Jumat, Januari 23, 2009

Melawan Lupa dengan Sastra



Oleh DAMANHURI, penulis tamu asal Lampung, kawan lama di Malang

Di pangkuan sastrawan yang bertekad menjadi perawat ingatan, merayakan memoria passionis, sastra selalu didayagunakan mengundang manusia agar selalu tergerak segenap jiwa-raganya dalam menyangkal proses pelupaan, merawat ingatan, dan akhirnya: Merayakan pemaafan.

"Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa." Itu kata Milan Kundera dalam novel Kitab Lupa dan Gelak-Tawa (Bentang, 2000: 4).
Sebuah karya unik yang dengan ringan tapi penuh pukau mampu mengetalasekan penjelajahan fantasi tokoh-tokohnya, lelucon kelam satire politik sebuah negeri yang masai oleh sengketa ideologi politik, juga jalinan cerita erotis tokoh-tokoh hedonis rekaannya.

"Langkah pertama untuk memusnahkan sebuah bangsa adalah menghapuskan memorinya," begitu kata salah seorang tokoh novel pengarang Cheska itu. "Hancurkan buku-bukunya, kebudayaannya, dan sejarahnya." Setelah itu, "suruh seseorang menulis buku-buku baru, membuat kebudayaan baru, dan menemukan sejarah baru." (2000: 262--263)
Dengan mengamini apa yang "dikhotbahkan" Kundera itu, buku--juga buku-buku sastra, tentunya--barangkali memang layak diandaikan sebagai pisau bermata dua. Di tangan para durjana pemuja kuasa, ia merupakan sarana merampas ingatan, "memperpendek"-nya, dan memaksa manusia mengidap amnesia: Lupa akan masa lalu-masa kini-masa depan sejarah hidupnya.

Tapi bagi para pencinta kemanusiaan, buku justru tidak ubahnya wadah tempat kemuliaan dan keindahan hidup yang dicita-citakan memperoleh suakanya. Sebuah dunia di mana penderitaan masa lalu dan masa kini dipahatkan. Bukan untuk titik tolak bagi rangkaian agenda balas dendam, tentu. Tapi agar segala kekejian yang menginjak-injak harkat kemanusiaan tidak terulang di masa depan.

Begitulah. Lewat karya sastra, sejarah penderitaan serta segala tragedi kemanusiaan, misalnya, bisa saja dibelokkan atau sebaliknya: Diabadikan. Karena melalui karya sastra yang bersimpuh di bawah telapak kaki kekuasaan, "politik ingatan" (politics of memory) selalu diarahkan pada usaha merampatpapankan ingatan kolektif agar bergandengan tangan dengan, dan memuaskan "selera", kekuasaan. Sedangkan melalui karya sastra yang berangkat dari ikhtiar untuk merawat ingatan, "politik ingatan" senantiasa diarahkan untuk melawan proses penyeragaman dan pelupaan itu.

Dengan kata lain, di pangkuan sastrawan yang bertekad menjadi perawat ingatan, merayakan memoria passionis atau ingatan akan penderitaan, sastra selalu didayagunakan untuk mengundang manusia agar selalu tergerak segenap jiwa-raganya dalam menyangkal proses pelupaan, merawat ingatan, dan akhirnya: Merayakan pemaafan.

Luka, Lupa, Sastra
Gaung dari beberapa pasase novel karya pengarang Cheska yang pernah disebut Carlos Fuentes sebagai salah seorang penerus Gogol dan Kafka di zaman modern itu saya kira juga akan segera menyergap kesadaran para pembaca saat menyusuri helai demi helai halaman novel Khaled Hosseini: The Kite Runner (KR, Qanita, 2005) dan A Thousand Splendid Suns (TSS, Qanita, 2007). Sebab, kendati banyak berselisih haluan dalam strategi literer maupun cakupan tema, toh apa yang ditorehkan Hosseini pun bermuara pada ikhtiar merawat ingatan.

Baik dalam KR, yang terjual lebih dari delapan juta kopi, maupun TSS, yang juga jadi best seller dan menyita perbincangkan para kritikus sastra mancanegara; rumbai kisah yang dirajut Hosseini memang sama-sama berkelindan dalam pusaran tema luka dan trauma yang mendera manusia di tengah karutnya kondisi sosio-politik bangsa Afghanistan akibat buasnya perang.

Ya, luka, lupa, dan sastra, tampaknya merupakan tiga kata yang tak bisa diceraikan dari kehidupan Khaled Hosseini. Di tangan novelis cum dokter kelahiran Afghanistan yang didapuk dalam deretan seratus tokoh pilihan majalah Time edisi Mei lalu itu, karya sastra memang dengan sengaja disulap jadi jendela bagi dunia untuk melihat luka yang diderita bangsanya sekaligus siasat yang ditempuhnya guna melawan lupa.
Dengan sejarah pertikaian dan konflik politik yang merentang panjang dari masa kolonial Inggris, monarki Zahir Shah, kudeta Mohammad Daud, bercokolnya rezim komunis, pendudukan Soviet yang berhasil dipaksa hengkang tahun 1989, perang sipil, hingga bercokolnya rezim Taliban, Afganistan memang "tanah subur" bagi puspa ragam penderitaan. Novel KR dan TSS karya Hosseini bisa dianggap sebagai testimoninya atas kondisi itu.

Dengan latar sebuah negeri di mana orang seakan butuh visa saat bertandang ke perumahan tetangga, dalam KR, Khosseini membidikkan fokus novelnya pada kisah hubungan seorang ayah dengan anaknya, di samping kisah persahabatan sang anak (Amir) dengan karibnya (Hassan).

Persahabatan yang suatu ketika harus retak oleh pengkhianatan Amir atas Hassan yang membiarkannya dirudapaksa preman Kabul. Pengkhianatan yang selanjutnya tumbuh akut jadi rasa bersalah yang mencapai klimaks saat Amir akhirnya tahu bahwa sang sahabat ternyata saudara kandungnya buah perselingkuhan sang ayah.

Tidak begitu beda dengan KR, titik kisar rajutan kisah TSS pun masih belum beranjak dari paras kusam orang-orang Afghanistan yang seolah tidak putus diserimpung nasib malang. Masih berkutat pada impak buruk yang lahir dari rahim peperangan, untaian kisah TSS hanya beralih fokus ihwal hubungan seorang ibu (Nana) dengan anak perempuannya (Mariam), di samping kisah permusuhan yang berujung jadi persahabatan antara Mariam dan Laila yang tak lain adalah madunya.

