilakukan. Seperti, membangun kamp-kamp kosentrasi dan kerja paksa (1933-1945), penyiksaan (1938-1941), euthanasia (1939-1941), ghetto-ghetto (1940-1945), pasukan-pasukan kematian (1941-1943), kamp-kamp pemusnahan (1942-1945), serta prosesi kematian dan pembebasan (1944-1945). Cara-cara demikian itulah, yang dilakukan oleh para pemimpin Nazi dalam “menghabisi” ras-ras lain selain ras Arya.
Holocaust dan fenomena sejarah mengenai Nazisme, telah menjadi simbol gelap pada kejahatan-kejahatan yang terjadi pada abad ke-20, juga sebagai subyek dari studi-studi sejarah, psikologi, sosiologi, sastra, dan filsafat. Satu pertanyaan filosofis dilontarkan oleh Wilhelm Reich pada awal tahun 1933 di Mass Psychology of Fascism adalah misteri dari ketaatan rakyat Jerman atas operasi yang sangat “gila” tersebut. Karena, pada saat itu kategori oposisi biner dengan dobrakan gila Nazi tak terlalu mencuat. Kemudian, muncullah buku Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (1963), yang ditulis oleh Hannah Arendt. Dengan begitu, Arendtlah sebagai orang pertama yang berani memproklamirkan sikap dirinya terhadap Nazi, bahwa tindakan Nazi itu adalah “sadisme” dan kental “kekejaman.”
Holocaust Fiksi
Kebenaran berita Holocaust pada saat ini, kuat indikasi mulai dipertanyakan. Benarkah Holocaust ada? Benarkah 6 juta jiwa orang Yahudi terenggut oleh kekejaman Nazi? Ataukah itu hanya sebuah rancangan konspirasi zionis Yahudi untuk membenarkan langkah-langkah politik mereka di panggung dunia? Kumpulan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi centang perenang dan siap menggerus kebenaran Holocaust.
Holocaust denial atau penyangkal Holocaust (biasanya disebut revisionisme Holocaust oleh para pendukungnya) adalah kepercayaan bahwa genocide orang-orang Yahudi dan kelompok-kelompok minoritas lainnya selama Perang Dunia II –masa Holocaust– tak pernah terjadi, atau apabila benar terjadi, akibat yang disebabkan tidak sebesar apa yang diyakini pada masa sekarang. Bahkan, ada dari para penyangkal Holocaust, yang sama sekali tak percaya atas korban pada masa Holocaust, “Bagaimana mungkin 6 juta orang Yahudi dibunuh pada masa Holocaust jika hanya terdapat 3 juta jiwa orang Yahudi saat itu?”
Sebagian besar penyangkalan Holocaust menyatakan secara tidak langsung, bahwa Holocaust adalah sebuah cerita bohong yang dengan sengaja diciptakan oleh orang Yahudi untuk memajukan kepentingan mereka dengan mengorbankan orang lain. (hlm. 81). Karena alasan ini, penyangkalan Holocaust umumnya dianggap sebagai sebuah teori konspirasi anti-semitik (sikap antipati terhadap bangsa Semit, khususnya orang Yahudi).
Penyangkalan Holocaust dipandang secara luas sebagai kegagalan dalam mengikuti peraturan-peraturan perlakuan bukti, peraturan-peraturan yang dikenal sebagai dasar dalam penyelidikan yang rasional. Konsensus yang kuat adalah apabila bukti yang diberikan oleh mereka yang selamat, saksi-saksi mata, dan para sejarawan. Sehingga, kebenaran sejarah disini dipertaruhkaan lewat jangkauan-jangkauan rasio yang masuk akal. Adalah hal yang tidak masuk akal untuk meminta orang-orang memberikan klaim guna membuktikan bahwa bukti-bukti mereka “sungguh nyata” dari kenyataan yang sudah jelas, kecuali ada beberapa alasan khusus yang dapat dipercaya untuk memercayai bahwa bukti-bukti tersebut mencurigakan.
