Senin, November 10, 2008

Genealogi Kecantikan Bidadari Dungu


Esai A Qorib Hidayatullah

(catatan buat Perempuan Suamiku)

Permisi, Bidadariku… aih, aih

Syahdan, saya mendaras cerpen Sirikit Syah, penulis cewek yang memiliki talenta di jagad literer, di koran Kompas, Perempuan Suamiku. Dalam cerpennya tersebut, Sirikit Syah lihai membesut cerita ihwal pasangan laki-laki dan perempuan ideal.

Konon kecantikan adalah anugerah terindah bagi wanita. Kecantikan memiliki kemampuan magnetik luar biasa yang mampu meruntuhkan dunia laki-laki. Dalam berbagai sejarah kemanusiaan dan mitologi kuno dilukiskan betapa dahsyatnya pengaruh kecantikan seorang perempuan terhadap jiwa laki-laki sehingga ia mau berkorban dan melakukan apa saja demi sang perempuan. Keagungan dan kekuasaan laki-laki dapat jatuh dan bertekuk lutut di bawah kakinya.

Beberapa ilustrasi misalnya, kisah Adam dan Hawa, Julius Cesar dan Cleopatra, Rama dan Shinta, dsb. Perebutan wanita cantik antara Qabil dan Habil, perselisihan antara Epimetheus dan Prometheus demi memperebutkan Pandora yang cantik, juga turut mewarnai sejarah tragedi kemanusiaan atas nama kecantikan perempuan.

***
Sirikit Syah, selain aktivis media, pun ia rajin menggarit tulisan soal seni sastra. Di setiap tulisan-tulisannya, Sirikit selalu menampakkan “kejagoannya” mengemas kerak ide dan menjadikan tulisannnya menarik disimak. Misalnya, dalam Perempuan Suamiku, Sirikit menanyakan kembali soal pasangan ideal bagi kita kelak.

Sebagai kaum perempuan Dunia Ketiga (istilah yang akrab dicitrakan bagi negara-negara berkembang, semisal Indonesia), Sirikit sangatlah lazim mengamalkan laku cemburu (cewek posesif) terhadap suaminya (sebagai pasangan hidupnya). Sirikit tampak tidak ikhlas bila mendapati suaminya berpoligami dan kepincut pada bidadari yang dungu. Hal itu Sirikit tampilkan pada tiap bangunan cerita dalam Perempuan Sumiku.

Sirikit seakan-akan berkhotbah kepada kita semua bahwa dalam hal mencari pasangan janganlah gampang melecutkan rasa kasih-sayang terhadap pasangan kita masing-masing. Sirikit tampak murka atas salah satu pasangan yang hanya mengutamakan hasrat libidinal, memilih pasangan yang melulu melihat tubuh seksis dari pasangan.

Tapi Sirikit pun tak menampik akan pentingnya pasangan yang pintar mengosmetika diri agar selalu cantik-menarik. Tapi jangan salah, Sirikit pula memiliki pandangan atas pasangan yang cantik, pintar merawat diri, namun ia lemah intelektual, akhirnya Sirikit tak ragu-ragu menyebutnya dengan ‘Bidadari Dungu’.

Bidadari Dungu menurut terang imajinasi Sirikit ialah perempuan cantik yang menyengaja menenggelamkan dirinya di arus deras modernitas. Ia hanya merayakan kesadaran palsunya dan menukarkan integritas diri dengan gaya-gaya hidup urban.

Di tengah kesumpekan hidup, berjubel bidadari yang kerapkali menangkringkan dirinya di mal-mal, atau pun di tempat-tempat lainnya pendompleng ikon modernisme. Bidadari model ini, sangatlah jelas bukan bidadari kiriman dari langit. Sebab, laku bidadari langit (tentu bidadari yang tak dungu) itu selalu mendandani dirinya tampak sahaja, dan memiliki kekhasan tersendiri dalam menertawakan proyek modernisme.

Menapaki geladak garitan cerpen Sirikit tersebut, pembaca digiring berada di atas angin dalam hal mencari pasangan. Kendati sebuah cerpen adalah kisah fiktif, tak jauh panggang dari api, cerpen Perempuan Suamiku pun bisa dijadikan cantelan dalam menelusuri labirin pencarian pasangan hidup di dunia nyata. Cerpen, kini, sudah tak hanya memotret alam angan. Bertolak dari itu, cerpen sudah amat menyehari berebut menangkap geliat kegiatan manusia yang kadang-kadang bikin ruwet. Bukankah mencari pasangan itu juga hal ruwet? He he he…

Permisi, Bidadariku… aih, aih

Saatnya Data Memimpin Wacana!


Judul Buku : Saatnya Muslim Bicara!
Judul Asli : Who Speaks for Islam
Penulis : John L. Esposito & Dalia Mogahed
Penerjamah : Eva Y. Nukman
Penerbit : Mizan
Cetakan : I, Agustus 2008
Tebal : 252 Hlm
Peresensi : A Qorib Hidayatullah*

Riset Gallup World Poll yang dijelmakan dalam buku ini, tentang citra Barat dan Timur (Islam), menjadi tesis tandingan atas tesis Samuel Huntington tentang tubrukan antar-peradaban. Huntington pada 1993, sempat bikin geger masyarakat Barat maupun Islam lewat artikelnya, “Clash of Civilizations?” yang tayang perdana di jurnal Foreign Affairs. Huntington meramal peradaban Islam tidak dapat berjalan beriringan dengan peradaban Barat.

Lebih jauh, Guru Besar Universitas Harvard tersebut menilai Islam tidak apresiatif terhadap nilai-nilai Barat. Pada saat yang sama, Islam dipandang tidak menghargai ide-ide tentang hak asasi manusia, persamaan derajat wanita, serta demokrasi. Untuk itu, gerakan dan tindak-tanduk umat Islam perlu dicermati dan dicurigai.

