Selasa, Juli 08, 2008

Demokrasi ala Kota Sejuta Bunga


Judul Buku : Demokrasi di Bumi Arema

Penulis : Drs. Peni Suparto, MAP

Kata Pengantar : Megawati Soekarnoputri

Penerbit : Perpustakaan Umum Kota Malang & Indo Press

Cetakan : I, Mei 2008

Tebal : xi + 132 Hlm

Peresensi : A Qorib Hidayatullah*


Tak ayal, saat peluncuran buku ini (14/06/2008) di gedung Sasana Budaya Universitas Malang, penulis buku ini mengalegorikan demokrasi di bumi Arema layaknya bunga dengan beragam warna, mulai dari yang berwarna hijau, ungu, putih, kuning, biru hingga warna merah. Warna-warni bunga itulah menjadi tanda kehidupan harmonis bagi masyarakat satu sama lain yang merupakan harapan demokrasi di bumi Arema ini.


Kehadiran buku Demokrasi di Bumi Arema ini, diniatkan guna merekam perjalanan demokrasi lokal Malang. Kendati demokrasi sejatinya dilahirkan rahim Barat, namun bumi Arema memiliki periode-periode sejarah yang begitu egaliter. Diakui dalam buku ini bahwa di kota Malang turut memiliki riwayat kebijaksanaan masa lalu yang pada zamannya mempratikkan nilai-nilai demokratis (hlm. 34-35).


Demokrasi Zaman Dulu

Di dalam prasasti Dinoyo misalnya, selain menceritakan keberadaan kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin Prabu Gajayana, pun juga pada zaman kuna itu, seorang raja masih menghargai eksistensi Brahmana yang merupakan representasi nurani rakyat pada zamannya.


Prasasti tahun 760 itu, menjabarkan secara singkat Sang Gajayana telah memberi agunan ketentraman bagi pemuka adat untuk hidup layak sebagai pribadi maupun tokoh masyarakat. Syahdan, peradaban manusia yang ribuan tahun lamanya itu, tindakan semacam ini terbilang demokratis di sejarah zamannya.


Begitu pula ketika melirik kudeta berdarah yang dilakukan Ranggah Rajasa Sang Amurwahbhumi (Ken Arok) di tahun 1220 M terhadap Tunggul Ametung yang berwatak jahat pada rakyat Tumapel. Daya revolusi ini dilakukan bersama rakyat, dipimpin Ken Arok, serta didukung para Brahmana dengan motif melawan penindasan.


Di zaman ini, potret gerakan semacam itu dapat dikatakan pemakzulan rezim otoriter, gerakan pembebasan atas sistem yang tidak demokratis serta upaya meruntuhkan kekuasaan despotis raja yang tidak pro-rakyat. Di mana sebenarnya, Tunggul Ametung menjadi raja tidak diharap rakyat, sehingga ia pun merampok harta rakyat guna disetor ke kerajaan Daha yang justru tidak memiliki kontribusi sedikit pun demi kemajuan Malang zaman itu.


Merujuk ke sejarahnya —seperti yang telah dikemukakan di atas— Malang telah memiliki “prasasti” demokrasi kendati bobotnya kecil. Tapi setidaknya, hal itu akan menjadikan bumi Arema sebagai miniatur demokrasi di Indonesia kelak. Masyarakat kota Malang yang heterogen sangat memerlukan prinsip demokrasi guna dinamisasi masyarakatnya.


Untuk memenuhi hal itu, penulis buku ini menggagas bagaimana menguatkan cengkraman demokrasi lokal. Yang coba ditawarkannya ialah terciptanya masyarakat dengan asas hidup saling gotong-royong, kebersamaan, mengasah empati antar masyarakat, membentuk komunitas masyarakat dialogis, serta sistem komunikasi antar masyarakat sehingga pihak kelurahan membuka ruang dialog seluas-luasnya dengan masyarakat grass-root.


Hal penting lain selain di atas yaitu, upaya mengait-kelindankan demokrasi dalam pilkada langsung. Pilkada merupakan kesempatan emas memperkuat demokrasi dengan membumikan pendidikan politik bagi masyarakat. Sehingga budaya demokrasi (democratic culture) selalu kukuh-kuat terbangun di tengah-tengah masyarakat.


Namun, meraih nilai-nilai demokratis itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Di buku ini pun dipaparkan ‘duri-duri’ yang akan mencederai prinsip-prinsip demokrasi. Seperti penghalalan tindak kekerasan sebagai jalan sah menggapai tujuan dan fanatisme akan ras. Kedua ‘musuh’ demokrasi itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memberangusnya demi kesadaran pentingnya tegaknya demokrasi.

Selain itu, buku setebal 132 halaman ini, juga memotret kota Malang dan konsep pembangunannya (hlm 19). Bagian ini sengaja oleh penulis buku ini selipkan untuk menjadikan kota Malang yang damai, sejahtera dan ijo royo-royo. Misalnya, lewat pengetrapan konsep Tri Bina Cita yang memiliki esensi pembangunan Malang sebagai kota wisata; Malang, sebagai kota industri; dan Malang sebagai kota pendidikan. Walau pun banyak orang menentang konsep ini, Tri Bina Cita masih relevan dan berpotensi mengembangkan kota Malang di masa depan.


Sejatinya, dalam konteks pembangunan demokrasi, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk ikut serta menyumbangkan pemikiran-pemikirannya. Dalam kajian demokrasi, buku Samuel P Huntington, The Third Wave of Democratization (1991), paling sering dikutip. Menurut Huntington, semangat utama adalah meruntuhkan rezim yang tidak demokratis dengan rezim yang demokratis. Demokratisasi pada intinya adalah revitalisasi sistem politik otoritarian menjadi sistem yang terbuka dan bertanggung jawab.


Sebagaimana ditulis oleh para teoritisi demokrasi, transisi hanya bisa diselamatkan jika setiap pemangku jabatan publik memiliki tanggung jawab dan komitmen yang kuat. Hal terpenting dari sebuah nilai demokrasi, sebagaimana ditulis William M Sullivan (1997), adalah kepercayaan, iktikad baik, dan idealisme. Pemerintah dan warga negara harus memilikinya sebagai dasar penyelesaian konflik, krisis ekonomi, dan krisis politik.


Al-hasil, kehadiran buku ini memiliki momen yang pas, di mana Jawa Timur khususnya, dan di Indonesia pada umumnya tengah menjelang pesta demokrasi. Dan sayangnya, buku yang dieditori Liga Alam M ini masih memiliki kekurangan di sana-sini, seperti desain cover yang tidak matching dengan muatan di dalamnya serta daftar isi yang tanpa mencantumkan halaman. Kendati demikian, cacat kecil itu tidak mengurangi substansi gagasan yang hendak disampaikan penulisnya dalam buku ini.

Mahasiswa dan Proyek Perubahan Pemimpin

Oleh: A Qorib Hidayatullah


Seperti sabda Nabi, "Setiap kamu pemimpin, dan setiap pemimpin pasti akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."


Pada tahap itu, setiap individu harus memasuki fase kekosongan. Suatu momen transenden untuk menisbikan status diri, ikatan primordial dan egosentrisme; membiarkan diri telanjang demi mencerap bahasa awam untuk merasakan denyut terlemah dari kehidupan masyarakat agar mampu membuka diri penuh cinta untuk yang lain.


Menjelang helat akbar pesta demokrasi di Jawa Timur, 23 Juli 2008, mahasiswa sebagai representasi kaum kritis pemerintahan tak bisa tinggal diam. Kendati tak sedikit dari mahasiswa yang terlibat suksesi Pilgub Jatim, namun itu bukan wujud ketumpulan suara kritis mahasiswa. Malainkan, itu sebuah gerakan mahasiswa guna menentukan platform dan keberanian melakukan tindakan dengan menggalang kekuatan di kancah politik praktis.


Intelektualisme Mahasiswa

Hakikat keberadaan kaum intelektual (mahasiswa) adalah kritisisme atau sikap kritis terhadap jagat realitas sekitar di mana ia berada. Kesadaran intelektual ini harus dapat mewujudkan gerakan yang kritis, independen, dan sosialis —dalam pengertian mau membela dan memihak kaum lemah tertindas. Sebab, kata Ali Syariati, misi suci kaum intelektual atau cendekiawan adalah membangkitkan dan membangun masyarakat bukan memegang kepemimpinan politik negara, dan melanjutkan kewajiban dalam membangun dan menerangi masyarakat hingga mampu memproduksi pribadi tangguh, kritis, independen, dan punya kepedulian sosial tinggi (1996).