Kendati pun sejarah dimanipulasi, kebenaran Holocaust dipertanyakan, dan diputar balik faktanya tak akan hilang jejak-jejak sejarahnya. Bantuan buku ini menawarkan sisi keseimbangan fakta-fakta Holocaust yang bergelantungan dideret-dideret laci sejarah, sehingga kelesuan yang menggiring terhadap pergulatan politik tak dapat ditambat. Kesejatian sejarah, kalau sudah dibenturkan kepada kepentingan-kepentingan politik akan dapat ditebak telah mengalami kekaburan-kekaburan fakta. Minimal lewat buku ini menghantarkan pemahaman mereka yang ingin mengetahui titik-titik kontroversi akut sejarah Holocaust yang tak lepas dari ruang lingkup syak wasangka kebenarannya.
Kesaktian Air yang Terlupakan
Judul Buku :The True Power of Water
Penulis : Masaru Emoto
Penerbit : M.Q. Publishing
Cetakan : 2006
Tebal : xx + 191 halaman
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Tidak disangka-sangka, air yang sehari-harinya kita konsumsi sebagai pelepas dahaga dan haus menyimpan kekuatan tersendiri. Dengan kedahsyatannya, air lewat Hado (Hikmah Air dalam Olah Jiwa) memberikan nilai tersendiri bagi kehidupan manusia. Terbukti dalam buku ini, The True Power of Water karya monumental peneliti Jepang, Dr.Masaru Emoto, memaparkan kekuatan air tersebut. Anehnya, dari hasil penemuannya ini, ia tidak didukung dengan displin ilmunya. Sebab, ia tidak berangkat dari latar belakang pendidikan Sains. Melainkan dia mengambil jurusan Hubungan Amerika dan Cina, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Humaniora dan Sains.
Kesimpulan awal dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa air akan berubah kualitasnya berdasarkan informasi yang dibawanya. Tapi, kesimpulan ini masih radikal yang tidak bisa diterima oleh pengetahuan konvensional (hal: xiv). Hal ini, tidak membuat dia patah semangat, justru menjadi pemompa semangatnya untuk melakukan penelitian lanjutan. Penelitian tentang air terus dilakukan, sampai dia akrab betul dengan air bahkan mengerti karater air.
Terbukti, lewat ketekunanannya mempelajari air, ia mulai menuai berkah dan manfaat. Sampai-sampai berkat airlah, ia menjadi pembicara dan mempresentasikan hasil penemuannya itu di universitas-universitas terkemuka tingkat Internasional. Dalam proses penelitiannya, Dr. Masaru Emoto tidak sendirian, ia dibantu oleh temannya yaitu Tn. Kayuza Ishibasi sehingga berhasil mengambil foto kristal air pada tahun 1994. Hal itu tidak terlepas dari temuan-temuan metode yang transformasi pradigmatik dari mereka berdua, sehingga mempermudah dalam proses pengambilan gambar-gambar air yang dikristalkan.
Bahkan, Dr. Masaru Emoto dalam bukunya ini menjelaskan bagaimana cara-cara atau proses mengkristalkan air. Pertama, memasukkan sampel air kedalam botol gelas, lalu berikan informasi ke air tersebut sebuah kata, gambar, atau musik selama beberapa waktu. Kedua, meletakkan air pada empat puluh buah cawan petri berukuran diameter 5 cm atau 2,5 inci. Cawan-cawan ini kemudian dibekukan dalam freezer dengan suhu -25C (-13F) atau lebih rendah. Tiga jam kemudian, cawan-cawan tersebut dikeluarkan maka terbentuk butir-butir es dengan bagian tengah yang membulat akibat tekanan permukaan. Butir-butir es ini ukurannya sangat kecil (kurang dari setengah inci). Setiap butir es lalu dilihat dimikroskop (hal: 4).
Dalam proses pengkristalan air dengan cara-cara diatas, menimbulkan klasifikasi tersendiri yang cenderung membedakan terhadap air. Ternyata, tidak semua air (dalam eksperimen ini) mempunyai kesamaan. Misalkan, air keran, air murni dan air mineral. Air keran sama sekali tidak membentuk kristal, sedangkan air murni dapat membentuk kristal. Kristal dengan nilai estetika berkelompok, coraknya keluar begitu bebasnya dengan bentuk persegienam.
Apabila dipaksa dikristalkan dari masing-masing air (air keran, murni, dan mineral) sangat jelas perbedaannya. Yang mana, proses keberhasilan pengkristalan air yang indah menjadi tolok ukur kepositifan dari pada air. Air dengan bentuk kristal yang indah dengan begitu bernilai positif, maka dengan sendirinya mewartakan kepada kita untuk memilih kualitas air. Air keran memang tidaklah sehat untuk dikonsumsi setiap hari. Lain halnya dengan air murni dan air mineral yang mempunyai bentuk kristal bagus dan indah. Meskipun harga air mineral tergolong mahal, tapi kesehatan tubuh kita lebih mahal bukan?