Dalam terang pemikiran Huntington, peradaban muncul dengan ciri-ciri yang beragam. Ia dapat mengemuka dalam bentuk satuan geografis, agama atau etnik. Sifat peradaban yang menyeluruh itu dapat memicu konflik yang jauh lebih rumit. Huntington mengalegorikan, seorang Muslim tidak mungkin menjadi Kristen atau Hindu pada saat yang sama. Mereka dapat hidup berdampingan, tapi tidak dapat meleburkan diri masing-masing dalam satuan yang sama.

Secara umum, tesis Huntington didasarkan pada peristiwa penting yang terjadi pada akhir abad ke-20: kemenangan kapitalisme. Setelah sekian abad lamanya mendapat tantangan dari bermacam-macam ideologi, kapitalisme terbukti dapat menunjukkan diri sebagai ideologi yang paling berkuasa. Menurut Huntington, fenomena ini menunjukkan bahwa peradaban Barat sedang di atas angin.

Sebagai karya akademis, tesis Huntington sebenarnya terbilang biasa-biasa saja. Ramalan bahwa akan terjadi benturan peradaban juga bukan sesuatu yang sensasional. Kecenderungan Huntington memprediksi apa yang akan terjadi adalah fenomena lazim yang kerapkali ditemui dalam tulisan ilmiah lainnya.

Berbeda dari tesis Huntington, temuan Gallup World Poll lewat jajak pendapat selama beberapa tahun di dalam buku ini yang melibatkan 1,3 miliar umat muslim di seluruh dunia, berusaha meneroka opini sesungguhnya dari mayoritas umat Muslim dunia tentang Islam, Barat, Kekerasan, HAM, dan isu-isu mutakhir lainnya.

Data Gallup World Poll memperlihatkan, hal yang memperkuat perbedaan pendirian antara negara-negara Barat dan Muslim adalah persepsi bersama, atau lebih tepatnya, salah persepsi. Masing-masing pihak banyak yang percaya bahwa pihak lain tidak peduli. Akan tetapi, hanya kelompok minoritas pada kedua belah pihak yang tidak peduli akan hubungan yang lebih baik antara Barat dan masyarakat Muslim, sehingga menyingkapkan benturan ketidaktahuan, bukan benturan peradaban (hlm 198).

Keyakinan yang jamak tersebar di Barat adalah bahwa “mereka (Muslim) membenci kita karena demokrasi, kebebasan, budaya, nilai, dan kesuksesan/kemajuan kita.” Tapi saat Gallup World Poll mewawancarai beberapa responden, hasilnya malah bertolak belakang dari anggapan tersebut (hlm 179). Misalkan, pengakuan responden asal Turki, “Saya mengagumi kebebasan mereka (Barat). Mereka peduli dengan hak asasi manusia. Ada demokrasi dan keseteraan. Mereka maju dalam teknologi.” Atau pernyataan yang lain dari responden asal Pakistan, “Cara mereka (Barat) bekerja keras. Hal itu membantu mereka dalam membangun negara mereka.”

Lalu, mengapa sebagian Muslim membenci Barat? Data survei Gallup World Poll menunjukkan, penyebab utama anti Amerikanisme dan kemarahan internasional dikarenakan dampak dari kebijakan luar negeri Amerika di Dunia Islam. Namun, data itu memilai-milah “Barat dan “Dunia Islam” menjadi negara-negara tersendiri. Misalkan, ketidaksukaan umat Muslim terhadap Inggris dan Amerika Serikat sangat berlawanan dengan pandangan yang lebih positif terhadap Prancis dan Jerman (hlm 197). Di semua negara bermayoritas penduduk Muslim yang dijajak pendapatnya, rata-rata 75% responden mengaitkan “zalim” dengan Amerika Serikat (jauh beda dengan hanya 13% untuk Prancis dan 13% untuk Jerman).

Kendati demikian, mayoritas orang Amerika mengatakan bahwa hubungan dengan Dunia Islam menjadi perhatian besar bagi mereka. Mereka juga percaya bahwa diperlukan interaksi yang banyak. Tampaknya, mereka berpikir bahwa apa pun perpecahan yang ada antara Barat dan negara-negara Muslim, hal itu disebabkan oleh kesalahpahaman kultural di kedua pihak.

Kaum Muslim pun menyatakan bahwa apa pun perpecahan yang ada antara Barat dan Dunia Islam sebagai akibat kurangnya sikap saling memahami dan menghargai. Kaum Muslim tidak menganjurkan atau menuntut perubahan budaya serta norma sosial Barat sebagai jalan menuju hubungan yang lebih baik. Meski kemunduran moral sosial merupakan suatu aspek yang paling mereka benci dari Barat, memperbaiki hal ini tidak disebut-sebut sebagai cara untuk memperbaiki hubungan.

Konflik meletihkan antara Barat dan Dunia Islam bukanlah tak dapat dielakkan. Konflik ini disebabkan kebijakan politik yang tidak tepat, bukan pertikaian prinsip. Jajak pendapat Gallup World Poll mengurai bernas bahwa orang-orang Lebanon sangat menghargai Kristen dan Muslim (lebih dari 90% berpandangan positif terhadap lainnya), meski satu dekade perang sipil di Lebanon terjadi di antara kelompok-kelompok keagamaan.

Berkat jasa profesor Islamic Studies di Georgetown University, John L. Esposito dan Dalia Mogahed, analis senior serta direktur eksekutif Gallup Center for Muslim Studies, data survei itu bisa terkemas rapi dalam buku ini. Buku yang menggiring pembaca mafhum atas pertanyaan-pertanyaan semisal: Apakah mayoritas muslim menyetujui aksi terorisme atas nama Islam?; Apakah mayoritas muslim membenci Barat?; Manakah yang dipilih muslim: demokrasi atau teokrasi?; Benarkah mayoritas muslimah merasa tertindas? Dan benarkah mereka menginginkan kebebasan seperti wanita Barat?

Dikarenakan buku ini berdasar riset, pertanyaan-pertanyaan di atas memiliki pertimbangan jawaban yang objektif. Sebagaimana dikatakan Albert Einstein, “Hal yang penting adalah tidak berhenti bertanya.” Dan Einstein juga mengatakan, “Kita harus tahu apa yang sebetulnya terjadi, dan bukan mencari apa yang menurut kita sebaiknya terjadi.” Saatnyalah data memimpin wacana!