Malapetaka yang menimpa Mariam sebenarnya hal lazim di negeri dengan tingkat buta huruf mencapai 80 persen itu. Namun, pentungan kemalangan yang selalu gagal dielakkannya itu memang begitu kompleks: Terlahir sebagai harami ("anak haram"), ditinggal sang ibu yang mati gantung diri, berparas jauh dari kata rupawan, dikelilingi sejumlah ibu tiri yang menampik kehadirannya, dan puncaknya dipaksa kawin dengan lelaki telengas yang pantas jadi kakeknya, tapi memandang poligami sebagai puncak kemuliaan hidup tiap lelaki sejati.

Dan, ujung segala kemalangan itu dipungkasinya di tiang gantungan rezim Taliban yang acap gagal membedakan kezaliman dari kebajikan. Syahdan, karena tidak kuasa lagi menanggung siksa membabi buta dari sang suami yang kerap gelap mata, lewat persekongkolan apik dengan madunya (Laila), Mariam akhirnya memaksa sang suami sontoloyo yang menatap perempuan tanpa burkak seolah pengidap kusta itu meregang nyawa.

Mengarungi hidup sepeninggal ibunya, hari-hari Mariam memang seolah tudak pernah lengang dari kepungan cerita kepedihan. Suasana perang yang bertali-temali dengan kultur patriarkat pada akhirnya tidak menyisakan apa pun baginya selain kian pekatnya wajah murung kehidupan yang harus dijalani.
"Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke utara," begitu mendiang ibunya kerap berkata, "Telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menunjuk perempuan. Selalu. Ingatlah ini, Mariam." Pada saat yang lain, perempuan yang diusir sang majikan yang memberinya "benih" Mariam itu juga menujumkan: "Hati pria sangatlah terkutuk, Mariam. Berbeda dengan rahim ibu. Rahim tak akan berdarah atau melar karena harus menampungmu." (2007: 20, 44)

Stereotipe?
Pada suatu ketika, membaca novel barangkali tidak lebih dari suatu klangenan biasa layaknya aktivitas "ongkang-ongkang kaki" kaum amtenar atau bahkan serupa "sport mewah" orang-orang borjuis. Terkesan agak berlebihan jika berharap bersua hikmah (atau apa pun namanya) dalam pagina-pagina karya yang dibaca--khususnya saat bertemu dengan karya para pengarang yang konon tidak mengusung pretensi apa pun selain sekadar mewujudkan etos "kepengrajian" (craftsmanship) belaka.

Namun, cara pandang seperti itu mungkin tak akan banyak menggemakan makna saat membaca kedua novel Khaled Hosseini. Sebab, keterbukaan pembaca pada kemungkinan sastra menjelma jadi karya yang merayakan memoria passionis justru jadi sebuah imperatif yang tak bisa ditampik. Sastra yang membentangkan misi mulianya untuk menyangkal amnesia, luka, dan memulihkan trauma.

Dengan begitu, di tengah banjirnya karya sastra terjemahan, KR dan TSS akan menunjukkan posisinya yang cukup istimewa. Meskipun, sebagaimana kebanyakan karya sastra (tentang, dari) dunia ketiga yang juga tengah menyesaki pasar perbukuan kita, kedua novel Hosseini pun gagal meloloskan diri dari kerumunan stereotipe. Setidaknya jika menoleh pada begitu pekatnya ajektif negatif yang melekat dalam pelbagai karakternya. Atau kesan seakan tidak ada hal lain bagi beragam latar yang membingkainya selain warna buram: Lanskap negeri yang terus-menerus disulut kecamuk perang, kemiskinan, kebodohan, despotisme, patriarkat, dan seterusnya.
Alhasil, para pembaca pun boleh jadi bertanya-tanya: Apakah cuma keterbelakangan yang dibalut segala wasangka itu yang layak diangkat karya sastra negara-negara ketiga? Apakah hanya karya sastra yang mendedahkan "eksotisme" seperti itu yang diandaikan mampu memuaskan kuriositas literer pembaca Barat sekaligus bisa "memahamkan" mereka akan liyan-nya?

Senin, Januari 05, 2009

Ijtihad Gender dalam Keluarga Muslim


Oleh A Qorib Hidayatullah

Tak banyak buku-buku yang menela’ah berkelindannya gender dalam tatanan kehidupan keluarga Muslim. Di tengah tempaan prahara keluarga, misalnya maraknya perceraian, poligami/poligini, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), kasus trafficking dll, kajian gender kini lambat laun memiliki ruang keterlibatan guna mendesain terciptanya keluarga sakinah. Sehingga, konseling keluarga berwawasan gender bagi keluarga Muslim menjadi kebutuhan yang niscaya.

Dalam kasus poligami misalnya, yang memiliki sejarah sangat panjang dalam kehidupan manusia. Praktik ini sudah ada jauh sebelum Islam datang. Bahkan pada masa sebelum Islam datang, yang lazim disebut masa jahiliyah, bukan hanya laki-laki boleh mengawini perempuan tanpa batas, melainkan juga menjadi simbol status sosial. Semakin banyak istri, maka status sosialnya makin tinggi dan tambah terhormat pula.

Namun saat ini, poligami justru menjadi lambang kerakusan, pengkhianatan, tidak bertanggung jawab, dan sebagainya. Perasaan ketidakadilan ini penting untuk direspons Islam, karena keadilan Islam adalah untuk manusia, bukan untuk Islam itu sendiri. Islam datang bukan menghapus secara radikal praktik poligami, tapi membatasi maksimal empat orang. Semangat yang diusung Islam ialah spirit keadilan terhadap perempuan.

Buku ini menawarkan empat pilar guna tercipta perkawinan yang berkesetaraan dan berkeadilan gender. Pertama, suami istri dicanangkan sama-sama memiliki akses dalam kehidupan rumah tangga. Kedua, memperoleh peran-peran yang seimbang dalam rumah tangga. Ketiga, menerima wewenang dan tanggung jawab yang sama termasuk dalam pengambilan keputusan. Dan yang keempat, sama-sama mendapatkan manfaat dalam kehidupan keluarga (hlm 238).

Menyikapi perihal praktik poligami, penulis buku ini cenderung menolak. Dalam terang pemikirannya, perkawinan poligami terasa sulit mewujudkan kesetaraan gender karena kondisi awal membangun rumah tangga posisi suami istri tidak sama. Sehingga berekses pada pembagian peran dan tanggung jawab khususnya dalam pengambilan keputusan.