Saking kagumnya, K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dalam kata pengantar buku ini, lebih tegas mengklasifikasi terhadap air. Dia mengatakan: “disamping air bisa membawa pesan atau informasi dari apa yang diberikan kepadanya”. Bagi kaum muslim bolehlah mngonsumsi (memilih air) pada apa yang pernah disabdakan Nabi Muhammad saw tentang air zamzam. Ketika Dr. Masaru Emoto mengambil foto air zamzam, lalu melakukan proses pengkristalan, terbukti hasil pengkristalan dari air zamzam sangat luar biasa kandungan nilai keindahannya.
Disamping juga, dari hasil penelitian itu air terindikasi dapat mengubah pikiran manusia. Dengan energi Hado melalui penulisan (informasi atau kata) positif ataupun negatif dengan mudah dipindahkan dari benda satu kebenda lainnya. Pemberian atau penulisan informasi atau kata “Kamu Bodoh” kepada air, lalu kemudian diserap dan memunculkan kristal jika air tersebut dibekukan, mempunyai Hado tersendiri. Jika air diperlihatkan atau dikonfirmasi makna-makna positif, maka kristal yang indah akan terbentuk sebagai refleksi yang indah, hal ini melambangkan sebagai refleksi dari Hado yang positif. Hado membentuk respon air terhadap informasi yang ia diterima (hal: 26). Lantas bagaimana Hado mengubah pikiran kita?
Setiap benda mempunyai gelombang intrinsik tersendiri. Benda yang dimaksud disini adalah semua materi atom yang membentuk molekul, dan partikel sub-atom yang membentuk atom (hal:27). Setiap pikiran kita dipengaruhi oleh gelombang intrinsik benda lain yang kita gunakan untuk membentuk resonansi. Intinya, benda-benda lain melalui Hado yang sejenis dengan Hado dalam diri kita dapat membentuk resonansi dengan tubuh kita. Dan juga, dapat membentuk resonansi dengan Hado yang datang dari benda-benda dengan Hado yang sejenis tersebut.
Penggunaan Hado dalam relasi antar-manusia adalah kisah romantis seorang laki-laki dan seorang wanita yang bertemu lalu saling jatuh cinta. Ketika mereka bertemu, Hado mereka pun bertemu sehingga terbentuklah resonansi. Dengan sendirinya, pikiran kita berubah melalui energi Hado. Yang tadinya, kedua lawan jenis tersebut mempunyai perasaan datar-datar saja, bisa jadi ketiban genre“cinta-kasih” yang lebih antar sesama manusia.
Kesaktian yang terakhir dari pada air adalah: “umat manusia tak dapat hidup tanpa aku (air)”. Kontribusi air sangatlah signifikan dalam kehidupan. Coba tenangkan sejenak pikiran kita menggunakan hitung-hitungan yang sederhana mengenai hikmah dan manfaat air. Seluruh aspek aspek kehidupan kita mustahil terlepas dari air. Bahkan, Dr. Masaru Emoto dalam buku ini memberikan penghargaan tertinggi kepada air melalui ungkapannya: “Kita adalah Air”.
Maka dari itu, kehadiran buku ini sangatlah berharga bagi kehidupan kita. Dengan meraup hikmah didalamnya, kita bisa mengetahui dan memilih air-air yang berkualitas. Peningkatan kualitas air itu adalah usaha yang dapat kita lakukan sendiri. Karena kita adalah air, hindarilah gangguan Hado melalui air yang kita minum.
Retorika Revolusi Fidel Castro
Judul Buku : Fidel Castro Revolusi Sampai Mati
Penulis : Ferdinand Zaviera
Penerbit : GARASI
Cetakan : I, Februari 2007
Tebal : 180 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Akhir-akhir ini, alam perwacanaan aktivis kerap kali dijejali oleh alur wacana para penguasa kiri. Tak jarang kita temui buku-buku berseliweran memuat ulasan-ulasan latar sejarah para pemimpin anti Amerika. Misalkan, buku yang menyibak Fidel Castro (Kuba), Mahmoud Ahmadinejad (Iran), Evo Morales (Bolivia), dan Hugo Chavez (Venezuela). Tentunya, –buku-buku tersebut dibikin– sengaja diperuntukkan ke khalayak guna dikupas lalu diperbincangkan. Apabila kita membacanya, sedikit banyak hikmah dapat kita raup, misalnya sikap berani, semangat revolusi, hingga bagaimana model pemimpin “diktator” yang menentang kekuasaan hegemonik dalam konstelasi perpolitikan dunia.