Senin, Oktober 20, 2008

Buruh Kecil yang Mencintai Peti Mati


Esai A Qorib Hidayatullah

Intimitas cinta kehidupan adalah melawan. Perlawanan memberi bentangan sejarah dengan menjadikan kaum pelawan terkenal. Orang yang hanya melacurkan hidupnya akan kemapanan tak ubahnya kaum yang menyengaja diri tersungkur di telapak etalase kekuasaan.

Sejarah menakdirkan, kekuasaan dan perlawanan tak dapat bersanding mesra. Frase kekuasaan dan melawan dicipta berseberangan, ber-oposisi biner. Bak langit dan bumi yang tak bakal ketemu. Seamsal laki-laki dan wanita tak bisa menyulap kelaminnya menjadi sama. Perlawanan, semacam esensi hidup yang niscaya.

Tak sedikit dari serakan kehidupan sekitar kita yang membutuhkan lecutan cambuk perlawanan. Persis seperti garitan surat Yusuf Ishak untuk Pramoedya Ananta Toer, “Verba amini proferre et vitam impendero vero (Dia mengutarakan pikirannya dengan bebas dan mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran).” Surat itu memberi kesaksian pentingnya semangat perlawanan hingga nyawa jadi taruhannya.

Hidup melawan, —jika kita menangkap pesan surat Yusuf Ishak tersebut­— ialah jembatan untuk mencari kebenaran. Dikarenakan kebenaran manusia yang relatif itulah, di mana benar bagi diri kita belum tentu benar buat orang lain, maka perlawanan perlahan menjadi penting.

Musuh raksasa bagi kaum pelawan adalah represifitas. Tindakan represif pernah menjadi amunisi ampuh orde baru guna membungkam kaum pelawan kritis. Mereka (kaum pelawan) tak hanya dihadapkan pada teror lahir, tapi secara batin pun mereka diancam. Tengok misalkan, peristiwa Mei 1998 yang menjadi sejarah soliluqui (sejarah yang mencekam dan berlarat) hingga memberi efek trauma berkepanjangan demi reformasi.

Hakikatnya, —seperti yang telah disinggung sebelumnya— bahwa perlawanan itu niscaya sebab melawan adalah kontrol sosial. Keseimbangan hidup bernegara, bersosial lewat pelawanan akan tercipta. Sejarah meletihkan perjuangan bangsa ini pun juga digaransi berkat daya resistensi melawan kolonialisme.

Sebab perlawanan menjadi peralatan yang tidak memiliki harga, artinya siapa pun berpeluang melawan, hal ini yang kemudian membikin perlawanan menjadi laris di era kini. Setelah kran reformasi dibuka lebar-lebar, perlawanan mewujud barang dagangan yang gemar orang melakukannnya. Dalam setiap ketimpangan terjadi, dan ketimpangan tersebut teraudit oleh kemafhuman rakyat, maka rakyat pun tak segan-segan meluncurkan sebuah resistensi.

Wacana terorisme global yang telah enam tahun lamanya terdengung, tak lain merupakan bentuk perlawanan komunitas masyarakat tertentu. Terlepas bahwa terorisme terstereotifikasi atas dunia Timur (Islam), bahwa mereka antek teroris global yang harus digilas dengan melakukan invasi.

Aneka kemasan perlawanan yang dimiliki rakyat. Misalkan, long march unjuk rasa yang digelar di depan gedung legislatif, dll guna memprotes kebijakan publik pemerintah yang tak seselera dengan rakyat. Senjata perlawanan tak hanya dimiliki oleh dunia pertama, tapi dunia ketiga pun juga memiliki peluang serupa guna melawan dunia pertama.

Ekstase kenikmatan perlawanan berakhir dititik keagungan. Hidup melawan, sejatinya, hanya dipunyai kaum lemah tertindas. Tapi yang lebih penting dipahami, melawan tak segampang membalikkan telapak tangan. Hidup melawan menuntut adanya jaminan sonder kenyamanan hidup. Seperti kisah berlarat kaum buruh yang mencintai peti mati (rela berkorban nyawa) demi tegaknya kebenaran dan keadilan dengan cara melawan. Melawanlah, dan cintailah peti mati, kawan!

Dosa pada Masyarakat Literer


Esai A Qorib Hidayatullah

Rubrik Bentara Kompas awal bulan Juni 2008 silam menayangkan tulisan polemik seputar plagiarisme. Muasal tulisan itu diturunkan pada Bentara Kompas lantaran ulah dosen UI menulis di media nasional tentang sejarah fotografi secara plagiat. Dengan begitu, prilaku dosen UI yang tak kerkeadaban di lapangan dunia tulis-menulis itu ditanggapi oleh oknum yang mengaku penggubah naskah asli sejarah fotografi tersebut. Al-hasil, aksi tuntut-menuntut pun terjadi. Dilayangkanlah tulisan ke surat pembaca Kompas oleh si penggugat guna menggugat aksi plagiat kepada plagiator yang sekaligus dosen UI. Disinilah titik runyam jagat kepengarangan kita diuji. Mirisnya, di Indonesia belum ada sebentuk lembaga peradilan yang menangani khusus kasus plagiat. Padahal di Barat tindak plagiarisme disikapi secara serius.

Dalam helat panggung tulis-menulis, si empu (penulis) dituntut memiliki jiwa integrasi. Tulisan oplosan dari orang lain sama sekali tak diperkenankan dipublikasi dengan memakai nama plagiat, tidak menerakan penulis asli sang pembikin naskah. Problemnya saat ini, masyarakat kini kian tapaki kecanggihan teknologi di mana informasi gampang dan cepat diraih hanya berbekal kepiawaian menguasai dunia maya lewat fasilitas internet. Sehingga, aksi jiplak dan plagiat berpotensi dilakukan oleh siapa pun. Tak diharap pun, wacana dosa pada masyarakat literer menarik didiskusikan.