Dalam bahasa Gramscian, kelompok itu disebut dengan intelektual organik, atau Moeslim Abdurrahman menyebutnya sebagai subaltern intellectuals, intelektual akar rumput. Lapisan kritis civil society yang bertindak sebagai artikulator anti-kemapanan dan ketidakadilan (2003). Kaum intelektual yang peka akan realitas sosial, problem ketidakadilan dan ketertindasan.


Jika kaum intelektual diibaratkan roh dan kekuasaan adalah badan, sang roh selalu mengontrol tindakan si badan yang menyimpang dan merusak bebrayan agung alias kehidupan. Posisi kaum intelektual yang oposisional ini, bagi kekuasaan tidak hanya mengganggu, tetapi juga berpotensi menggagalkan cita-cita korupnya. Karena itu, kekuasaan berupaya menaklukkannya. Penaklukan bisa dengan cara kasar (membunuh hak-hak sipil/asasi atau membunuh secara fisik), bisa dengan halus merekrut intelektual dalam kekuasaan menjadi legitimator kekuasaan.


Kendati demikian, sebagai elite intelektual, mahasiswa yang berasal dari dunia kampus kerap mengusung ide pembaharuan yang berdiri di atas pijakan idealisme dan moralitas.


Mahasiswa Agen Perubahan

Secara faktual, mahasiswalah yang menjadi ujung tombak sekaligus mainstream dari gerakan perubahan yang berlangsung di mana pun. Dengan nalar intelektualitasnya, mahasiswa mampu menemukan argumentasi rasional mengenai kondisi yang bobrok dan tidak sesuai dengan semangat konstitusi atau nilai kemanusiaan. Hanya mahasiswa yang mampu menjadi pionir perubahan, sekaligus menjadi kekuatan yang paling ditakuti rezim penguasa despotik yang korup di belahan mana pun.


Tidak mengherankan, bagi Indonesia, gerakan mahasiswa menuntut perubahan, berlangsung pasang surut sejak 1966. Pemerintah Soekarno yang mengabaikan demokrasi, makzul oleh gerakan mahasiswa dan pemuda, pada 1966. Soeharto yang baru berkuasa secara de-jure empat tahun, harus menghadapi gelombang protes gerakan mahasiswa 1974. Sejak saat itu, Soeharto mengerangkeng mahasiswa yang telah memberikan kedudukan padanya. Gerakan mahasiswa, bangkit kembali 1977-1978 hingga mencapai puncaknya Mei 1998. Tuntutan reformasi nasional yang dikumandangkan mahasiswa, memicu kesadaran masyarakat untuk mendukung gerakan reformasi yang dimotori mahasiswa.


Pada saat itu, hanya mahasiswalah yang berani bersuara di bawah ancaman laras senjata dan berani melangkahkan kaki di bawah desingan peluru dan gas air mata. Lebih dari tiga puluh tahun di bawah rezim Soeharto, tidak ada perubahan yang berarti dalam demokrasi.

Konsekuensi sebuah proses yang demokratis adalah terbangunnya kehidupan masyarakat yang demokratis. Demokrasi menuntut berfungsinya kontrol sosial, partisipasi masyarakat, jaminan penegakan hukum, terbukanya akses kegiatan ekonomi yang luas, perlindungan negara terhadap hak-hak individu, serta menempatkan militer sebagai alat negara yang tidak terlibat dalam urusan politik.


Mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan), selayaknya memendarkan kekuatan perubahan di tengah-tengah masyarakat. Dalam konteks ini, mahasiswa dituntut ikut andil mengubah prilaku pemimpin. Hampir sepuluh tahun lebih melewati masa transisi demokrasi (1998-2008), jarang kita menemukan hadirnya para politisi seperti Barack Obama yang berpolitik dengan ide/gagasan.

Setelah Senator Barack Obama mengeluarkan buku The Audacity of Hope (2006), masyarakat Amerika terhenyak ketika mereka baru sadar bahwa pekerjaan seorang senator tidak saja berdebat di ruang-ruang sidang, berorasi di hadapan para konstituen, melainkan juga bisa ikut memperkaya khasanah pengetahuan masyarakat lewat goresan kata-kata yang inspiratif. Buku berikutnya From Promise to Power (2007) yang tulis David Mendell makin memberi keyakinan bahwa berpolitik tanpa ide dan gagasan sama artinya dengan memangku jabatan tanpa tanggungjawab.


Adalah tanggungjawab sejarah generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk senantiasa berjuang memperbaiki nasib bangsanya. Sebagian besar rakyat kita adalah masyarakat yang belum bebas dari kebodohan dan kemiskinan, dipundak mahasiswalah mereka menaruh harapan akan masa depan anak-anaknya agar hidup lebih baik di masa mendatang. Melalui kemampuan intelektualitas, seyogianya mahasiswa mampu menangkap perasaan rakyat akan pentingnya kesejahteraan dan demokrasi, yang adil dan merata, sebagai konsekuensi logis dari negara yang merdeka serta berdaulat.


Rabu, Juni 11, 2008

LESBUMI, Ikon Modernitas NU


Judul Buku : LESBUMI: Strategi Politik Kebudayaan

Penulis : Choirotun Chisaan

Penerbit : LKiS Jogja

Cetakan : I, Maret 2008

Tebal : xvi + 247 Halaman

Peresensi : A Qorib Hidayatullah*


Beragam judul buku bermunculan guna merekam gerak avonturus NU menjelang satu abad. Nur Khalik Ridwan misalnya, beberapa bulan silam ia membikin buku NU dan Neoliberalisme: Tantangan dan Harapan Menjelang Satu Abad (2008). Nur Khalik merupakan penulis prolifik intelektual muda NU yang berijtihad literasi kreatif sebab prihatin akan tempaan nasib yang dialami organisasinya ke depan.


Dalam bukunya, Nur Khalik membaca gejala amuk neoliberalisme yang ditengarai gampang meremuk-redamkan masa depan warga NU. Pendeknya, Nur Khalik melacak tantangan NU di masa mendatang. Berbeda dengan Nur Khalik, penulis buku ini, Choirotun Chisaan, malah bernostalgia hendak meraih ikon berharga NU yang kini lambat laun ditengarai terancam lenyap. Ikon itu adalah Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) yang konon dielu-elukan sebagai penanda kemodernan di tubuh NU.


Sejak menarik diri dari partai Masyumi tahun 1952, partai NU berupaya memodernisasi dirinya. Hal ini dibuktikan bahwa di tubuh partai NU pun memiliki perhatian pada bidang pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, pertanian, perempuan, pemuda, dan buruh. Sehingga pada gilirannya, partai NU mulai merangsek ke bidang lainnya, yaitu Lesbumi. Lesbumi dibentuk pada tahun 1962. Berbagai macam artis, pelukis, bintang film, pemain pentas, dan sastrawan terhimpun di Lesbumi. Tak ayal, lembaga ini pun beranggotakan ulama yang memiliki dasar seni yang cukup baik.


Kehadiran Lesbumi tak semulus yang diharapkan. Lembaga ini mengundang polemik dengan munculnya anggapan bahwa Lesbumi sebagai penggerogot martabat NU (hal 117). Ekses gerak kesenian Lesbumi berimplikasi memicu keresahan di kalangan ulama. Ulama berbeda perspektif (ikhtilaf) menyikapi ihwal kesenian modern yang diusung Lesbumi. Misalnya, sikap ulama Pasuruan yang mengharamkan drama, sementara ulama Yogyakarta membolehkannya.


Kendati demikian, kesan kuat tampilnya Lesbumi di tubuh NU menjadikan penanda kemodernan penting, di mana seni budaya merupakan bidang fokus perhatian baru bagi NU. Bahkan, Pengurus Ranting NU Telogosari, Pasuruan, Jatim, lewat sebuah surat yang dilayangkan ke PBNU (PP Lesbumi) tertanggal 1 Maret 1963, menghendaki agar PP Lesbumi memberi tuntunan untuk melaksanakan kesenian dalam Islam selain kesenian diba’, hadrah, jam’iyatul qurra’, dan pencak (hal 119). Mereka menginginkan agar bentuk kesenian modern, seperti gambus, drama, teater, dll, diberikan tuntunannya karena mereka tidak ingin ketinggalan zaman.