Dibuku ini, Fidel Castro Revolusi Sampai Mati melukiskan slogan-slogan kukuh altruistik yang dipertahankan oleh pemimpin Kuba sendiri. Seperti, “Partia o muerte, venceremos (Tanah air atau mati, demi kemenangan). Jika lafad tersebut dimaknai, maka tuntutan bergerak dinamis tanpa pantang mundur atau menyerah adalah pilihan mutlak. Kata-kata demikian, memang sengaja diletupkan sebagai kaidah komunal yang siap dijadikan pelatuk semangat perjuangan. Kegunaannya, yaitu agar diri dan bangsa ini tidak dijajah terus menerus oleh bangsa lain, baik disektor ekonomi, ideologi, hingga sisi ketinggian derajat humanitas. Seakan kalau begitu, kompleksitas makna kemerdekaan dapat teraih, yaitu kebebasan totalitas dari segala bentuk intervensi apapun.
Meski demikian, cita-cita pewujudan revolusi tak seringan membalikkan telapak tangan saja. Bejibun jalan terjal penuh liku yang harus dilalui, hingga mempertaruhkan nyawa sekalipun adalah awal semangat perjuangan universal. Sosok Fidel Castro, merupakan sosok yang lahir dari rahim kesadaran, ia sebagai penguasa Kuba sejak tahun 1959 harus mengawali Revolutionary Directorate atau gerakan 26 Juli guna meruntuhkan kekuasaan pemerintah saat itu yang dipimpin Fulgencio Batista. Pada tahun-tahun itulah, ia menggencarkan transfomasi di Kuba. Revolusi perdananya adalah mengganti ideologi negara menjadi ideologi komunis pertama didaratan Eropa.
Pemilik nama lengkap Fidel Alejandro Castro Ruz, yang akrab dipanggil Castro lahir pada tanggal 13 Agustus 1926 di Biran, Provinsi Holguin, Kuba. Castro kali awal tertarik untuk nimbrung didunia politik semenjak ia masih berstatus pelajar. Dimana, kala itu dia selalu saja aktif didunia pergerakan dan cakrawala organisasi. Sikap nasionalisme yang tertancap kukuh dalam diri hingga kritiknya terhadap Batista dan perusahaan Amerika Serikat serta pengaruh politik di Kuba, telah bergumul hingga menyemai diperasaan politiknya yang kemudian diterapkan pada sikap-sikap politik selanjutnya.
Dimata lawan-lawannya –baik didalam maupun diluar negeri– Castro populer sebagai sosok penguasa bergaya sang diktator, menyebabkan ia sangat dibenci dan wajib dienyahkan. Pelbagai ikhtiar pun mulai diluncurkan kepadanya hingga ia benar-benar lengser sebagai penguasa Kuba. Baik lewat jalur politik, ideologi, ekonomi, sosial, bahkan upaya pembunuhan pun dilancarkan demi berakhirnya etape kediktatoran Castro. Kendati pun, hingga kini kain bendera kejayaan Castro masih berkibar tak kunjung menampakkan lusuh sedikit pun. Castro tetap menjadi sesosok penguasa diktator karismatik-komunis yang masih bertahan didunia dengan masa pemerintahan yang paling lama.
Revolusi Castro di Kuba, sungguh-sungguh dilakukannya secara totalitas. Ia men-sweeping besar-besaran terhadap semua kalangan –baik kalangan dalam maupun luar–yang jelas dipandang berhaluan dengan dirinya. Berbagai kajian melaporkan bahwa ribuan lawan politik terbunuh selama kepemimpinan Castro yang sangat panjang tersebut. Sebagian rakyat Kuba yang dikasih label “kontrarevolusi”, “fasis”, atau “agen CIA” didepak menjadi “pesakitan” yang harus siap temani kesunyian di Barak-barak. Mereka dipenjara dalam kondisi yang sangat mengenaskan tanpa adanya proses pengadilan, bahkan ada sebagian mereka dieksekusi secepat mungkin.