Kesakinahan Keluarga
Disadari maupun tidak, berjuta-juta keluarga mengalami frustasi, kesepian, dan konflik. Di zaman yang serba maju ini, tak dapat ditampik telah banyak memberi pengaruh pada tatanan kehidupan manusia, baik yang bersifat positif maupun negatif. Sehingga dalam kehidupan keluarga banyak mengalami perubahan dan berada jauh dari nilai-nilai keluarga yang sesungguhnya. Untuk itu diperlukan adanya perhatian dan solusi yang tepat dalam menghindari disharmoni keluarga.

Pembagian peran gender pada dasarnya tidak bermasalah selama tidak menimbulkan ketidakadilan. Kentalnya budaya patriarkhi dan matriarkhi dalam sebuah keluarga (masyarakat) menjadi pandangan bias gender yang menyebabkan ketidakadilan baik bagi perempuan maupun laki-laki.

Budaya partiarkal (budaya yang mengutamakan laki-laki lebih dibanding perempuan) dan matriakal (budaya yang mengunggulkan perempuan dari pada laki-laki), kini telah tidak relevan lagi di tengah semangat zaman yang asyik membonceng egaliterianisme dan demokrasi. Dalam kehidupan masyarakat urban, tidak lagi tertanam ajaran bahwa perempuan melulu bekerja di ranah domestik, sedangkan laki-laki bebas berkarir di ranah publik.

Kesakinahan keluarga kini menjadi impian bersama di setiap tatanan keluarga Muslim. Merujuk pada UU RI No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pasal 1, Perkawinan didefinisikan sebagai ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai pasangan suami istri dengan tujuan membentuk keluarga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Mewujudkan mimpi keluarga sakinah tak segampang membalikkan telapak tangan. Seakan menjadi batu sandungan bila hak-hak dasar pasangan suami istri dalam posisi tidak setara. Sebab, keadilan gender menghendaki sebuah relasi keluarga yang egaliter, demokratis, dan terbuka. Hal ini ditandai dengan rasa hormat dari yang muda kepada yang lebih tua, rasa kasih sayang dari yang lebih tua kepada yang lebih muda, sehingga mewujud komunitas yang harmonis antara laki-laki maupun perempuan sebagai anggota keluarga.

Alquran surat al-Rum: 21, memberi tiga kunci kebahagiaan hidup, yaitu mawaddah, rahmah, dan sakinah. Tiga kata kunci tersebut menjadi keniscayaan pegangan dalam mengarungi bahtera kehidupan berkeluarga.

Mawaddah ialah rasa cinta yang disertai penuh keikhlasan dalam menerima keburukan dan kekurangan orang yang dicintai. Dengan mawaddah seseorang akan menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya sebagai bagian dari dirinya dan kehidupannya. Selanjutnya rahmah, yang merupakan perasaan saling simpati, menghormati, menghargai antara satu dengan yang lainnya, saling mengagumi, memiliki kebanggaan pada pasangannya. Terakhir sakinah, yaitu puncak kebutuhan pasangan suami istri untuk mendapatkan kedamaian, keharmonisan, dan ketenangan hidup yang dilandasi rasa keadilan, keterbukaan, kejujuran, kekompakan, dan keserasian, serta berserah diri kepada Allah (hlm 49-50).

Dengan demikian, amal kesakinahan keluarga nan berwawasan gender merupakan puncak idaman bagi tiap-tiap keluarga. Bertolak dari itu, tujuan perkawinan dapat diraih sesuai harapan bersama dalam membangun rumah tangga bahagia. Keluarga yang memegang erat budaya patriarkhis yang bias gender cenderung melahirkan diskriminasi gender. Sehingga perlu kiranya melakukan adaptasi dan perubahan keluarga yang bias gender dengan berupaya mewujudkan tujuan perkawinan yaitu membangun keluarga bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah. Yang terpenting dipraktikkan ialah kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan keluarga.

Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender karya Mufidah Ch ini, mengarsiteki laku gender dalam keluarga Muslim. Sebagai aktivis perempuan, Mufidah Ch ditengarai sangat getol mengusung tema-tema gender di setiap karyanya. Di karyanya yang lain, Paradigma Gender (2004), memperkuat bahwa penulis buku ini betul-betul all out berijtihad di jagad kajian gender dan keperempuanan. Buku ini sangat layak dibaca guna menghantarkan keluarga Muslim dalam meraih kebahagiaan hidup.

Judul Buku : Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender
Penulis : Dra. Hj. Mufidah Ch, M. Ag
Penerbit : UIN Malang Press
Cetakan : I, Oktober 2008
Tebal : xii + 401 Halaman
Peresensi : A Qorib Hidayatullah*

Jumat, Desember 12, 2008

De Winst, Kesaksian Novel Poskolonial


Oleh A Qorib Hidayatullah
[pekerja kreatif, gemar ngopi]


Sebagai salah satu novel sejarah, De Winst merupakan salah satu karya sastra yang laik diziarahi. Novel setebal 336 halaman ini, menenun kisahnya ihwal jama’ah pelajar Indonesia di negeri Belanda, Indonesische Vereniging (IV), atau di Hindia lebih familiar dengan sebutan Perhimpunan Indonesia (PI).

Afifah Afra, novelis muda jebolan jurusan biologi kampus negeri di Solo, yang juga merupakan anggota dari forum komunitas penulis FLP yang memiliki cabang hampir di seluruh Indonesia tersebut, senang bergelut dengan cerita berlatar sejarah. Di tengah gemerlap hajatan sastra Islami yang digeluti komunitasnya, ia kadang setia bertahan dengan sajian cerita-cerita sejarahnya yang kental, menggugah inspirasi. Terlebih, dengan bubuhan gambar di setiap lekuk badan novel ini, membuat pembaca makin termanjakan.

Sedikit beda dengan karya jamak penulis FLP lainnya. Karya ini mengingatkan kita pada sebuah jejak-rekam kesengsaraan inlander oleh sistem tanam paksa yang dinarasikan oleh H. Moekti dalam roman klasik, “Hikajat Siti Mariah”. Roman ini juga menyibak tuntas ihwal kesengsaraan inlander; praktik penindasan masyarakat gula di Jawa Tengah oleh rezim kapitalis Belanda.