Di samping itu, Lesbumi sebagai ikon modernitas NU tentu tak luput dari siapa yang berperan dan terlibat aktif mengurusi lembaga ini. Pengurus-pengurus Lesbumi memiliki latar belakang berbeda dibanding warga NU kebanyakan. Bila berkomitmen merujuk Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga NU menyangkut keanggotaan,—baik sebelum NU menjadi partai politik (1926) maupun sesudahnya (1952)—, bisa dimafhumi bahwa seniman dan budayawan pun bebas leluasa bergabung dengan partai NU. Dengan begitu, seniman-budayawan dapat dikategorikan sebagai anggota “bukan guru agama” (ulama).


Citra Lesbumi memodernkan NU tak lepas dari personifikasi dari ketiga tokoh pendirinya: Djamaluddin Malik (1917-1970), Usmar Ismail (1921-1971), dan Asrul Sani (1927-2004). Lewat Lesbumilah NU mengekplorasi wujud relasi antara agama, seni, dan politik. Sebagai organisasi kebudayaan di bawah naungan NU, Lesbumi telah melakukan kompromi politik dan agama dalam konteks “kemusliman” melalui upaya pendefinisian seni-budaya “Islam.”


Seperti hasil Musyawarah Besar yang diselenggarakan empat bulan pasca Lesbumi dibentuk, ialah merumuskan tiga hal pokok yang menjadi pedoman bagi kaum seni Lesbumi. Ketiga hal pokok itu meliputi penafsiran tentang kebudayaan Islam, seni Islam, dan seniman dan budayawan Islam. Tiga komponen asasi itu mencerminkan prinsip yang dianut kaum Lesbumi dengan menjadikan seni untuk mengabdi kepada Tuhan. Inilah titik penting yang membedakan Lesbumi dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) PKI.


Pendapat ekstrim mengemukakan bahwa muasal Lesbumi muncul terkait dengan faktor ekstern kedekatan hubungan antara Lekra dengan PKI. Dus, kelahiran Lesbumi merupakan bagian dari pola umum reaksi Lekra-PKI. Tujuannya ialah pendefinisian “agama”—tentu saja agama Islam—sebagai unsur mutlak dalam nation-building yang sedang dijalankan oleh pemerintah Indonesia, khususnya di bidang kebudayaan.


Kemunculan Lesbumi pun juga tak bisa dilepaskan dari momen politik dan momen budaya sekaligus. Lesbumi berkait-kelindan dengan momen politik ialah dikeluarkannya Manifesto Politik pada tahun 1959 oleh presiden Soekarno (hal 133). Di mana waktu itu, lagi gencar-gencarnya pengarusutamaan Nasakom dalam tata kehidupan sosio-budaya dan politik Indonesia, serta perkembangan Lekra yang makin menampakkan kedekatannya dengan PKI. Pada saat yang bersamaan, Lesbumi juga tak dapat dilepaskan dari momen budaya. Lesbumi dijadikan payung pemenuhan kebutuhan akan pendampingan pada kelompok-kelompok seni budaya di lingkungan nahdhiyyin dan modernisasi seni-budaya. Hingga pada akhirnya, dengan latar belakang momen politik dan momen budaya itulah Lesbumi lahir dan berkembang.

Pada sejarah zamannya, seni-budaya pesantren merupakan basis kultural Lesbumi, sehingga pesantren menemukan ruang sosio-kulturalnya dalam pentas budaya nasional. Kalau tidak berlebihan, kehadiran Lesbumi bisa dikatakan menjadi pendobrak fenomena seni-budaya pesantren yang lazim dipandang tradisional, kolot, kearab-araban, dan tak sejalan dengan modernitas.


Choirotun Chisaan lewat bukunya ini —di mana sebelumnya merupakan penelitian tesis S2-nya di Program Magister Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta—, meneroka mengapa Lesbumi lenyap dari perbincangan sejarah seni-budaya dan politik di Indonesia.


Buku ini memiliki data yang cukup matang. Seperti pengakuan penulis di dalam bukunya ini, riset pustaka tentang Lesbumi dilakukan hingga perpustakaan ARI dan NUS Singapura. Buku semacam ini tergolong langka hingga layak diapresiasi dengan membacanya.

Pesona Sang Kandidat Kulit Hitam


Judul Buku : OBAMA: Tentang Israel, Islam, dan Amerika

Penyusun : Taufik Rahman, dkk.

Penerbit : Hikmah

Cetakan : I, April 2008

Tebal : xx + 281 Hal

Peresensi : A Qorib Hidayatullah*



Barack Obama, akhir-akhir ini popular dibincang publik Indonesia. Kandidat berkulit hitam yang bertanding dalam Pemilu AS 2008 itu disebut-sebut pernah tinggal dan sekolah di Jakarta pada 1967-1971. Hal inilah yang menyuntikkan daya kuat ikatan emosional publik Indonesia dengan Barack Obama.


Di Indonesia, Obama tercatat pernah menuntut ilmu di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Menteng 01 yang terletak di jalan Besuki nomor 4 Jakarta Pusat. Sekolah ini, didirikan oleh Belanda pada 1934 dan diserahterimakan kepada pemerintah Republik Indonesia pada 1961. Sehingga bila orang Indonesia diperkenankan memilih, maka Barack Obama yang akan menjadi presiden negara adidaya itu. Paling tidak itulah yang terjadi dalam simulasi pemilihan presiden AS di Kedutaan Besar Amerika pada Februari lalu. Simulasi itu melibatkan mahasiswa, pengamat politik dan hubungan internasional, serta aktivis organisasi nonpemerintah Indonesia.


Obama adalah sosok pemimpin penuh daya pikat. Kepribadiannya yang menarik serta lihai beradaptasi dengan siapa pun menjadikan dirinya mudah diterima publik AS hingga menghantarkannya sebagai senator Illinois. Georgey Clooney menyebut Obama, yang lahir di Honolulu, Hawaii, pada 4 Agustus 1961, punya kualitas yang orang tak bisa mengajarkannya dan mempelajarinya. “Dia masuk ke satu ruangan dan kau ingin mengikutinya ke suatu tempat, di mana pun,” kata Clooney.


Sebagian dari bukti daya tarik itu tampak, misalnya, dari terus berderetnya barisan orang-orang ternama, para selebritas, yang tampil menjadi pendukung: Oprah Winfrey (host acara televisi), Edward Norton, Will Smith, George Clooney, Rob Reiner, Matt Damon, dan Ben Afflek (aktor; sutradara), Warren Buffet (investor; orang terkaya di dunia), Steven D. Levitt (penulis buku laris Freakonomics), dan lain-lain.


Komitmen gigih mengabdi kepada negara dan menciptakan perdamaian di AS serta menjunjung tinggi demokrasi, menyebabkan Obama mendulang banyak kepercayaan dari warga AS. Dari apa yang berlangsung dalam rangkaian pemilihan tahap awal, pemilihan untuk menentukan kandidat tunggal di lingkungan Partai Demokrat sendiri, bisa disaksikan betapa Obama bagaikan magnet yang berkekuatan luar biasa besar. Dia membuat saingan terkuatnya, Hillary Clinton, istri mantan presiden Bill Clinton dan senator dari Negara Bagian New York itu, kelimpungan. Pencalonan Obama diyakini mengandung potensi transformatif.


Melirik substansi dan spektrum ide-ide yang ditawarkannya, Rizal Mallarangeng —pengamat politik di Indonesia jebolan Ohio State University AS—menempatkan Obama sebagai politikus moderat dalam tradisi liberal Amerika. Ia merelikui tradisi politik yang dirintis Bill Clinton dan Tony Blair. Hal itu membedakan Obama dengan para politisi kulit hitam yang cenderung memilih garis ekstrim, baik di kiri (Jesse Jackson) maupun di kanan (Alan Keyes).


Obama hendak memberi kesan bahwa dirinya cenderung mempraktikkan politik jalan tengah. Misalnya, di bidang pembangunan ekonomi Amerika, Obama mengakui pentingnya mekanisme pasar, namun tetap ingin mengembangkan peran negara yang sehat dan efektif. Dalam bidang kehidupan keagamaan, ia bersimpati terhadap kaum konservatif, namun ia memahami betul bahwa tradisi sekulerisme Amerika adalah tradisi sakral yang harus terus diperkuat. Atau dalam menjembatani perbedaan kaum Demokrat dan kaum Republikan, ia ingin membangun sebuah konsensus bersama yang mempertemukan secara kreatif pandangan-pandangan yang berbenturan (hlm. 22-23).