Di lingkungan saya sendiri, laku epigon ditingkat penulisan makalah kuliah marak dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa dengan mudahnya comot sana-sini dari tulisan yang dirujukan tanpa menuliskan referensi/sumbernya dari mana. Dan dosen pun tak memiliki kemampuan atau ilmu memonitoring kebiasaan mahasiswa plagiat dalam penulisan makalah. Nah, di sinilah kata salah satu penulis di rubrik Bentara Kompas dengan menyebutnya, “Aksi Pembajak yang Bertoga.”

Kalau dilacak bermulanya aksi mulus plagiat, hemat saya, berawal kebiasaaan mahasiswa di kampus saat kuliah yang menulis makalah dengan plagiat, namun dosen/pengajar membiarkan dan tak adanya kepakeman aturan dari kampus yang menindak serius aksi mahasiswa tersebut. Tak ayal, tradisi busuk itu pun terus dilanjutkan mahasiswa tak hanya saat kuliah, ironis, ia pun mewarisinya hingga akhir hayatnya.

Kawan saya menjabarkan ihwal dosa literer ini yang tak memiliki sedikit pun ruang ampun. Dosa literer dapat terhapus bila plagiator mengemis ma’af dan berjanji tak akan mengulangi kembali tindak kejinya itu kepada masyarakat literer, dan lebih khusus pada pemilik tulisan yang dioplosnya.

Karya tulis merupakan karya agung yang jauh dari manipulatif. Karya tulis bersemangatkan demi tumbuh-kembangnya pengetahuan lewat asahan ide, riset mutakhir, dan eksperimen. Dengan begitu keotentikan karya dan temuan menjadi penting sebagai wujud tanggung jawab uji pengetahuan. Masyarakat literer Indonesia, saya pikir, patut mengutuk riset palsu Djoko Suprapto yang merekayasa blue energy di UMY (Universitas Muhammadiya Yogyakarta) demi sebuah kucuran dana besar, namun usahanya terprediksi gagal. Disinilah pentingnya integrasi moral dan tanggung jawab bagi periset dan penulis (sastrawan, penyair, prosaik, dll). Semoga bermanfaat bagi diriku.

Minggu, September 14, 2008

Menuju Bangsa Nestapa, Indonesia Bisa


Oleh: A Qorib Hidayatullah

Seruan tiap-tiap manusia tampak sama. Yaitu berharap terjadi/terkabulkan apa yang bergelantungan di angan. Hal itu ihwal lazim. Hidup tidak berpengharapan seperti menanam benih tapi tidak tumbuh.

Saat aku masih kanak-kanak, guruku merisalahkan kepada setiap siswa agar memiliki ekspektasi/cita-cita. Beliau gemar menginterogasi para siswanya dengan pertanyaan: “Apa cita-cita kamu?” Guruku seakan memiliki kekhawatiran apabila siswanya tidak memiliki harapan dan cita-cita. Lebih lanjut guruku menjelaskan pentingnya hidup bercita-cita akan membikin hidup tetap bertahan penuh semangat, tidak mandul orientasi.

Ekspektasi adalah tolok ukur capaian apa nanti yang akan diraih. Beragam harapan muncul dari setiap manusia di bumi ini. Semuanya berseru serupa ingin lebih baik dari apa yang sudah terjadi. Hidup tanpa ekspektasi seakan memubazirkan karunia Tuhan. Cita-cita merupakan karunia terbesar dari Tuhan. Tuhan memperkenankan diri-Nya selalu mendengar nafas terlemah seruan hamba-Nya.

Rakyat Indonesia memiliki beragam ekspektasi kepada elite birokrasi pemerintahan. Bahkan penuhnya berpengharapan, rakyat hingga lesu berharap kepada petinggi bangsa ini. Hanya genggaman tangan kosong yang dibawa pulang rakyat setelah selesai dikibuli saat suaranya dieksploitasi dalam momen pesta demokrasi.

Semasa kampanye berlangsung digelar, rakyat diiming-imingi sejuta janji. Program yang diusung masing-masing kandidat semuanya berpihak kepada rakyat (pro rakyat). Rakyat waktu kampanye berlangsung serasa sangat diistiwewakan. Semua kandidat apabila terpilih nantinya akan menjuntrungkan arah kebijakan publiknya pro membela rakyat.

Tribune kampanye kini menjadi wahana munafik. Hanya tebar janji, namun tak ditepati. Kampanye para kandidat hanya permainan akal bulus. Program yang pro rakyat hanya selesai di atas mimbar kampanye. Tersiar kabar, kalau rakyat saat ini terkesan membendung pendengarannya dari janji-janji manis kandidat saat kampanye. Rakyat mengalami krisis keperyaan terhadap janji kandidat. Rakyat memilih jalan simplistis, yaitu siapa pun kandidat yang banyak modal, itulah yang memberi magnet kepada rakyat. “Memilih siapa nanti di TPS, itu soal nurani”, ujar salah satu rakyat.

Kini, peta politik pemilihan birokrasi kita tidak memakai politik “What is” tapi lebih pada “Who is”. Rakyat tidak hirau lagi program apa yang diusung kandidat, tapi rakyat lebih acuh siapa kandidat itu. Untuk masyarakat Jatim, rakyat lebih suka memilih kandidat dari basis kaum biru, kyai, maupun ulama’.

Tampaknya, Indonesia saat ini telah mengalami di mana Ronggowarsita menamainya dengan zaman Kalatidha, yaitu zaman yang sedemikian gila, dengan berharap butuh manusia-manusia sahaja.

Kesahajaan Manusia dan Riwayat Kelam Sisifus


Esai A Qorib Hidayatullah

Manusia yang tampak enggan bila dikemukakan sifat bejatnya, kemunafikannya, atau sesuatu yang tak baik dari dirinya, itulah manusia laiknya Sisifus. Sisifus adalah hewan kutukan Dewa. Dewa mengutuk Sisifus dengan menyuruhnya mengangkat barang dipundaknya menuju bukit, sedikit naik ke bukit, Dewa mendorongnya ke bawah lagi, terus seperti itu. Itulah wujud kutukan Dewa terhadap makhluk Sisifus.