Dalam Prelude to Revolution, George D. Larson pernah mengungkap, perkembangan politik bumi putra pada era kolonial di daerah seperti Surakarta (Solo), banyak didominasi kaum pedagang dari pada golongan priyayi. Kemajuan ekonomi itu bertumpu pada sektor perdagangan seperti batik, tekstil dan sejenisnya. Perkumpulan kaum pedagang ini menurut Larson, mula-mula punya andil menandingi hegemoni perdagangan kawasan Hindia oleh etnis China dan golongan Eropa, termasuk Belanda. Namun perkumpulan ini lambat laun tidak sebatas mengurusi soal perdagangan, melainkan (dengan perlahan juga) menjadi ajang bagi tumbuh kembangnya rasa kebangsaan & semangat pergerakan. Perkumpulan semacam ini semisal Sarikat Dagang Islam (SDI) yang dipimpin oleh H. Samanhudi dari daerah laweyan. Fenomena inilah (kalau boleh saya tebak) yang mengilhami Afifah Afra untuk mengangkatnya dalam sebuah novel, yang diyakini penulis, mampu membangunkan jiwa idealisme kita yang saat ini lagi kendur.

Konflik novel ini bermula dari krisis ekonomi yang menyerang dunia awal abad 20, menghantam dunia Timur dan merambat ke wilayah Hindia Belanda. Kita mafhum, bahwa negeri kita yang beratus-ratus tahun menjadi tempat bercokolnya kolonial Belanda, adalah ladang surga bagi suplai tumbuh-kembangnya perekonomian negeri tersebut. Namun semakmur-makmurnya Hindia, tak ketinggalan ikut terkena imbas krisis dunia saat itu. Novel ini menggambarkan kekelaman penduduk pribumi atas arogansi penduduk golongan kelas satu penumpuk modal (Belanda), yang gemar mengeruk kekayaan negeri Hindia yang melimpah. Namun ironis, di tengah kemewahan negeri pecahan surga nan elok, bumi putra sebatas menjadi jongos di negeri sendiri. Mereka menjadi penduduk kelas tiga yang selalu ditindas dan diperbudak oleh syahwat kapitalisme.

Akibat dari krisis tersebut, berpuluh-puluh industri komoditas utama negeri ini banyak yang gulung tikar. Salah satunya adalah industri gula. Industri yang bahan bakunya disuplai dari perkebunan tebu ini, terancam bangkrut. Harga gula di pasaran terus melorot. Imbasnya, harga sewa tanah dan gaji pekerja buruh, yang mayoritas ditekuni inlander turun pada level yang mencekik. Tragedi ini menjadi pemantik semakin menguatnya gairah revolusi kaum pribumi menuju tata perekonomian yang lebih kondusif. Seperti yang dikoar-koarkan oleh kaum pergerakan, perihal rencana & cita-cita agung memerdekakan negerinya.

Salah seorang priyayi mantan asisten administratur De Winst (nama sebuah perusahaan gula swasta milik Belanda), bangsawan aristokrat keturunan raja mataram, lulusan Leiden University, Rangga Paruhita, ingin melepaskan bangsanya dari belenggu & penindasan antek-antek kolonial. Ia membidani lahirnya sebuah gerakan. Gerakan ini berusaha memonopoli perusahaan-perusahaan swasta yang nota bene dikelola kaum penjajah. Gerakan dalam sektor ekonomi tersebut ia namai gerakan ekonomi kerakyatan. Usaha ini bertumpu pada pengembangan sektor industri tekstil, di mana kapas menjadi komoditas utamanya. Namun tak beberapa lama, sebuah tragedi mencuat. Geger dan eksodus besar-besaran buruh De Winst ke pabrik tekstil yang dikelolanya, menyeret R.M Rangga Paruhita ke muka pengadilan dengan tuduhan memberontak pada pemerintah. Tak ayal, serangkaian fitnah dan konspirasi keji yang dilimpahkan pengadilan, menyeretnya dalam internering ke Endeh.

De Winst begitu memesona. Tak berbeda jauh dari novelnya terdahulu, “Bulan Mati di Javasche Orange”, Afifah Afra menyelipkan kisah asmara tragis tapi menarik. Cerita percintaan ini terajut dari pertemuan Rangga yang studi ekonomi di Leiden sepulangnya dari negeri Belanda dengan Everdine Kareen Spinoza yang sarjana hukum Universitas Rotterdam di geladak kapal menuju Hindia. Kelebihan novel ini adalah ketangkasan penulisnya mempertemukan tradisi lokal keraton Jawa yang kental aroma feodalismenya dengan gaya hidup Eropa yang aristokratik dalam nampan cerita yang memikat. Ia menyembulkan cerita yang mengetengahkan geger kebudayaan antara harus melanggengkan sistem feodalisme Jawa atau mentradisikan sistem demokrasi ala cendekiawan Bumi Putera. Seperti yang telah dijalankan Soekarno, Shahrir, Hatta maupun Cipto Mangunkusomo.

Novel ini ingin menegaskan kembali, bahwa dengan terbenamnya sejarah oleh waktu, apa yang diusung kolonialis, yaitu misi penjajahan itu sendiri, belumlah benar-benar hengkang. Praktik kapitalis dengan wujud imperialisme yang mendera bangsa kita sekitar 3,5 abad itu walau sekarat, tetapi belum benar-benar mati. Zaman sekarang pemilik modallah (baca: investasi asing) yang berkuasa & menguasai sektor-sektor penting di negeri ini. Bahkan, pemerintah dibuat seakan tak berkutik. Praktik kapitalisme itu, kendati pengaruhnya secara umum seringkali laten, namun tetaplah harus diwaspadai. Novel ini menjadi senjata ampuh untuk menyentil kesadaran kita akan bahaya praktik kapitalisme yang kini dengan amat terselubung dan ditunggangi berbagai kepentingan aktif menyemburkan praktik-praktik kapitalisme gaya baru.

Data Buku:
Judul buku : De Winst: Sebuah Novel Pembangkit Idealisme
Penulis : Afifah Afra
Penerbit : Afra Publishing, Surakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 336 halaman

Mahasiswa, Demonstran Seksi


Oleh Misbahus Surur
[penulis tamu, kawan nongkrong di kedai kopi]

Catatan:
--Mas Surur, thanks tulisannya. Gemarlah ngajak ngopi bareng bila honor tulisan cair. Luv U.--


Tonggak sejarah berdirinya republik ini tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran mahasiswa di dalamnya. Perlawanan terhadap kolonialisme setelah tahun 1900-an banyak dipelopori oleh gerakan kaum muda (baca: mahasiswa). Lahirnya Boedi Oetomo (1908), sebagai pelopor perjuangan bangsa ini dalam melawan kolonialisme juga di dominasi oleh kaum muda. Boedi Oetomo menjadi tempat persemaian bibit-bibit pergerakan nasional. Dengan watak perjuangan yang terorganisir kaum muda ingin meninggalkan model perjuangan lama, yakni sebelum tahun 1900 yang masih bersifat kedaerahan. Semenjak diterapkannya sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) yang menyebabkan penindasan dan eksploitasi kekayaan negeri ini, gelagat perjuangan kaum muda mulai berkobar.