Meski Obama secara kasat mata memiliki masa depan karier politik yang cerah, namun rival-rival politiknya tak kalah hebat untuk menjatuhkannya. Lawan politik Obama sering mempersamakan nama lengkapnya —Barack Hussein Obama, dengan dua tokoh yang sangat dimusuhi pemerintahan Amerika, Osama bin Laden dan Saddam Hussein.


Selain itu, enigma keislaman Obama menjadi lahan sasaran empuk musuh politiknya. Seperti yang dilakukan Judy Rose, koordinator relawan kampanye Hillary Clinton, yang mengirim email berantai dengan menyebut Barack Obama adalah seorang Muslim yang ingin menghancurkan Amerika Serikat (AS). Dengan begitu, Obama langsung dan secara tegas menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Kristen dan tidak pernah menjadi Muslim. Dia disumpah di bawah Injil ketika menjadi senator untuk mewakili daerah pemilihan Illinois. Dan sejak awal dia adalah anggota United Church of Christ, sebuah gereja Protestan yang dikenal sangat liberal.


Yang jelas, Obama kini menjadi tumpuan harapan banyak orang, baik warga AS sendiri maupun warga negara lain. Seperti yang ditulis Abdillah Toha —anggota komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI—, dalam kata pengantar untuk buku ini, bahwa Obama dan Hillary Rodham Clinton diharap menjadi alternatif positif karena telah rajin melancarkan kritik kepada kebijakan luar negeri Bush.


Hingga kini masih jadi teka-teki siapa yang nantinya akan menggantikan posisi George W. Bush. Namun, pemilih calon presiden AS mungkin bisa menggunakan penemuan yang dirilis grafolog sebagai bahan pertimbangan. Grafolog adalah ilmu membaca sifat seseorang berdasar tulisan tangan. Beberapa grafolog telah merilis hasil analisis tentang kepribadian Barack Obama, Hillary Clinton, John McCain berdasar tulisan tangan mereka.


Hasilnya, disimpulkan bahwa Hillary adalah orangnya cerdas dan tegas, McCain sombong dan mudah berubah pendirian, sedangkan Obama mampu menyesuaikan diri dengan berbagai orang dan situasi. Cukup dengan tanda tangan dari tiga kandidat itu saja, kepribadian mereka dapat disimpulkan.


Meski grafolog bukan merupakan hal yang dianggap serius di AS maupun Eropa, bukan berarti tidak ada yang berminat dengan analisis mereka. Setiap ada pemilihan presiden AS, para grafolog selalu merilis analisis tulisan tangan kandidat calon presiden untuk memuaskan rasa ingin tahu pemilih.


Buku ini, selain memaparkan kisah masa kecil Obama di Jakarta, juga menampilkan sosok Obama dewasa. Penulisnya tak ingin pembaca hanya disuguhi perjalanan hidup Obama, tapi bagaimana Obama agar dikenal luar dalam.

Kamis, Mei 01, 2008

Kedahsyatan Talk Show Kick Andy


Judul Buku : KICK ANDY: Kumpulan Kisah Inspiratif

Penulis : Gantyo Koespradono

Penerbit : Bentang

Cetakan : I, Maret 2008

Tebal : x + 274 hlm

Peresensi : A Qorib Hidayatullah*



Di tengah semarak tontonan layar kaca dinilai hanya tayangan murahan, tak mendidik dan mengajarkan hidup konsumtif serta primitif, Kick Andy menampilkan tayangan berbeda. Berdasar The Power of Kick Andy, acara ini hendak memelopori stasiun televisi agar menyajikan program yang bermutu.


Tak dimungkiri, banyak stasiun televisi menyiarkan tayangan-tayangan yang hanya menuhankan rating, sehingga pernah ada masa di mana acara misteri menjadi program unggulan. Mengomentari acara-acara televisi yang seperti itu, seorang anggota masyarakat dalam sebuah blog menulis seperti ini: “Saya saat berkeluarga nanti dan jika siaran televisi kita belum juga berubah atau lebih buruk, lebih baik saya membawa keluarga dan anak-anak saya pulang kampung dan tinggal di pedalaman di mana tidak tercemar dengan siaran-siaran ‘sampah’ yang ada di televisi Indonesia. Benar, saya sudah sangat muak.”


Belakangan ini, selain sinetron, tak sedikit stasiun televisi kita yang menayangkan acara-acara kuis berbau judi yang memotivasi orang untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan pintas. Apalagi acara infotainment, jangan ditanya lagi. Program gosip-menggosip para artis ini mengambil porsi waktu paling besar dari jam tayang stasiun televisi kita. Bayangkan, ada sebuah stasiun televisi yang menayangkan seri acara seperti itu pada pagi buta, siang, sore, dan malam.


Sebagai talk show yang masuk peringkat 20 besar top program Metro TV, topik-topik Kick Andy sering menyentak pemirsa karena kerap menampilkan peristiwa masa lalu yang sudah dilupakan banyak orang. Kick Andy awalnya hanya sebuah kerinduan yang diwacanakan oleh bos Metro TV, Surya Paloh, yang ingin mendayagunakan kemampuan Andy F Noya (akrab dipanggil Andy) untuk tampil apa adanya di layar kaca.


Di mata Surya Paloh, Andy yang suaranya biasa-biasa saja, bahkan cenderung cempreng, punya kemampuan luar biasa, terutama dalam menggali informasi yang “disembunyikan” narasumber. Dalam pengalamannya memandu acara talk show Today’s Dialogue di Metro TV, para narasumber —umumnya para politikus dan pejabat— kerap dibuat tak berdaya saat harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Andy yang selalu menukik pada sasaran yang jawabannya ditunggu-tunggu pemirsa.


Lewat suntikan semangat gigih dari para tim kreatif Kick Andy yang berjumlah 13 orang, akhirnya menghantarkan acara ini mendapat tempat sambutan luar biasa di hati penontonnya. Meski tayangan Kick Andy juga menjunjung semangat idealisme, acara ini pun ternyata laku dijual. Tak ayal, setiap Kamis pukul 22.05-23.00 WIB penonton setianya bersigegas memindah channel TV ke Metro TV guna menonton live acara Kick Andy. Tayangan-tayangan Kick Andy yang sarat inspirasi serta motivasi, memagnet penontonnya agar tak melulu menonton dengan mata dan pikiran saja tapi juga dengan hati.


Berkat kenyentrikannya saat jadi host di Today’s Dialogue, Andy pun ditahbis pemimpin Metro TV untuk memandu langsung Kick Andy. Andy memiliki nama lengkap Andy Flores Noya, pria berambut khas kribo kelahiran Surabaya. Andy mengaku merasa jatuh cinta pada dunia tulis-menulis mulai sejak kecil. “Kemampuan menggambar kartun dan karikatur semakin membuat saya memilih dunia tulis-menulis sebagai jalan hidup saya,” kata Andy (hlm 40).


Di bidang jurnalisk, beragam media cetak (koran) dan media elektronik (televisi) ia gawangi. Berbekal pengetahuan jurnalistik yang ia timba di Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang Institut Ilmu Sosial dan Politik Jakarta) menjadikan karir jurnalistiknya melesat cepat. Dan ketangkasan Andy di bidang jurnalistik itu membuat acara Kick Andy semakin hidup.


Persis seperti komentar-komentar para tokoh yang menjadi narasumber Kick Andy. Misalnya, pendapat Gus Dur, yang mengatakan keistimewaan Kick Andy terletak pada gaya Andy mewawancarai dengan pertanyaan yang menantang. Sedangkan Aa Gym mengomentari Kick Andy merupakan talk show yang amat manusiawi dan menyentuh hati karena dalam bahasa dan caranya menggunakan hati.

Sesuai dengan karakter dan gaya Andy saat memandu Today’s Dialogue, Kick Andy memang harus nakal, nyentil, nyindir, tajam namun tidak menyakitkan narasumber. Berbeda dengan Today’s Dialogue yang banyak memasuki wilayah politik, Kick Andy menyajikan topik-topik sosial, kesehatan, pendidikan, budaya, dan masalah kemasyarakatan lainnya.


Seperti kisah-kisah yang telah ditayangkan dan terhimpun rapi di buku ini dari episode ke episode, “Cantik dengan Plastik”, “Jangan Bugil di Depan Kamera!”, “Tragedi Itu Tetap Misteri”, “Pengakuan Mayor Alfredo”, “Republik Benar-benar Mabok”, “Xanana Gusmao”, “Pergolakan Batin Sang Model”, “Tragedi Anak Bangsa”, “Sepenggal Asa di Balik Terali”, dll.