Terlepas dari Sisifus, yang asyik-masyuk dibincang di sini adalah ihwal “kutukan”. Kutukan! Tak ada orang yang berani berhadapan dengannya. “Kutukan” merupakan kata yang tak digemari orang banyak sebab akan mengirim kesengsaraan, nestapa, dan nelangsa hidup. Dalam sinetron-sinetron dongeng –-biasanya baru-baru ini sinetron itu kerap dijumpai, diputar di stasiun Trans TV dengan tajuk program “LEGENDA”— di sana disiratkan betapa kejamnya sebuah kutukan. “Akan aku kutuk kau menjadi batu”, ujar nenek sihir pada adegan di sinetron tersebut.

Bukannya tanpa alasan sebuah daya kutukan tertuju pada manusia, pasti ada kesalahan-kesalahan sehingga kutukan itu keluar mengiringi beban dosa yang dibikin anak manusia itu. Seperti sedikit yang tergambar pada diri Sisifus, mesti Sisifus memiliki salah terhadap Dewa, sehingga Dewa mengutuknya.

Lalu pertanyaannya, mungkinkan manusia di bumi ini menerima kutukannya masing-masing? Bukankah manusia di bumi sudah bergelimang kesalahan-kesalahan, tak hanya kesalahan kecil yang dibikinnya, kesalahan fatal pun sudah manusia lakukan. Terkikisnya lapisan ozon yang menyebabkan global warming (pemanasan global), bukankah ini wujud kesalahan fatal anak manusia yang menyebabkan sengsara seluruh penduduk bumi? Apa nantinya kutukan yang mengiringi kesalahan manusia tersebut?.

Setiap ada kesalahan mesti temukan kutukannya. Pertanyaan yang telontar semisal: “kutukan apa yang akan diterima manusia sebab kesalahannya?.” Itu memang pertanyaan yang betul-betul tak salah. Namun, setiap kutukan tak harus langsung terjadi, tidak. Kutukan, mengiringi kesalahan manusia seberapa besar (kesalahan) yang ia perbuat. Kutukan, yang erat kaitannya dengan kesalahan manusia, gampangannya, kutukan itu akan mewujud menjadi peristiwa, musibah dahsyat –-Tsunami, banjir, pemanasan global, gunung meletus, lindu, gempa, dll— yang kerap menyatroni hamba manusia. Itulah sebuah kutukan bagi manusia yang telah melakukan kesalahannya.

Kutukan bagi manusia yang salah tak harus terlafal seperti kutukan-kutukan di sinetron: “Akan aku kutuk kau menjadi batu, ular, anjing, babi, dll. Kutukan dapat bermakna luas, bak hukum kausalitas. Ada sebab mesti ada akibat. Akibat Kutukan mengiringi sebab manusia merusak lingkungannya, mengeksploitasi keindahan alamnya, membalak hutan lindungnya, membangun rumah kaca, dan macam-macam kesalahan anak manusia lainnya. Yang jelas, kutukan membikin sengsara hidup. Kutukan mesti akan membikin hati pedih, menyayat hati. Semoga kutukan yang selama ini telah terjadi langsung membidik anak manusia yang melakukan kesalahan.

Adilkah Tuhan menghukum para penjahat koorporasi birokratik petinggi Lapindo yang menyebabkan lumpur panas Lapindo malah berakibat pada warga Porong yang tak melakukan kesalahan? Sungguh hati-kah Kau Tuhan melihat anak manusia tak bersalah yang nasibnya bak beras ditampi dan diayak itu, hamba-Mu itu (korban) memohon akan kebesaran-Mu.

Rabu, Agustus 13, 2008

Berenergi Sedih
















Esai A Qorib Hidayatullah

Sehabis membaca cerpen (cerita pendek) Mein Dina Oktaviani di Jawa Pos, 29 Juni 2008 membuatku kembali berenergi positif dalam hidup. Hari-hari terakhir ini, aku sangat malas dan dihantui kesuntukan pesimis menjalani hidup. Hidup seakan sangat menjenuhkan sekali dan hanya menambah-nambah masalah saja. Dalam keadaan seperti itu, di mana kondisi psikis sangat tak bisa diajak kompromi, aku sonder seluruh rutinitas kegiatan, semisal membaca dan menulis. Jujur, hal lain yang membuat aku tertarik pada cerpen itu adalah ilustrasi apik (gambar gadis beraut sedih seakan berharap sesuatu) yang akrab dengan warna jiwaku.

Dalam kerinduan selalu ingin hidup stabil, aku berpikir dan merenung, meminjam istilah Pak Guru J. Sumardianta, mengaudit kesibukan-kesibukan guna antisipasi kesadaran palsu. Lazimnya orang sedih, kesedihanku tak jauh beda. Jika orang tatkala sedih beraura murung, aku pun menjalani kesedihan secara sama. Yang membedakannya (pengalaman kesedihan) hanyalah suasana transenden tiap-tiap orang. Aku misalnya, lebih menghadapi kesedihan dengan meninjau masa silam, pertanyaan dalam benak yang senantiasa keluar adalah “Apa yang telah aku lakukan, kok kesedihan sangat mendominasi pada diriku.”

Tak disangka, lambat laun tampil pertanyaan yang dikemukakan telah lama oleh J. Sumardianta, “Kesedihan macam apa yang Qorib rasakan? Anak muda saat ini senantiasa merelikui semangat Bung Karno, mendengus-dengus di kamar kos.” Kesedihan yang merundungku belum ada apa-apanya dibanding kesedihan yang dialami orang lain termasuk J. Sumardianta. Pak Guru, selain memikirkan dirinya, dituntut sibuk memberi nafkah lahir-batin kepada keluarga. Tiap aku tanyakan, kenapa Pak Guru ndak pensiun-pensiun dalam nulis di media. Jawabnya, selain memagari semangat literasi, Pak Guru juga mengais dari honor yang diberikan koran untuk menghidupi keluarga, dan buat biaya anak-anaknya yang sekolah.