Di Indonesia, gerakan mahasiswa lahir atas kondisi historis untuk menjawab kondisi penindasan bangsa tersebut. Akar gerakan kaum muda mempunyai orientasi yang cukup panjang. Dimulai sejak depresi ekonomi tahun 1878 yang menyebabkan munculnya kebijakan Cultuur Stelsel hingga lahirnya penentangan terhadap kebijakan tersebut dari Social Democratische Arbeider Partij (SDAP) yang kemudian melahirkan kebijakan baru, ”Politik Etis” tahun 1895 (hlm. 76-77).

Dalam menentang kebijakan penguasa yang tak memihak rakyat, mahasiswa punya sejumlah nostalgia sejarah yang kisahnya tak bisa dilupakan begitu saja. Perjuangan tersebut bisa direkam lewat beberapa insiden antara lain; peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) tahun 1974, sebuah protes dan penentangan mahasiswa atas kebijakan pemerintah terhadap pemodal/ investor asing (Jepang & Amerika) yang dinilai merugikan bangsa. Kemudian tragedi Trisakti 1998 hingga Semanggi I & Semanggi II. Seluruh tragedi tersebut merupakan akumulasi dari kekecewaan mahasiswa atas kebijakan pemerintah yang cenderung tidak memihak rakyat. Walau harus mengorbankan nyawa, nyatanya mahasiswa selalu menjadi yang terdepan dalam menentang kebijakan & represi negara.

Namun apa yang terjadi sungguh menjadi suatu ironi. Gaya hidup mahasiswa sekarang banyak terperosok ke arah prinsip hidup hedonisme yang kalau boleh dibilang, justru menjerumuskan diri mereka pada jurang kapitalisme. Dalam budaya kapitalisme, tubuh direduksi sebagi komoditas yang terus dieksploitasi. Semua itu dengan tujuan bagaimana bisa menarik dan menciptakan massa supaya hanya bisa beli dan beli. Akhirnya semuanya digiring pada obsesi yang sulit untuk dipenuhi. Karena pada dasarnya libido manusia memang tidak akan pernah mengalami rasa puas.

Sifat acuh terhadap realitas sosial, pergaulan yang serba permisif dan gaya hidup glamour yang mengikuti trend masa kini membuat mahasiswa menjadi apatis, menggadaikan idealisme demi kesenangan & hasrat untuk melampiaskannya. Maka lakon yang dibawakan hanya sebatas berburu lawan jenis, pacaran dan seterusnya. Begitu pula sistem pendidikan di sekolah maupun di kampus dinilai tidaklah mendidik, tetapi malah menjauhkan pelajar & mahasiswa dari permasalahan sosial dan membuat mereka menjadi produk-produk statis dan tidak punya integritas sosial.

Mahasiswa dengan kungkungan sistem pendidikan kapitalis seperti sekarang, aktivitas mereka cenderung ke arah mencari kesenangan & foya-foya dari pada menekuni teori yang mengantarkan pada penemuan yang berdampak besar bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, atau menggagas perubahan menuju tatanan sosial yang lebih adil & memihak rakyat. Di era kapitalisme yang menyelimuti mereka, mahasiswa seharusnya bangun dari mimpi buruk ini dan menengok sejarah guna mengambil sebuah pelajaran berharga.

Dalam konteks kekinian gerakan mahasiswa semestinya diarahkan pada proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Karena di samping sebagai insan akademik, mahasiswa juga menjadi motor utama dalam mengawal setiap perubahan yang terjadi di negeri ini. Dengan memikul tugas besar sebagai pengontrol kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat. Baik melalui kritik sosial semisal aksi demonstrasi maupun dalam ranah pemikiran. Dalam pemikiran mereka bisa meningkatkan kapasitas dirinya dengan kegiatan intelektual yang kreatif dan produktif. Apalagi saat ini, di tengah keadaan negeri yang dipenuhi oleh beragam bencana tanah longsor dan banjir yang tak berputus-putus, sangat diharapkan sekali peran mahasiswa. Tugas besar inilah yang mengilhami Nurani Soyomukti menulis buku ini.

Ketika gerakan & tuntutan rakyat ditumpulkan oleh penguasa, dan wakil rakyat yang seharusnya membela hak rakyat ternyata hanya bisa duduk dikursi empuk dan enak-enakan tidur ketika sedang diajak membicarakan masalah rakyat (tidak dapat berbuat banyak untuk rakyat), maka mahasiswalah yang selalu tampil sebagai penyambung lidah rakyat.

Buku ini ditulis bukan karena hajatan untuk merayakan pornografi layaknya ”Jakarta Undercover” dan sejenisnya, juga bukan dengan niat menghakimi mahasiswa sebagai pelaku secara hitam putih, justru sebaliknya adanya buku ini mengajak mereka sadar dan kritis terhadap kuasa kapitalisme yang terus menghimpit kehidupan mereka sehari-hari. Buku ini meletakkan mahasiswa sebagai obyek (korban) kapitalisme dan hedonisme. Dalam industri budaya kapitalisme kontemporer memang secara besar-besaran mahasiswa menjadi korban empuknya. Dan ironis, mahasiswa tidak cepat-cepat menyadarinya.

Untuk itu, sebagai seorang anak muda yang punya keprihatinan tinggi terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, penulis buku ini bermaksud mengingatkan kembali peran penting mahasiswa di tengah masyarakatnya. Mahasiswa perlu menyadari akan jati diri mereka, bukan terlalu muluk adalah sebagai pelaku sejarah sekaligus sebagai subjek perubahan (agent of change). Mahasiswa harus kembali ke hakikatnya sebagai manusia normal. Mahasiswa bukan benda yang statis dan tidak pula mengutamakan pemuasan hasrat libido seksual layaknya binatang. Jika kita memandang sekitar kita dan segalanya sesuatu terjadi secara alami dan mengalir seperti biasa, maka sejatinya daya kritis mahasiswa telah mati.