Kick Andy dirancang untuk memberikan inspirasi bagi penonton. Misalnya mereka yang cacat tidak merasa terbatas dengan cacatnya, tidak merasa hidupnya hancur. Sebaliknya malah justru berprestasi, sehingga memotivasi penonton untuk juga memiliki semangat hidup dan daya juang tinggi.


Bahkan, Andy pun sebagai host sempat turut larut saat acara yang dipandunya mengangkat topik kekerasan pada anak-anak dan remaja di sekolah (bullying). Andy menangis mendengar penuturan Joko Kirsan. Joko adalah ayah Vivi Kusrini, seorang pelajar putri, siswi SMP 10 Bantar Gebang, Bekasi, yang diejek teman-teman sekolahnya lantaran ayahnya penjual bubur. Andy menangis karena teringat ayahnya yang juga “hanya” tukang servis mesin tik (hlm 38).

Buku ini, Kick Andy: Kumpulan Kisah Inspiratif diniati telah lama oleh Gantyo Koespradono agar cepat kelar dalam penulisannya. Kehadiran buku ini sangat cocok untuk mahasiswa komunikasi, praktisi jurnalistik, pengamat komunikasi, dan siapa saja yang ingin menonton dengan hati. Kisah-kisah yang disajikan dalam buku ini mudah membikin pembaca mengucurkan air mata.

Potret Kegagalan Pemimpin Indonesia


Judul Buku : Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia

Penulis : Ishak Rafick

Penerbit : Ufuk Press

Cetakan : I, Februari 2008

Tebal : xx + 422 Halaman

Peresensi : A Qorib Hidayatullah*


Bung Karno pernah mengungkap, “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Kalimat itu perlu dihadirkan terus-menerus dalam helat kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini. Negara ini bisa bangkit maju, keluar dari belitan masalah, tentu tak luput dari pembacaan sejarah kegagalan dari lima pemimpin Indonesia.


Bermula pada bulan Juli 1997, ditengarai awal munculnya krisis moneter (krismon) yang menyebabkan nilai tukar rupiah mengempis terhadap US$. Keadaan itu membikin khawatir banyak orang. Pelaku bisnis yang sebelumnya mengandalkan utang luar negeri, berubah makhluk yang paling cemas. Sebab setelah kekuatan intervensi ditambah, nilai rupiah langsung masuk ke jurang yang semakin lebar.


Keadaan itu, mendesak para pengamat ekonomi untuk memetakan dan melakukan analisis, mengapa Indonesia gagal tinggal landas setelah 32 tahun Orde Baru. Dan, bagaimana konsepsi peranan dan ketangguhan negara serta koorporasi dalam menghadapi gejolak krisis baik pada tahap awal maupun pasca krisis. Buku ini, Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia, karya Ishak Rafick, mengupas kegagalan-kegagalan yang dilakukan pemimpin-pemimpin Indonesia.


Krismon, teramal sejak awal oleh pakar-pakar ekonomi semacam Managing Director Econit, waktu itu Dr. Rizal Ramli, pengamat ekonomi kritis Kwik Kian Gie, dan Fu’ad Bawazier —mantan Dirjen Pajak yang kemudian diangkat Soeharto menjadi Menteri Keuangan pada Kabinet Pembangunan VII. Namun, suara-suara pakar itu tersaingi oleh suara-suara lain yang lebih lantang —baik di dalam kabinet maupun di luar. Suara-suara yang lantang itulah akhirnya malah memberi semangat pemerintah untuk ikut saran IMF.


Padahal, kebijakan ekonomi nasional yang melulu berkiblat pada IMF, tampak memperjelas bahwa negara Indonesia hampa ideologi, digilas habis dominasi pragmatisme. Pemimpin-pemimpin Indonesia ditengarai hanya mempertontonkan keadaan negaranya yang lemah visi, sehingga tak ada pilihan lain selain memperkukuh dominasi IMF dan Bank Dunia.

Selain itu, semakin patuh pada pola pikir IMF, membuktikan bahwa elit pengambil kebijakan ekonomi bangsa ini tak kreatif dan memiliki ketergantungan mental dan intelektual sangat kuat terhadap hutang dan pola pikir IMF yang sangat monetaris. Di titik inilah, pemerintah diharap mampu mengembalikan kedaulatan ekonomi dan berupaya menghindari peranan yang sangat besar dari lembaga-lembaga internasional —IMF dan Bank Dunia— dalam menentukan arah dan kebijakan ekonomi nasional.


Dalam konteks itulah, pelajaran menarik saat kita menilik krisis ekonomi yang melanda Asia pada pertengahan 1997. Di mana, negara-negara Asia Timur dan Tenggara justru memanfaatkan krisis ekonomi sebagai momentum historis dengan melakukan berbagai langkah perbaikan struktural. Mahathir misalkan, dengan sadar menolak resep IMF karena pasti akan menimbulkan gejolak ekonomi dan politik di Malaysia. Sementara di Singapura, malah melanjutkan tradisi berpikir Goh Keng Swee (arsitek ekonomi Singapura) yang kritis terhadap dampak negatif dari kapitalisme predatori. Mengambil langkah-langkah penguatan lembaga keuangan dalam negeri dan perbaikan corporate governance guna meredam badai krisis moneter.


Matinya Ideologi Pemilu

Selain tajam menganalisis problem krisis moneter yang menimpa bangsa ini, Ishak Rafick —dalam bukunya ini— juga melakukan pembacaan kritis atas dinamika politik pemilu 1999 dan pemilu 2004. Berdasar argumentasi kuat, Ishak menarik kesimpulan yang tepat tentang kematian ideologi pemilu dalam percaturan politik di Indonesia.


Ternyata pasca Soeharto makzul, ada ruang kosong demokratisasi yang dengan gesit diambil alih oligarki politik serta ekonomi yang tumbuh pada masa Orde Baru. Jangan aneh, bila transisi dari sistem otoriter ke sistem demokratis tidak membawa manfaat besar pada kemajuan negara maupun kesejahteraan rakyat. Jamak diketahui, proses pemilu atau pun pilkada sangat diwarnai dan didominasi oleh politik uang.


Apabila kecenderungan itu terus berlanjut, maka akan timbul pertanyaan, apakah demokrasi bermanfaat untuk rakyat mayoritas. Seperti yang dikatakan Ishak, matinya ideologi dalam proses politik Indonesia merupakan salah satu penyebab utama komersialisasi dan dominasi politik uang dalam proses demokrasi di Indonesia.

Jalan Baru

Tak dapat dimungkiri, masa depan negara dan bangsa ini sekarang berada di titik nadir. Tanpa perjuangan Kabinet Indonesia bersatu SBY-JK, dapat dipastikan nasib rakyat semakin memburuk. Gejalanya mulai tampak bernas, merebaknya pengangguran, busung lapar, kurang gizi, meningkatnya angka putus sekolah, bencana alam, serta berbagai penyakit ringan yang merenggut nyawa —cuma karena si sakit tak punya biaya untuk berobat.


Bila negara-negara maju mampu memberikan asuransi kesehatan kepada segenap rakyatnya dan dunia pendidikan dibikin gratis, bahkan diguyur beasiswa sebagai investasi masa depan, tentu rakyat Indonesia juga berhak mendapat perlakuan serupa dari pemerintahnya.


Buku ini sangat manantang pikiran sekaligus menggugah nurani. Lewat ketangkasan Ishak Rafick —sebagai wartawan senior— yang telah lama bergelut di dunia jurnalistik, mampu menyampaikan topik berat dalam buku ini secara ringan. Bagaimana pun, buku ini telah berkontribusi besar demi kecerdasan para pengambil kebijakan —utamanya di bidang ekonomi— dengan tidak lagi terjerumus dalam neoliberalisme kebijakan.

Kamis, April 10, 2008

Wajah Timur Tengah di Indonesia


Judul Buku : Jejak Kafilah: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia
Penulis : Greg Fealy dan Anthony Bubalo
Penerbit : Mizan
Cetakan : I, Desember 2007
Tebal : 202 hal
Peresensi : A Qorib Hidayatullah


Islam yang sejatinya berwajah lembut serta penuh sentuhan kasih sayang berubah garang kerap menampilkan kekerasan. Islam kini ditengarai pelepas pelatuk terorisme. Beragam kampanye menyeru perlunya curiga pada aktivisme muslim. Benarkah Islam demikian?