Kembali pada permembincangan cerpen Dina Oktaviana, Mein. Mein, tokoh rekaan Oktaviana representatif menggambarkan kesedihan yang dialami olehku. Mein cukup lihai agar kesedihan yang merundungnya tak lekas tampil diwajahnya. Seperti kalimat yang tertera di cerpen tersebut, Mein telah terlatih menghadapi energi kesedihan agar tak langsung diapresiasi oleh raut wajahnya.

Inilah risalah energi kesedihan. Kesedihan hanyalah milik kaum yang spiritualitasnya tinggi. Merayakan hidup sedih dengan rendah hati, tidak sombong kendati berpotensi melakukannya karena memiliki segudang hal, namun tak dilakukannya. Sedih tak harus tampak pada fisik yang nestapa, aku lebih memaknai sedih dengan cukup dialami batin dan jiwa yang paling dalam untuk senantiasa patuh-tunduk pada kekuatan di luar kita.

Parafrase Kesedihan


Esai A Qorib Hidayatullah

Beragam dongeng atau pun cerita kesedihan yang dipendarkan dalam gerak avonturus hidup ini. Kisah kesedihan dalam hidup layak ditali-temalikan agar proses hidup tidak sombong. Manusia butuh hidup bijak di tengah arus dangkal pemaknaan hidup hedonis. Semisal trah Bohemian di negeri Paman Sam, karena telah teken konsistensi berhidupkan sedih, mereka memarkir dirinya tinggal di pedalaman di negara adidaya (sub-urban) itu. Mereka enggan hidup nyaman dengan kesibukan permanennya yang melulu menghamba pada rotasi mesin berdaya konsumerisme. Mereka membaktikan hidup di desa-desa kumuh dengan tetap menggawangi idealisme berkatologisasi pengetahuan, yaitu memilih hidup keranjingan membaca.

Berbeda dari itu, kisah tokoh Lintang dalam novel Laskar Pelangi di mana Andrea Hirata sebagai arsiteknya, malah mempraktikkan kesengsaran akut demi sebuah arung pendidikan. Lintang bersama sembilan kawannya yang menamakan dirinya dengan sebutan Laskar Pelangi itu pergi ke sekolah berbekal jalan kaki yang jauhnya 80 Km pulang-pergi. Selain itu, Laskar Pelangi harus melintasi sungai yang ada buayanya saat pergi dan pulang dari sekolahnya.

Kisah Lintang serta Laskar Pelangi adalah wujud kesungguhan dalam hidup kendati sedih dijadikan jaminannya. Laskar Pelangi memahami betul pentingnya mengenyam pendidikan meski kesengsaran sedari awal ditelan, semata-mata untuk meledakkan kesuksesannya. Al-hasil, novel bikinan Andrea itu sukses di pasaran disebabkan telah apik menenun kisah berdaya romantik, mampu memantik kucuran air mata pembaca.

Tumpukan-tumpukan kisah menyedihkan dari novel Laskar Pelangi berhasil memprovokasi pembaca agar memiliki ruang reflektif dalam hidup. Hidup sedih maupun sengsara hampir mendekati dan membawa hidup pada amuk/ancaman pesimisme. Kerapkali orang saat dirundung pesimisme, yang semula mengamalkan parafrase hidup sedih, akan alami keputusasaan. Putus asa adalah proses hidup alamiah yang lazim semua orang mengalaminya. Putus asa, “Keberhasilan yang tertunda” tutur pepatah.

Dominique Lappierre, penggubah novel spektakuler publik dunia, The City of Joy, lewat kisah hidup kaum paria mampu menyita keprihatinan pembaca. Kaum paria yang berdomisili di Anand Nagar, tak hanya kisah imajinatif yang hanya berhasil di helat fiksi. Namun, kaum paria telah menyentak hati pembaca tergerak untuk membantu orang-orang yang dirundung kesedihan di bumi Anand Nagar. Dominique Lappierre pernah menerima emas beberapa gram dari pasutri yang berekonomikan mapan, “Silahkan emas ini berikan pada para penghuni di Anand Nagar,” begitu bunyi pesan penyerahan oleh pasutri itu.

Begitulah makna pilihan jalan hidup dari kaum Bohemian, Lintang, dan kaum Paria yang telah menceburkan hidupnya dalam kesedihan. Riwayat hidup sedih oleh mereka sengaja dilakukan untuk merajut hidup bijak-bijaksana. Mereka seakan merasa sumpek hidup di tengah-tengah masyarakat yang melulu merayakan pesta absurd dalam hidup; hedonis, glamour, dan berpahamkan konsumeris.

Selasa, Juli 08, 2008

Demokrasi ala Kota Sejuta Bunga


Judul Buku : Demokrasi di Bumi Arema

Penulis : Drs. Peni Suparto, MAP

Kata Pengantar : Megawati Soekarnoputri

Penerbit : Perpustakaan Umum Kota Malang & Indo Press

Cetakan : I, Mei 2008

Tebal : xi + 132 Hlm

Peresensi : A Qorib Hidayatullah*


Tak ayal, saat peluncuran buku ini (14/06/2008) di gedung Sasana Budaya Universitas Malang, penulis buku ini mengalegorikan demokrasi di bumi Arema layaknya bunga dengan beragam warna, mulai dari yang berwarna hijau, ungu, putih, kuning, biru hingga warna merah. Warna-warni bunga itulah menjadi tanda kehidupan harmonis bagi masyarakat satu sama lain yang merupakan harapan demokrasi di bumi Arema ini.


Kehadiran buku Demokrasi di Bumi Arema ini, diniatkan guna merekam perjalanan demokrasi lokal Malang. Kendati demokrasi sejatinya dilahirkan rahim Barat, namun bumi Arema memiliki periode-periode sejarah yang begitu egaliter. Diakui dalam buku ini bahwa di kota Malang turut memiliki riwayat kebijaksanaan masa lalu yang pada zamannya mempratikkan nilai-nilai demokratis (hlm. 34-35).