Hadirnya buku ini juga sekaligus akan melengkapi sederet buku-buku yang memfokuskan pada hal yang sama. Diantaranya, ”Bangsa Yang Belum selesai: Indonesia Sebelum dan Setelah Orde Baru” karya jurnalis peneliti Australia, Max Lane dan ”Penakluk Rezim Orde Baru; Gerakan Mahasiswa ’98” yang diedit oleh Muridan S. Widjojo. Sekilas pertama melihat buku ini, saya mengira adalah sebuah novel remaja, karena tampilan cover yang menurut saya tidak terlalu cocok untuk buku yang mengetengahkan serial mahasiswa. Terlepas dari itu, di tengah zaman yang serba pragmatis ini, jika berfikir kritis, bertindak produktif dan bijaksana jarang mereka lakukan, maka hakikat mahasiswa akan terus menjadi paradoks. Atau mahasiswa memang perlu, meminjam istilah Nurani, ”menerapi diri sendiri” untuk mengembalikan kenormalan ini. Jawabannya akan kita temukan di sekujur buku ini.

Data Buku:
Judul Buku: Dari Demonstrasi Hingga Seks Bebas; Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Hedonisme
Penulis: Nurani Soyomukti
Penerbit: Garasi, Jogjakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : 182 Halaman

Senin, November 10, 2008

Genealogi Kecantikan Bidadari Dungu


Esai A Qorib Hidayatullah

(catatan buat Perempuan Suamiku)

Permisi, Bidadariku… aih, aih

Syahdan, saya mendaras cerpen Sirikit Syah, penulis cewek yang memiliki talenta di jagad literer, di koran Kompas, Perempuan Suamiku. Dalam cerpennya tersebut, Sirikit Syah lihai membesut cerita ihwal pasangan laki-laki dan perempuan ideal.

Konon kecantikan adalah anugerah terindah bagi wanita. Kecantikan memiliki kemampuan magnetik luar biasa yang mampu meruntuhkan dunia laki-laki. Dalam berbagai sejarah kemanusiaan dan mitologi kuno dilukiskan betapa dahsyatnya pengaruh kecantikan seorang perempuan terhadap jiwa laki-laki sehingga ia mau berkorban dan melakukan apa saja demi sang perempuan. Keagungan dan kekuasaan laki-laki dapat jatuh dan bertekuk lutut di bawah kakinya.

Beberapa ilustrasi misalnya, kisah Adam dan Hawa, Julius Cesar dan Cleopatra, Rama dan Shinta, dsb. Perebutan wanita cantik antara Qabil dan Habil, perselisihan antara Epimetheus dan Prometheus demi memperebutkan Pandora yang cantik, juga turut mewarnai sejarah tragedi kemanusiaan atas nama kecantikan perempuan.

***
Sirikit Syah, selain aktivis media, pun ia rajin menggarit tulisan soal seni sastra. Di setiap tulisan-tulisannya, Sirikit selalu menampakkan “kejagoannya” mengemas kerak ide dan menjadikan tulisannnya menarik disimak. Misalnya, dalam Perempuan Suamiku, Sirikit menanyakan kembali soal pasangan ideal bagi kita kelak.

Sebagai kaum perempuan Dunia Ketiga (istilah yang akrab dicitrakan bagi negara-negara berkembang, semisal Indonesia), Sirikit sangatlah lazim mengamalkan laku cemburu (cewek posesif) terhadap suaminya (sebagai pasangan hidupnya). Sirikit tampak tidak ikhlas bila mendapati suaminya berpoligami dan kepincut pada bidadari yang dungu. Hal itu Sirikit tampilkan pada tiap bangunan cerita dalam Perempuan Sumiku.

Sirikit seakan-akan berkhotbah kepada kita semua bahwa dalam hal mencari pasangan janganlah gampang melecutkan rasa kasih-sayang terhadap pasangan kita masing-masing. Sirikit tampak murka atas salah satu pasangan yang hanya mengutamakan hasrat libidinal, memilih pasangan yang melulu melihat tubuh seksis dari pasangan.

Tapi Sirikit pun tak menampik akan pentingnya pasangan yang pintar mengosmetika diri agar selalu cantik-menarik. Tapi jangan salah, Sirikit pula memiliki pandangan atas pasangan yang cantik, pintar merawat diri, namun ia lemah intelektual, akhirnya Sirikit tak ragu-ragu menyebutnya dengan ‘Bidadari Dungu’.

Bidadari Dungu menurut terang imajinasi Sirikit ialah perempuan cantik yang menyengaja menenggelamkan dirinya di arus deras modernitas. Ia hanya merayakan kesadaran palsunya dan menukarkan integritas diri dengan gaya-gaya hidup urban.

Di tengah kesumpekan hidup, berjubel bidadari yang kerapkali menangkringkan dirinya di mal-mal, atau pun di tempat-tempat lainnya pendompleng ikon modernisme. Bidadari model ini, sangatlah jelas bukan bidadari kiriman dari langit. Sebab, laku bidadari langit (tentu bidadari yang tak dungu) itu selalu mendandani dirinya tampak sahaja, dan memiliki kekhasan tersendiri dalam menertawakan proyek modernisme.

Menapaki geladak garitan cerpen Sirikit tersebut, pembaca digiring berada di atas angin dalam hal mencari pasangan. Kendati sebuah cerpen adalah kisah fiktif, tak jauh panggang dari api, cerpen Perempuan Suamiku pun bisa dijadikan cantelan dalam menelusuri labirin pencarian pasangan hidup di dunia nyata. Cerpen, kini, sudah tak hanya memotret alam angan. Bertolak dari itu, cerpen sudah amat menyehari berebut menangkap geliat kegiatan manusia yang kadang-kadang bikin ruwet. Bukankah mencari pasangan itu juga hal ruwet? He he he…

Permisi, Bidadariku… aih, aih

Saatnya Data Memimpin Wacana!


Judul Buku : Saatnya Muslim Bicara!
Judul Asli : Who Speaks for Islam
Penulis : John L. Esposito & Dalia Mogahed
Penerjamah : Eva Y. Nukman
Penerbit : Mizan
Cetakan : I, Agustus 2008
Tebal : 252 Hlm
Peresensi : A Qorib Hidayatullah*

Riset Gallup World Poll yang dijelmakan dalam buku ini, tentang citra Barat dan Timur (Islam), menjadi tesis tandingan atas tesis Samuel Huntington tentang tubrukan antar-peradaban. Huntington pada 1993, sempat bikin geger masyarakat Barat maupun Islam lewat artikelnya, “Clash of Civilizations?” yang tayang perdana di jurnal Foreign Affairs. Huntington meramal peradaban Islam tidak dapat berjalan beriringan dengan peradaban Barat.

Lebih jauh, Guru Besar Universitas Harvard tersebut menilai Islam tidak apresiatif terhadap nilai-nilai Barat. Pada saat yang sama, Islam dipandang tidak menghargai ide-ide tentang hak asasi manusia, persamaan derajat wanita, serta demokrasi. Untuk itu, gerakan dan tindak-tanduk umat Islam perlu dicermati dan dicurigai.