Islam adalah agama berisalahkan perdamaian serta cinta kasih. Pun Islam —juga agama lainnya—, terlahir sebagai agama rahmat bagi semua telah teruji kesahihannya. Hanya keterlibatan faktor lain yang begitu kompleks menjadi penentu terjadinya itu semua. Di Indonesia misalnya, di mana segala biang radikalisasi tertuju pada Islam patut diklarifikasi secepat mungkin.


Buku ini, Jejak Kafilah: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia, memberi kesaksian lewat argumentasi kuat atas tindak kekerasan yang belatar belakang aktivis muslim Indonesia. Dalam Islam, gerak gagasan ber-amar ma’ruf nahi munkar ialah Islamisme. Islamisme semacam paham diskursus yang berkembang tentang hubungan antara Islam, politik, dan masyarakat. Penting dipahami, bahwa Islamisme tak sekadar ihwal ide-ide yang berkembang dan berubah sepanjang masa, tapi juga momen-momen historis bilamana ide-ide itu bekerja.


Menguak akar semangat Islamisme dilahirkan, yaitu bertujuan demi kebangkitan atau pembaruan Islam. Islamisme sebagai pemantik ide sentral yang mengilhami Dunia Islam saat tengah berada dalam kemunduran dan bagaimana harus dibenahi. Ruh paham itulah, oleh kelompok besar Islamis diserap langsung dari Ikhwanul Muslimin Mesir sebagai inspirasi dengan menjadikan warisan tradisi revivalis-reformis yang berniat menggerakkan perkembangan sejarah Islam.


Tengok misalkan, dua gerakan revivalis yang khususnya menyediakan konteks bagi perkembangan Islamisme kontemporer di Timur Tengah (TT). Suatu gerakan yang berawal pada abad ke-18 dari Muhammad ibn Abd al-Wahab (1703-1787) di Arabia Tengah; dan gerakan pada abad ke-19 dan ke-20 yang dipimpin tiga jawara pemikir Islam: Jamal al-Din al-Afghani (1839-1897), Muhammad Abduh (1849-1905), serta Rasyid Ridha (1865-1935).


Perubahan konkret yang diusung Ibn Abd Wahab, hendak menggerus tradisi pra-Islam dan praktik lokal suku-suku Badui di Arabia Tengah yang “menodai” kemurnian Islam (hal 30). Begitu pun perubahan al-Afghani, Abduh, dan Ridha, yang saat itu berhadapan dengan disparitas kekuatan tajam antara Eropa dan TT. Mereka dirundung kekhawatiran hebat, pesimis temukan solusi cemerlang bagaimana Dunia Islam yang mundur dapat terus melawan menyerap kemajuan Barat dalam hukum, industri, serta teknologi militer. Bagi al-Afghani, kuncinya tidak dengan mengadopsi ide-ide Barat secara membebek (epigon).


Dalam benak para jurnalis dan pejabat pemerintah Barat yang bekerja di Indonesia, merebaknya terorisme adalah bukti “efek domino” Islam TT ke Nusantara. Keberadaan kelompok teroris (yang berbasis di Indonesia) sudah terbukti. Pelopor yang memopulerkan terorisme di antara mereka adalah Jama’ah Islamiyah (JI). Tak diragukan lagi, secara idelogis, ada pengaruh TT terhadap JI. Dalam dokumen-dokumen resmi JI, figur-figur TT —baik figur kontemporer maupun figur lampau— memiliki tempat terhormat dalam organisasi ini.


Pengaruh Politik TT

Orang Indonesia kerap mencari pengetahuan dan inspirasi dari TT, lalu mereka mengetrapkan pengetahuan itu dalam cara “lokal” yang otomatis berbeda dengan “sumbernya”. Pengkaji memandang fenomena ini sebagai kecerdasan adaptif orang-orang Indonesia, terampil meracik yang lama dengan yang baru guna mencipta sintesis keagamaan supaya kaya.


Ada dua hal yang menjadi gamblang saat mempertimbangkan transmisi ide-ide Islamis dari TT ke Indonesia. Pertama, transmisi ide-ide tersebut sebagian besar berlangsung satu arah: dari TT ke Indonesia. Orang Indonesia mencari audiens bagi karya mereka di TT, namun kenyataannya, sebagian besar orang Arab menganggap Asia Tenggara sebagai pinggiran intelektual Dunia Islam.


Kedua, transmisi Islamisme ke Indonesia memiliki beberapa faktor penarik maupun faktor pendorong. Banyak muslim Indonesia aktif menuntut ilmu ke TT, baik sebagai pelajar atau mahasiswa. Tercatat lebih dari 20.000 orang Indonesia tinggal di TT. Mayoritas mereka adalah pekerja, meskipun proporsi signifikannya adalah mahasiswa.


Janji buku ini hendak membuktikan, seberapa pengaruh gerakan Islam Indonesia oleh TT. Penulis buku ini memberi satu bab khusus membincang soal itu, “Setiap Benih yang Kau (Timur Tengah) Tanam di Indonesia Pastilah Tumbuh” (hal 105). Bab ini mengeksplorasi mendalam soal ekspresi utama pemikiran Ikhwanul Muslimin yang dilandasi gerakan Tarbiyah. Gerakan Tarbiyah mencuat pada awal 1980-an saat praktik penindasan Orde Baru terhadap Islam dan politik mahasiswa sedang gencar-gencarnya (hal 108).


Orde Baru pada 1998 mengalami masa tumbang akibat badai krisis finansial di Asia. Di saat itulah aktivis Tarbiyah membentuk organisasi mahasiswa bernama KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Melihat ada peluang bagus saat Soeharto makzul, pemimpin Tarbiyah berduyun-duyun mendirikan partai bernama Parta Keadilan (PK). Partai inilah yang pada pemilu 1999, mendulang 1,4 persen suara dengan tujuh kursi di parlemen pusat.


Seiring merayakan pesta demokrasi, PK berekspansi mengubah namanya menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Perubahan nama itu dilakukan karena PK gagal memenuhi threshold sebesar 2 persen yang dibutuhkan untuk bisa berkontestasi di panggung pemilu 2004. PKS adalah satu-satunya partai yang menjadi kontestan pemilu 1999 dan mengalami keberhasilan luar biasa pada pemilu 2004. Memberi kesan bahwa, pemilih partai ini pada pemilu 2004 lebih tertarik pesan politik menyangkut pemerintahan yang bersih dan keadilan sosial dibanding seruan Islamnya (hal 111).


Berkat bantuan Greg Fealy dan Anthony Bubalo menggubah buku ini, membuka pemahaman pentingnya melacak jejak yang melatari tiap-tiap gerakan Islam saat ini. Yudi Latif (penulis buku, Inteligensia Muslim dan Kuasa), mengapresiasi kehadiran buku ini sebagai arus besar yang cenderung melukiskan Islamisme berwajah tunggal berdimensi transnasional. Sebuah buku yang hendak merobohkan pencitraan naif, dengan menunjukkan keragaman dan dimensi lokal dari presentasi Islamisme dalam ruang sejarah

Buku Ajar Agar Menarik di Baca


Oleh: A Qorib Hidayatullah

Tajamnya daya saing jagad perbukuan, menuntut penulis sekaligus penerbit cakap menyajikan buku agar menggiurkan serta menyolok mata. Buku yang menarik (eye catching) langsung dikerubuti pembeli buku ditiap-tiap book store.


Buku-buku yang tampak kaku, misalnya buku ajar, terancam ditinggalkan oleh pembeli. Buku ajar, kini perlu gesit berbenah strategi agar buku itu tak tampil “garang” lagi. Mengosmetika buku ajar secantik mungkin dan memiliki daya menyala.


Buku ajar, kerap kita temui di sekolah-sekolah ataupun di perguruan tinggi. Buku tersebut sengaja ditulis khusus menjadi pedoman siswa dan mahasiswa. Buku ajar dihadirkan bertujuan mempermudah proses belajar-mengajar guru pada siswa, atau dosen terhadap mahasiswanya. Tak ayal, buku ajar yang awalnya diharap mampu membantu proses belajar-mengajar, malah dijauhi oleh pembaca. Tentu, hal ini tak luput dari karakter lazim buku ajar —meliputi pewajahan buku dan artistik buku serta isi buku— yang tak lentur.