Demokrasi Zaman Dulu

Di dalam prasasti Dinoyo misalnya, selain menceritakan keberadaan kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin Prabu Gajayana, pun juga pada zaman kuna itu, seorang raja masih menghargai eksistensi Brahmana yang merupakan representasi nurani rakyat pada zamannya.


Prasasti tahun 760 itu, menjabarkan secara singkat Sang Gajayana telah memberi agunan ketentraman bagi pemuka adat untuk hidup layak sebagai pribadi maupun tokoh masyarakat. Syahdan, peradaban manusia yang ribuan tahun lamanya itu, tindakan semacam ini terbilang demokratis di sejarah zamannya.


Begitu pula ketika melirik kudeta berdarah yang dilakukan Ranggah Rajasa Sang Amurwahbhumi (Ken Arok) di tahun 1220 M terhadap Tunggul Ametung yang berwatak jahat pada rakyat Tumapel. Daya revolusi ini dilakukan bersama rakyat, dipimpin Ken Arok, serta didukung para Brahmana dengan motif melawan penindasan.


Di zaman ini, potret gerakan semacam itu dapat dikatakan pemakzulan rezim otoriter, gerakan pembebasan atas sistem yang tidak demokratis serta upaya meruntuhkan kekuasaan despotis raja yang tidak pro-rakyat. Di mana sebenarnya, Tunggul Ametung menjadi raja tidak diharap rakyat, sehingga ia pun merampok harta rakyat guna disetor ke kerajaan Daha yang justru tidak memiliki kontribusi sedikit pun demi kemajuan Malang zaman itu.


Merujuk ke sejarahnya —seperti yang telah dikemukakan di atas— Malang telah memiliki “prasasti” demokrasi kendati bobotnya kecil. Tapi setidaknya, hal itu akan menjadikan bumi Arema sebagai miniatur demokrasi di Indonesia kelak. Masyarakat kota Malang yang heterogen sangat memerlukan prinsip demokrasi guna dinamisasi masyarakatnya.


Untuk memenuhi hal itu, penulis buku ini menggagas bagaimana menguatkan cengkraman demokrasi lokal. Yang coba ditawarkannya ialah terciptanya masyarakat dengan asas hidup saling gotong-royong, kebersamaan, mengasah empati antar masyarakat, membentuk komunitas masyarakat dialogis, serta sistem komunikasi antar masyarakat sehingga pihak kelurahan membuka ruang dialog seluas-luasnya dengan masyarakat grass-root.


Hal penting lain selain di atas yaitu, upaya mengait-kelindankan demokrasi dalam pilkada langsung. Pilkada merupakan kesempatan emas memperkuat demokrasi dengan membumikan pendidikan politik bagi masyarakat. Sehingga budaya demokrasi (democratic culture) selalu kukuh-kuat terbangun di tengah-tengah masyarakat.


Namun, meraih nilai-nilai demokratis itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Di buku ini pun dipaparkan ‘duri-duri’ yang akan mencederai prinsip-prinsip demokrasi. Seperti penghalalan tindak kekerasan sebagai jalan sah menggapai tujuan dan fanatisme akan ras. Kedua ‘musuh’ demokrasi itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memberangusnya demi kesadaran pentingnya tegaknya demokrasi.

Selain itu, buku setebal 132 halaman ini, juga memotret kota Malang dan konsep pembangunannya (hlm 19). Bagian ini sengaja oleh penulis buku ini selipkan untuk menjadikan kota Malang yang damai, sejahtera dan ijo royo-royo. Misalnya, lewat pengetrapan konsep Tri Bina Cita yang memiliki esensi pembangunan Malang sebagai kota wisata; Malang, sebagai kota industri; dan Malang sebagai kota pendidikan. Walau pun banyak orang menentang konsep ini, Tri Bina Cita masih relevan dan berpotensi mengembangkan kota Malang di masa depan.


Sejatinya, dalam konteks pembangunan demokrasi, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk ikut serta menyumbangkan pemikiran-pemikirannya. Dalam kajian demokrasi, buku Samuel P Huntington, The Third Wave of Democratization (1991), paling sering dikutip. Menurut Huntington, semangat utama adalah meruntuhkan rezim yang tidak demokratis dengan rezim yang demokratis. Demokratisasi pada intinya adalah revitalisasi sistem politik otoritarian menjadi sistem yang terbuka dan bertanggung jawab.


Sebagaimana ditulis oleh para teoritisi demokrasi, transisi hanya bisa diselamatkan jika setiap pemangku jabatan publik memiliki tanggung jawab dan komitmen yang kuat. Hal terpenting dari sebuah nilai demokrasi, sebagaimana ditulis William M Sullivan (1997), adalah kepercayaan, iktikad baik, dan idealisme. Pemerintah dan warga negara harus memilikinya sebagai dasar penyelesaian konflik, krisis ekonomi, dan krisis politik.


Al-hasil, kehadiran buku ini memiliki momen yang pas, di mana Jawa Timur khususnya, dan di Indonesia pada umumnya tengah menjelang pesta demokrasi. Dan sayangnya, buku yang dieditori Liga Alam M ini masih memiliki kekurangan di sana-sini, seperti desain cover yang tidak matching dengan muatan di dalamnya serta daftar isi yang tanpa mencantumkan halaman. Kendati demikian, cacat kecil itu tidak mengurangi substansi gagasan yang hendak disampaikan penulisnya dalam buku ini.

Mahasiswa dan Proyek Perubahan Pemimpin

Oleh: A Qorib Hidayatullah


Seperti sabda Nabi, "Setiap kamu pemimpin, dan setiap pemimpin pasti akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."


Pada tahap itu, setiap individu harus memasuki fase kekosongan. Suatu momen transenden untuk menisbikan status diri, ikatan primordial dan egosentrisme; membiarkan diri telanjang demi mencerap bahasa awam untuk merasakan denyut terlemah dari kehidupan masyarakat agar mampu membuka diri penuh cinta untuk yang lain.