Dalam terang pemikiran Huntington, peradaban muncul dengan ciri-ciri yang beragam. Ia dapat mengemuka dalam bentuk satuan geografis, agama atau etnik. Sifat peradaban yang menyeluruh itu dapat memicu konflik yang jauh lebih rumit. Huntington mengalegorikan, seorang Muslim tidak mungkin menjadi Kristen atau Hindu pada saat yang sama. Mereka dapat hidup berdampingan, tapi tidak dapat meleburkan diri masing-masing dalam satuan yang sama.

Secara umum, tesis Huntington didasarkan pada peristiwa penting yang terjadi pada akhir abad ke-20: kemenangan kapitalisme. Setelah sekian abad lamanya mendapat tantangan dari bermacam-macam ideologi, kapitalisme terbukti dapat menunjukkan diri sebagai ideologi yang paling berkuasa. Menurut Huntington, fenomena ini menunjukkan bahwa peradaban Barat sedang di atas angin.

Sebagai karya akademis, tesis Huntington sebenarnya terbilang biasa-biasa saja. Ramalan bahwa akan terjadi benturan peradaban juga bukan sesuatu yang sensasional. Kecenderungan Huntington memprediksi apa yang akan terjadi adalah fenomena lazim yang kerapkali ditemui dalam tulisan ilmiah lainnya.

Berbeda dari tesis Huntington, temuan Gallup World Poll lewat jajak pendapat selama beberapa tahun di dalam buku ini yang melibatkan 1,3 miliar umat muslim di seluruh dunia, berusaha meneroka opini sesungguhnya dari mayoritas umat Muslim dunia tentang Islam, Barat, Kekerasan, HAM, dan isu-isu mutakhir lainnya.

Data Gallup World Poll memperlihatkan, hal yang memperkuat perbedaan pendirian antara negara-negara Barat dan Muslim adalah persepsi bersama, atau lebih tepatnya, salah persepsi. Masing-masing pihak banyak yang percaya bahwa pihak lain tidak peduli. Akan tetapi, hanya kelompok minoritas pada kedua belah pihak yang tidak peduli akan hubungan yang lebih baik antara Barat dan masyarakat Muslim, sehingga menyingkapkan benturan ketidaktahuan, bukan benturan peradaban (hlm 198).

Keyakinan yang jamak tersebar di Barat adalah bahwa “mereka (Muslim) membenci kita karena demokrasi, kebebasan, budaya, nilai, dan kesuksesan/kemajuan kita.” Tapi saat Gallup World Poll mewawancarai beberapa responden, hasilnya malah bertolak belakang dari anggapan tersebut (hlm 179). Misalkan, pengakuan responden asal Turki, “Saya mengagumi kebebasan mereka (Barat). Mereka peduli dengan hak asasi manusia. Ada demokrasi dan keseteraan. Mereka maju dalam teknologi.” Atau pernyataan yang lain dari responden asal Pakistan, “Cara mereka (Barat) bekerja keras. Hal itu membantu mereka dalam membangun negara mereka.”

Lalu, mengapa sebagian Muslim membenci Barat? Data survei Gallup World Poll menunjukkan, penyebab utama anti Amerikanisme dan kemarahan internasional dikarenakan dampak dari kebijakan luar negeri Amerika di Dunia Islam. Namun, data itu memilai-milah “Barat dan “Dunia Islam” menjadi negara-negara tersendiri. Misalkan, ketidaksukaan umat Muslim terhadap Inggris dan Amerika Serikat sangat berlawanan dengan pandangan yang lebih positif terhadap Prancis dan Jerman (hlm 197). Di semua negara bermayoritas penduduk Muslim yang dijajak pendapatnya, rata-rata 75% responden mengaitkan “zalim” dengan Amerika Serikat (jauh beda dengan hanya 13% untuk Prancis dan 13% untuk Jerman).

Kendati demikian, mayoritas orang Amerika mengatakan bahwa hubungan dengan Dunia Islam menjadi perhatian besar bagi mereka. Mereka juga percaya bahwa diperlukan interaksi yang banyak. Tampaknya, mereka berpikir bahwa apa pun perpecahan yang ada antara Barat dan negara-negara Muslim, hal itu disebabkan oleh kesalahpahaman kultural di kedua pihak.

Kaum Muslim pun menyatakan bahwa apa pun perpecahan yang ada antara Barat dan Dunia Islam sebagai akibat kurangnya sikap saling memahami dan menghargai. Kaum Muslim tidak menganjurkan atau menuntut perubahan budaya serta norma sosial Barat sebagai jalan menuju hubungan yang lebih baik. Meski kemunduran moral sosial merupakan suatu aspek yang paling mereka benci dari Barat, memperbaiki hal ini tidak disebut-sebut sebagai cara untuk memperbaiki hubungan.

Konflik meletihkan antara Barat dan Dunia Islam bukanlah tak dapat dielakkan. Konflik ini disebabkan kebijakan politik yang tidak tepat, bukan pertikaian prinsip. Jajak pendapat Gallup World Poll mengurai bernas bahwa orang-orang Lebanon sangat menghargai Kristen dan Muslim (lebih dari 90% berpandangan positif terhadap lainnya), meski satu dekade perang sipil di Lebanon terjadi di antara kelompok-kelompok keagamaan.

Berkat jasa profesor Islamic Studies di Georgetown University, John L. Esposito dan Dalia Mogahed, analis senior serta direktur eksekutif Gallup Center for Muslim Studies, data survei itu bisa terkemas rapi dalam buku ini. Buku yang menggiring pembaca mafhum atas pertanyaan-pertanyaan semisal: Apakah mayoritas muslim menyetujui aksi terorisme atas nama Islam?; Apakah mayoritas muslim membenci Barat?; Manakah yang dipilih muslim: demokrasi atau teokrasi?; Benarkah mayoritas muslimah merasa tertindas? Dan benarkah mereka menginginkan kebebasan seperti wanita Barat?

Dikarenakan buku ini berdasar riset, pertanyaan-pertanyaan di atas memiliki pertimbangan jawaban yang objektif. Sebagaimana dikatakan Albert Einstein, “Hal yang penting adalah tidak berhenti bertanya.” Dan Einstein juga mengatakan, “Kita harus tahu apa yang sebetulnya terjadi, dan bukan mencari apa yang menurut kita sebaiknya terjadi.” Saatnyalah data memimpin wacana!