Seturut Joseph Brodsky, “Membakar buku sebuah kejahatan, tetapi ada yang lebih jahat dibanding membakar buku, yakni tidak membaca buku.” Untuk ihwal buku ajar, pendapat Brodsky belumlah tentu tepat. Tak semua orang malas membaca buku teridentifikasi jahat. Beragam alasan manusia memilih enggan membaca buku ajar, salah satunya dikarenakan buku tersebut tidak memiliki daya magnet ketertarikan sehingga sukar membangkitkan selera pembaca membacanya.


Berdasar pengalaman pribadi, saya pun merasa malas berkunjung ke toko buku merogoh kocek sendiri membeli buku-buku ajar anjuran dosen. Tapi apa boleh buat, jika tak membeli buku itu dosen pun enggan memberi nilai A pada mahasiswanya. Padahal, perkara beli buku ajar atau tidak, bagi saya, itu tergantung pada menarik tidaknya kemasan buku itu. Buku ajar, sungguh membuat saya tutup mata membacanya. Melotot judul bukunya saja terbayang kalau buku ajar itu berat, tak mudah dicerna. Ditambah dengan gaya bahasa tulis yang linear tak dikemas populer yang kering sisipan cerita-cerita inspiring.


Hakikatnya, membaca bukanlah amal mengerutkan kening. Demi mewujudkan buku ajar yang menyenangkan, mudah, serta asyik dibaca, Depag (Departemen Agama) RI mengadakan lomba membuat “Buku Pelajaran yang Mencerdaskan”. Buku yang mencerdaskan tersebut khusus diperlombakan yang ditujukan kepada siswa Madrasah Aliyah (MA). Sebuah langkah terobosan baru kategori buku ajar agar siswa betah berjam-jam saat membacanya.


Prof Yohanes Surya, Ph D —juri lomba penulisan buku ajar bidang fisika—, saat diwawancara di Tabloid Republika “Dialog Jum’at” (01/02/2008) mengenai lomba yang diselenggarakan Depag RI itu, ia pun merespon baik. “Buku pelajaran yang mencerdaskan ialah buku yang dapat membuat anak-anak belajar jadi asyik, mudah, dan menyenangkan. Sehingga belajar tidak lagi menjadi sangat sulit. Contoh saja fisika, ketika orang mengatakan fisika maka yang terbayang di kepala mereka adalah rumus. Hal ini yang seharusnya kita ubah.”


Sebagai ilmuwan pakar fisika, Prof Yahanes Surya pun paparkan cara penyusunan buku-buku fisika agar tak melulu memuat rumus. Ia menitik pentingkan ulasan ilmu fisika bukan tergantung pada rumus, melainkan konsep. Karena itu, peran rumus dapat diganti dengan logika. Ia mencontohkan: “misal ada suatu benda dengan kecepatan lima meter per detik. Berapa jaraknya dalam lima detik. Untuk menjawab ini, cukup dengan logika. Lima meter per detik berarti dalam satu detik benda tersebut bergerak sejauh lima meter. Kalau lima detik, tinggal dikali saja dengan lima. Tidak perlu rumus apapun.”


Menulis buku tak segampang yang diterka oleh banyak orang, utamanya buku ajar. Orang sukses menulis buku hingga meraup keuntungan besar, mesti dibarengi dengan proses membaca yang sangat meletihkan. Namun, sepelik apapun persoalan bila ditangani serius segera temukan penyelesaian.


Tilik misalkan pada tahun 1962, sebuah buku yang berjudul Silent Spring (Musim Semi yang Sunyi) berhasil mengguncang dunia. Dalam waktu singkat buku itu laku 500.000 eksemplar. Sedangkan penulisnya, Rachel Carson ditentang oleh para industri pestisida. Mengapa? Sebab buku itu melukiskan betapa sunyi bumi ini bila semua unggas dan serangga mati akibat disemprotkannya racun di lahan-lahan pertanian. Masyarakat tergugah. Tetapi pabrik-pabrik insektisida, pestisida, serta racun-racun lainnya marah. Beribu dolar dihabiskan guna melancarkan kampanye bahwa, Rachel Carson keliru. Penulis itu dianggap orang histeris yang dungu. Tapi hasilnya, ia malah mendapat berbagai macam hadiah. Kini kita mengenal Rachel Carson sebagai pahlawan yang menyulut maraknya gerakan pelestarian lingkungan.

Buku ajar tak hanya memberikan kebijaksanaan, tapi juga mendorong dilakukannya kebajikan. Dalam perbuatan baik inilah termuat keterampilan, kemampuan dan kemauan untuk melakukan tindakan nyata. Buku ajar tentang laut dan gunung, membuat pembacanya tergerak untuk menyatakan cintanya pada alam. Buku pelajaran ekonomi menolong pembacanya mempraktikkan sistem manajemen, kesadaran akan pentingnya pembiayaan dan pertumbuhan. Termasuk juga untuk buku budi-pekerti, pelajaran agama, petunjuk olahraga, memasak, dan ilmu komputer. Idealnya, buku ajar mampu meletakkan pembacanya ditengah konstelasi dan konfigurasi dunia yang terus menerus berubah.

Rabu, Maret 19, 2008

Ayat-ayat Cinta & Tuhan sebagai Komoditas


Esei A. Qorib Hidayatullah*

*penikmat sastra, kerani Komunitas Sandal Jepit


Stok tema soal cinta tak bakal habis diulas. Tema yang satu ini memiliki daya aktual kuat yang didesain khusus mampu berkompromi dengan setiap limit waktu dan ruang. Sifat kekekalan cinta memberi peninggalan ‘rasa’ yang bersemayam di lubuk hati terdalam. Tak dinafi’kan, rasa mencintai merupakan fitrah alamiah tiap-tiap orang.


Kelenturan rasa cinta yang kerap menjadi ‘bunglon’ atas apapun, menyeretnya berubah ‘barang’ dagangan yang bebas dikonsumsi ramai-ramai oleh publik. Kiranya betul bila penyanyi tersohor tanah air ini mengalegori ‘cinta tak kenal logika’, menyebabkan tema cinta mudah menghipnotis para penghambanya. Tema cinta berhasil mengebiri kecanggihan rasio takluk akan buaian romantisme alpa. Tema cinta kini telah dikosmetika secantik mungkin menjadi budaya massa.


Tak dapat ditampik bila para penghamba cinta sekaligus penjilat kapital, tak ambil pusing untuk menyiasati komoditasnya laku keras di pasar, cukup dibumbui dengan kekuatan rasa cinta. Misalnya Habiburrahman El-Shirazy, lewat novel Ayat-Ayat Cinta-nya sejak 2004 hingga akhir 2007 mencapai rating penjualan 400.000 eksemplar. Novel ini mengalahkan angka penjualan karya Asma Nadia (Catatan Hati Seorang Istri), Langit Kresna Hariadi (Gajah Mada), Muammar Emka (Jakarta Undercover), Andrea Hirata (Laskar Pelangi dan Edensor). Bayangkan, saban sebulan alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu menerima royalti sekitar Rp 100 juta. Gila! Tak puas dengan itu, tangan serakah kapital yang lain akhirnya menggubah novel tersebut menjadi film. Film Ayat-ayat Cinta (AAC), yang diledakkan pada pengujung Februari silam.


Film garapan sutradara Hanung Bramantyo itu mencetak fenomena terbaru industri perfilman Indonesia. Dalam pekan pertama pemutarannya di bioskop, AAC mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Disinyalir Harian Kompas (02/03/2008), Manoj Punjabi, produser AAC, memberi kepastian bahwa di gedung-gedung bioskop yang memutar film itu serentak sejak 28 Februari 2008. Pada saat itupun, gedung-gedung bioskop dijubeli penonton mengular hingga kapasitas tempat duduk terisi di atas 95 persen.


Di samping film itu fenomenal, juga memberi pembuktian kesuksesannya yang ditakdirkan sama seperti capaian keberhasilan novel yang mengeruhinya. Ternyata, tenunan sebuah dongeng cinta nuansa religi —yang mengundang derai air mata sehabis menontonnya— mampu menyaingi film berkisah horor serta roman ABG. Selera masyarakat yang keranjingan akan cerita cinta religi gesit dibidik pemain kapital guna meraup keuntungan besar. Untuk tayangan perdana, MD Pictures yang dipimpin Manoj menggandakan pita film itu hingga 100 copy, sebuah angka fantastis sekaliber film nasional. Rata-rata film Indonesia lazim hanya dicetak berkisar 10-20 copy. Bahkan film-film utama Hollywood pun paling banyak dicetak 65-70 copy.