Hal itulah yang menjadi asas argumentasi Amerika untuk mengatakan bahwa Castro dan Kuba adalah pelanggar HAM berat. Yaitu, negara yang tak sealur dengan kondisi dunia yang sudah berubah. Amerika kerapkali mencap Kuba sebagai negara yang tidak demokratis. Bahkan, AS menganggap bahwa Kuba dan Castro sebagai “poros setan” (axis of evil). Maka dari itu, Castro sebagai penjahat HAM dan juga seorang diktator harus digulingkan.
Sebenarnya, kalau membincangkan tentang pelanggaran HAM berat, Amerikalah justru yang bijak disemat sebagai negara pelanggar HAM berat dunia. Acap kita dengar bersama, apa yang sering didengungkan keras oleh Amerika sendiri, tak lain adalah proyek raksasa demokrasi. Akan tetapi, mengingat pepatah: “menelan air liurnya sendiri”, adagium ini tentu sangat pas dibidikkan ke tubuh Amerika. Masih segar diingatan kita, invasi, juga agresi militer AS ke Afganistan, dan Irak, serta Lebanon, yang tak sedikit telah menelan nyawa. Bukankah praktik AS itu, salah satu bentuk pelanggaran HAM berat didunia?
Seturut merujuk pada presiden Venezuela, Hugo Chavez sesama teman Fidel Castro, menanggapi atas karakter Amerika yang terus menerus menyerang negara-negara yang tak sehaluan dengannya. Chavez berkata keras, “Mereka (AS) mungkin sudah gila, ya? Setiap hari terus menyerang kami. Bertahun-tahun mereka mencoba mengisolasi dan memblokade Venezuela, tetapi mereka gagal. Dan, mereka akan terus gagal karena tindakan mereka salah!”
Kalaupun ditelisik, hakikat keberhasilan proyek demokrasi, yaitu memberi kesempatan negara-negara lain berkembang dan menunjukkan kekreatifannya, baik dibidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya sekalipun. Ironisnya, ruh demokrasi itu dilanggar sendiri oleh negara adikuasa yang mengaku paling demokratis didunia, yaitu Amerika. Ibarat pepatah lain, “Gajah didepan mata tampak, sementara semut diseberang lautan tak tampak.” Inilah kesalahan fatal Amerika, yang kian menggerogoti fondasi HAM dan demokrasi.
Dari bentuk cekamnya hegemoni AS itu, menyulut pihak Castro terus mengepakkan sayap perlawanan tak kenal lelah terhadapnya. Bahkan, wakil presiden Kuba, Carlos Lage, dalam pidatonya di KTT Tahunan Gerakan Non-Blok mengatakan, dunia sudah semakin tidak adil saat satu negara mendominasi dengan memberlakukan tekanan politik dan ekonomi terhadap negara lain.
Meski kini, Castro mulai menuai usia senja, yaitu menginjak umur 80 tahun, ia belum juga menampakkan kemanutan, dan ketertundukannya dibawah AS. Pada ulang tahunnya yang ke-80 jatuh ditanggal 13 Agustus 2006, pemimpin partai komunis ini mendapat sambutan meriah dari warga Kuba dan beberapa pemimpin negara sahabat. Ucapan selamat tahun pun dan kado istimewa datang dari Evo Morales, presiden Bolivia, dan Hugo Chavez, presiden Venezuela. Kedekatan dan jalinan persahabatan oleh kedua pemimpin negara di kawasan Amerika Latin tersebut terhadap Fidel Castro, menjadi simbol adanya kebersamaan untuk selalu menentang segala hegemoni Amerika Serikat dalam kancah perpolitikan dunia.
Kehadiran buku ini, sangat berfaedah dan membantu bagi siapapun, para aktivis gerakan guna dijadikan pelatuk berevolusi. Inilah kira-kira pesan dari semangat revolusi totalitas, yang perlu dipegang erat-erat oleh aktivis di Indonesia. Realitas sekarang, para aktivis gerakan ditengarai mandul bersuara kritis, entah apa yang membekap mereka sampai enggan berpayung semangat perubahan. Krisis kritis aktivis kini, memerlukan sosok aktivis pelopor guna menggugah keterlelapan mereka. Padahal, mengingat semangat awal perubahan adalah Revolusi Sampai Mati.