Menjelang helat akbar pesta demokrasi di Jawa Timur, 23 Juli 2008, mahasiswa sebagai representasi kaum kritis pemerintahan tak bisa tinggal diam. Kendati tak sedikit dari mahasiswa yang terlibat suksesi Pilgub Jatim, namun itu bukan wujud ketumpulan suara kritis mahasiswa. Malainkan, itu sebuah gerakan mahasiswa guna menentukan platform dan keberanian melakukan tindakan dengan menggalang kekuatan di kancah politik praktis.


Intelektualisme Mahasiswa

Hakikat keberadaan kaum intelektual (mahasiswa) adalah kritisisme atau sikap kritis terhadap jagat realitas sekitar di mana ia berada. Kesadaran intelektual ini harus dapat mewujudkan gerakan yang kritis, independen, dan sosialis —dalam pengertian mau membela dan memihak kaum lemah tertindas. Sebab, kata Ali Syariati, misi suci kaum intelektual atau cendekiawan adalah membangkitkan dan membangun masyarakat bukan memegang kepemimpinan politik negara, dan melanjutkan kewajiban dalam membangun dan menerangi masyarakat hingga mampu memproduksi pribadi tangguh, kritis, independen, dan punya kepedulian sosial tinggi (1996).


Dalam bahasa Gramscian, kelompok itu disebut dengan intelektual organik, atau Moeslim Abdurrahman menyebutnya sebagai subaltern intellectuals, intelektual akar rumput. Lapisan kritis civil society yang bertindak sebagai artikulator anti-kemapanan dan ketidakadilan (2003). Kaum intelektual yang peka akan realitas sosial, problem ketidakadilan dan ketertindasan.


Jika kaum intelektual diibaratkan roh dan kekuasaan adalah badan, sang roh selalu mengontrol tindakan si badan yang menyimpang dan merusak bebrayan agung alias kehidupan. Posisi kaum intelektual yang oposisional ini, bagi kekuasaan tidak hanya mengganggu, tetapi juga berpotensi menggagalkan cita-cita korupnya. Karena itu, kekuasaan berupaya menaklukkannya. Penaklukan bisa dengan cara kasar (membunuh hak-hak sipil/asasi atau membunuh secara fisik), bisa dengan halus merekrut intelektual dalam kekuasaan menjadi legitimator kekuasaan.


Kendati demikian, sebagai elite intelektual, mahasiswa yang berasal dari dunia kampus kerap mengusung ide pembaharuan yang berdiri di atas pijakan idealisme dan moralitas.


Mahasiswa Agen Perubahan

Secara faktual, mahasiswalah yang menjadi ujung tombak sekaligus mainstream dari gerakan perubahan yang berlangsung di mana pun. Dengan nalar intelektualitasnya, mahasiswa mampu menemukan argumentasi rasional mengenai kondisi yang bobrok dan tidak sesuai dengan semangat konstitusi atau nilai kemanusiaan. Hanya mahasiswa yang mampu menjadi pionir perubahan, sekaligus menjadi kekuatan yang paling ditakuti rezim penguasa despotik yang korup di belahan mana pun.


Tidak mengherankan, bagi Indonesia, gerakan mahasiswa menuntut perubahan, berlangsung pasang surut sejak 1966. Pemerintah Soekarno yang mengabaikan demokrasi, makzul oleh gerakan mahasiswa dan pemuda, pada 1966. Soeharto yang baru berkuasa secara de-jure empat tahun, harus menghadapi gelombang protes gerakan mahasiswa 1974. Sejak saat itu, Soeharto mengerangkeng mahasiswa yang telah memberikan kedudukan padanya. Gerakan mahasiswa, bangkit kembali 1977-1978 hingga mencapai puncaknya Mei 1998. Tuntutan reformasi nasional yang dikumandangkan mahasiswa, memicu kesadaran masyarakat untuk mendukung gerakan reformasi yang dimotori mahasiswa.


Pada saat itu, hanya mahasiswalah yang berani bersuara di bawah ancaman laras senjata dan berani melangkahkan kaki di bawah desingan peluru dan gas air mata. Lebih dari tiga puluh tahun di bawah rezim Soeharto, tidak ada perubahan yang berarti dalam demokrasi.

Konsekuensi sebuah proses yang demokratis adalah terbangunnya kehidupan masyarakat yang demokratis. Demokrasi menuntut berfungsinya kontrol sosial, partisipasi masyarakat, jaminan penegakan hukum, terbukanya akses kegiatan ekonomi yang luas, perlindungan negara terhadap hak-hak individu, serta menempatkan militer sebagai alat negara yang tidak terlibat dalam urusan politik.


Mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan), selayaknya memendarkan kekuatan perubahan di tengah-tengah masyarakat. Dalam konteks ini, mahasiswa dituntut ikut andil mengubah prilaku pemimpin. Hampir sepuluh tahun lebih melewati masa transisi demokrasi (1998-2008), jarang kita menemukan hadirnya para politisi seperti Barack Obama yang berpolitik dengan ide/gagasan.

Setelah Senator Barack Obama mengeluarkan buku The Audacity of Hope (2006), masyarakat Amerika terhenyak ketika mereka baru sadar bahwa pekerjaan seorang senator tidak saja berdebat di ruang-ruang sidang, berorasi di hadapan para konstituen, melainkan juga bisa ikut memperkaya khasanah pengetahuan masyarakat lewat goresan kata-kata yang inspiratif. Buku berikutnya From Promise to Power (2007) yang tulis David Mendell makin memberi keyakinan bahwa berpolitik tanpa ide dan gagasan sama artinya dengan memangku jabatan tanpa tanggungjawab.


Adalah tanggungjawab sejarah generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk senantiasa berjuang memperbaiki nasib bangsanya. Sebagian besar rakyat kita adalah masyarakat yang belum bebas dari kebodohan dan kemiskinan, dipundak mahasiswalah mereka menaruh harapan akan masa depan anak-anaknya agar hidup lebih baik di masa mendatang. Melalui kemampuan intelektualitas, seyogianya mahasiswa mampu menangkap perasaan rakyat akan pentingnya kesejahteraan dan demokrasi, yang adil dan merata, sebagai konsekuensi logis dari negara yang merdeka serta berdaulat.