Kesuksesan besar AAC yang mendulang apresiasi hangat dari masyarakat, tak melunasi rasa misteri penasaran akan kisah cinta yang ditawarkan film tersebut. Dongeng kisah cinta klasik yang menjadi nyawa film itu kerapkali membikin diri hendak mual. Alur cinta yang sangat menyehari dan jauh panggang dari api terjadi pada diri seseorang, semakin memperjelas hal klise film garapan sutradara sekaliber Hanung Bramantyo. Hanung kentara betul menyengaja diri siap dicaci-maki perkara mempertaruhkan seorang lelaki yang dicintai empat wanita dan ia harus menentukan pilihannya. Di lanskap inilah kecerdikan Hanung dapat dibilang berhasil mengibuli penonton. Sebuah film yang mampu menyedot penasaran ibu-ibu anggota pengajian.


Lelaki itu adalah Fahri bin Abdillah (diperankan Fedi Nuril), seorang mahasiswa S-2 asal Indonesia yang kuliah di Universitas al-Azhar, Cairo, Mesir. Ia anak seorang penjual tapai yang polos, sederhana dan sangat taat beragama. Perihal jatuh cinta, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam hidupnya dan pacaran adalah sesuatu yang dilarang menurut keyakinan agamanya.


Proses pemanjaan pun terjadi, buru-buru empat wanita malah jatuh cinta kepada Fahri. Mereka adalah Nurul (Melanie Putria), mahasiswa dari Indonesia yang menjadi teman dekat Fahri di kampus. Kemudian ada Maria Girgis (Carrisa Puteri), gadis Mesir tetangga se-apartemen (Flat) dan sekaligus sahabat dekat Fahri, beragama Kristen Koptik, tetapi mempelajari serta mengagumi al-Qur’an. Sosok ketiga adalah Noura (Zaskia Adya Mecca), seorang perempuan Mesir yang terpisah dari orangtuanya dan jatuh ke tangan seorang penjahat (Bahadur) dan suatu hari ditolong Fahri. Terakhir adalah Aisha (Rianti Cartwright), perempuan berdarah Jerman-Turki yang terkesan saat bertemu Fahri kali pertama di sebuah kereta api.


Sementereng apapun film itu, selera pos-modernisme mengajarkan boleh mencicipinya secara bebas. Kalau hasil mencicipi dirasa tak enak, selera pos-modern absah mencemo’oh ataupun memaki habis film tersebut. Misalkan adegan saat Maria mendaras surat Maryam (al-Qur’an) di sebuah bus dengan aksentuasi nada subal. Ditambah saat Fahri mengaji yang dihaturkan kepada gurunya (Syekh Usman), kentara sekali suaranya yang tak asli. Cacat kecil seperti ini mengganggu kenikmatan penonton menonton film yang batal shooting di Mesir karena terbentur biaya rumah produksi lokal yang mahal (mencapai Rp 15 miliar).


Yang paling menarik diamati di balik keberhasilan film bertemakan populer-religi, semisal AAC, menandakan bahwa masyarakat Indonesia kini pada suka —meminjam judul esai Danarto dalam Horison Esai Indonesia, Kitab 2—, “Menjual Tuhan dengan Harga Murah”. Wujud linearitas selera filmis masyarakat Indonesia yang menjadikan Tuhan sebagai komoditas. Sifat mematung-bisunya Tuhan dijadikan lahan eksploitasi tangan serakah kapital guna meraup laba besar. Tuhan tak banyak berontak dalam hal ini…

Di Balik Kemegahan Kota Terlarang


Judul Buku : Empress Orchid

Penulis : Anchee Min

Penerbit : Hikmah Jakarta

Cetakan : I, Januari 2008

Tebal : xvii + 595 Hal

Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*



Cerita fiksi (novel) tak melulu merekam kehidupan hampa. Selain menimbun nilai estetis, novel juga berseru lirih ihwal kekejaman hidup. Anchee Min lewat karyanya, Empress Orchid ini cakap bertutur perkara ‘kekuasaan’ di era Dinasti Ch’ing.


Syahdan, Dinasti Ch’ing sudah tak dapat diselamatkan lagi sejak Cina dikalahkan Inggris Raya dan sekutunya dalam perang Candu. Lahirlah seorang gadis desa di tahun Kambing dari klan Yehonala yang hidupnya ditakdirkan memiliki kekuatan meski ia lebih awal kudu taklukkan rintangan. Para peramal menujumkan gadis yang lahir di tahun Kambing akan tumbuh besar menjadi kambing yang keras kepala dan berakhir menyedihkan. Untuk menepis nasib sial gadis itu, peramal memberinya nama Anggrek.


Anggrek adalah wanita menawan serta lentur. Berkat kemenawanannya, saat Kaisar Hsien Feng mengaudisi selir muda yang diikuti ribuan wanita cantik, Anggrek terpilih menjadi salah satu istri dari tujuh istri Kaisar Hsien Feng. Sejak menjadi selir muda, Anggrek meninggalkan keluarganya dan bermukim di Istana Anggrek yang berada di Kota Terlarang. Disamping itu Kaisar menyiapkan istana-istana khusus bagi istri-istrinya, misalnya, Istana Nuharoo, Istana Putri Soo, Istana Ibu Suri, Istana Putri Mei, Istana Putri Hui, Istana Putri Yun, serta Istana Putri Li.


Di balik tekstur dan warna megah Kota Terlarang, Anggrek ditemani kasim An-te-hai. Kasim An-te-hai memberitahu seluk-beluk serta mengajari tindak-tanduk Anggrek di Kota Terlarang. Bukannya tanpa alasan kasim An-te-hai dipilih Anggrek untuk mendampinginya. Kasim An-te-hai yang lincah, cerdik, piawai, dan berpengalaman luas tentang keadaan Kota Terlarang menjadi pertimbangan Anggrek memilihnya. Berbekal kecerdikan, An-te-hai berjasa besar atas popularitas Anggrek di Kota Terlarang. Strategi mapan dan rapi dari An-te-hai, Anggrek mendapat perhatian lebih dari Kaisar Hsien Feng menyaingi ratu Nuharoo. Yang pada akhirnya, Maharani Anggrek menjadi kaisar perempuan yang paling lama berkuasa di Cina. Seorang gadis desa, Putri Yehonala yang cantik itu manapaki kekuasaan lewat rayuan, intrik politik, serta pembunuhan. Saat Cina terancam oleh musuh dari luar, tampaknya hanya Maharani Anggrek yang mampu menyatukan negeri tersebut. Seorang perempuan yang berhasil bertahan dan akhirnya mendominasi dunia laki-laki.


Semakin keujung menikmati cerita novel ini, ternyata para lelaki di istana berusaha mengesankan satu sama lain atas kecerdesan mereka. Titah perintah Maharani Anggrek dalam istana mengalami pertarungan tiada henti dengan para penasihat yang ambisius, dan para menteri yang penuh tipu muslihat.


Kisah Maharani Anggrek berkonotasi kisah kelam. Di Cina, anak-anak belajar bahwa runtuhnya setiap Dinasti selalu disebabkan kesalahan seorang selir. Hukuman mati yang dijatuhkan pada seorang selir menjadi justifikasi kesalahannya. Misalkan, kisah Madame Mao yang dihukum mati, sementara suaminya dianggap sebagai George Washingtonnya Cina. Kisah yang melekat hingga kini, sang Maharani harus bertanggung jawab atas kehancuran peradaban Kekaisaran Cina yang berumur dua ribu tahun.


Anchee Min lewat karyanya ini tampak presisif betul menampilkan detail kisah nyata. Beragam riset dilakukan, misalnya, Min meneliti tak melulu dokumen yang ada di Kota Terlarang, pun juga catatan medis, keuangan, dan data kepolisian, seperti halnya riset yang luas untuk bukunya, Becoming Madame Mao yang bestseller itu.


Selain itu, sebelum menggubah novel ini, Min menekuni bacaan tentang kehidupan para kasim, pelayan, guru-guru istana, para sedadu Kekaisaran, dan buku panduan sang Maharani tentang makanan serta tetumbuhan obat. Min mengaku, dirinya bisa mengakses dokumen-dokumen asli yang dijaga ketat pejabat Beijing itu dibantu oleh segelintir orang lewat “jalan belakang”. Al-hasil, buku inipun akhirnya dinobatkan sebagai A san Francisco chronicle best book of the year.