Senin, Oktober 20, 2008

Buruh Kecil yang Mencintai Peti Mati


Esai A Qorib Hidayatullah

Intimitas cinta kehidupan adalah melawan. Perlawanan memberi bentangan sejarah dengan menjadikan kaum pelawan terkenal. Orang yang hanya melacurkan hidupnya akan kemapanan tak ubahnya kaum yang menyengaja diri tersungkur di telapak etalase kekuasaan.

Sejarah menakdirkan, kekuasaan dan perlawanan tak dapat bersanding mesra. Frase kekuasaan dan melawan dicipta berseberangan, ber-oposisi biner. Bak langit dan bumi yang tak bakal ketemu. Seamsal laki-laki dan wanita tak bisa menyulap kelaminnya menjadi sama. Perlawanan, semacam esensi hidup yang niscaya.

Tak sedikit dari serakan kehidupan sekitar kita yang membutuhkan lecutan cambuk perlawanan. Persis seperti garitan surat Yusuf Ishak untuk Pramoedya Ananta Toer, “Verba amini proferre et vitam impendero vero (Dia mengutarakan pikirannya dengan bebas dan mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran).” Surat itu memberi kesaksian pentingnya semangat perlawanan hingga nyawa jadi taruhannya.

Hidup melawan, —jika kita menangkap pesan surat Yusuf Ishak tersebut­— ialah jembatan untuk mencari kebenaran. Dikarenakan kebenaran manusia yang relatif itulah, di mana benar bagi diri kita belum tentu benar buat orang lain, maka perlawanan perlahan menjadi penting.

Musuh raksasa bagi kaum pelawan adalah represifitas. Tindakan represif pernah menjadi amunisi ampuh orde baru guna membungkam kaum pelawan kritis. Mereka (kaum pelawan) tak hanya dihadapkan pada teror lahir, tapi secara batin pun mereka diancam. Tengok misalkan, peristiwa Mei 1998 yang menjadi sejarah soliluqui (sejarah yang mencekam dan berlarat) hingga memberi efek trauma berkepanjangan demi reformasi.

Hakikatnya, —seperti yang telah disinggung sebelumnya— bahwa perlawanan itu niscaya sebab melawan adalah kontrol sosial. Keseimbangan hidup bernegara, bersosial lewat pelawanan akan tercipta. Sejarah meletihkan perjuangan bangsa ini pun juga digaransi berkat daya resistensi melawan kolonialisme.

Sebab perlawanan menjadi peralatan yang tidak memiliki harga, artinya siapa pun berpeluang melawan, hal ini yang kemudian membikin perlawanan menjadi laris di era kini. Setelah kran reformasi dibuka lebar-lebar, perlawanan mewujud barang dagangan yang gemar orang melakukannnya. Dalam setiap ketimpangan terjadi, dan ketimpangan tersebut teraudit oleh kemafhuman rakyat, maka rakyat pun tak segan-segan meluncurkan sebuah resistensi.

Wacana terorisme global yang telah enam tahun lamanya terdengung, tak lain merupakan bentuk perlawanan komunitas masyarakat tertentu. Terlepas bahwa terorisme terstereotifikasi atas dunia Timur (Islam), bahwa mereka antek teroris global yang harus digilas dengan melakukan invasi.

Aneka kemasan perlawanan yang dimiliki rakyat. Misalkan, long march unjuk rasa yang digelar di depan gedung legislatif, dll guna memprotes kebijakan publik pemerintah yang tak seselera dengan rakyat. Senjata perlawanan tak hanya dimiliki oleh dunia pertama, tapi dunia ketiga pun juga memiliki peluang serupa guna melawan dunia pertama.

Ekstase kenikmatan perlawanan berakhir dititik keagungan. Hidup melawan, sejatinya, hanya dipunyai kaum lemah tertindas. Tapi yang lebih penting dipahami, melawan tak segampang membalikkan telapak tangan. Hidup melawan menuntut adanya jaminan sonder kenyamanan hidup. Seperti kisah berlarat kaum buruh yang mencintai peti mati (rela berkorban nyawa) demi tegaknya kebenaran dan keadilan dengan cara melawan. Melawanlah, dan cintailah peti mati, kawan!

Dosa pada Masyarakat Literer


Esai A Qorib Hidayatullah

Rubrik Bentara Kompas awal bulan Juni 2008 silam menayangkan tulisan polemik seputar plagiarisme. Muasal tulisan itu diturunkan pada Bentara Kompas lantaran ulah dosen UI menulis di media nasional tentang sejarah fotografi secara plagiat. Dengan begitu, prilaku dosen UI yang tak kerkeadaban di lapangan dunia tulis-menulis itu ditanggapi oleh oknum yang mengaku penggubah naskah asli sejarah fotografi tersebut. Al-hasil, aksi tuntut-menuntut pun terjadi. Dilayangkanlah tulisan ke surat pembaca Kompas oleh si penggugat guna menggugat aksi plagiat kepada plagiator yang sekaligus dosen UI. Disinilah titik runyam jagat kepengarangan kita diuji. Mirisnya, di Indonesia belum ada sebentuk lembaga peradilan yang menangani khusus kasus plagiat. Padahal di Barat tindak plagiarisme disikapi secara serius.

Dalam helat panggung tulis-menulis, si empu (penulis) dituntut memiliki jiwa integrasi. Tulisan oplosan dari orang lain sama sekali tak diperkenankan dipublikasi dengan memakai nama plagiat, tidak menerakan penulis asli sang pembikin naskah. Problemnya saat ini, masyarakat kini kian tapaki kecanggihan teknologi di mana informasi gampang dan cepat diraih hanya berbekal kepiawaian menguasai dunia maya lewat fasilitas internet. Sehingga, aksi jiplak dan plagiat berpotensi dilakukan oleh siapa pun. Tak diharap pun, wacana dosa pada masyarakat literer menarik didiskusikan.

Di lingkungan saya sendiri, laku epigon ditingkat penulisan makalah kuliah marak dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa dengan mudahnya comot sana-sini dari tulisan yang dirujukan tanpa menuliskan referensi/sumbernya dari mana. Dan dosen pun tak memiliki kemampuan atau ilmu memonitoring kebiasaan mahasiswa plagiat dalam penulisan makalah. Nah, di sinilah kata salah satu penulis di rubrik Bentara Kompas dengan menyebutnya, “Aksi Pembajak yang Bertoga.”

Kalau dilacak bermulanya aksi mulus plagiat, hemat saya, berawal kebiasaaan mahasiswa di kampus saat kuliah yang menulis makalah dengan plagiat, namun dosen/pengajar membiarkan dan tak adanya kepakeman aturan dari kampus yang menindak serius aksi mahasiswa tersebut. Tak ayal, tradisi busuk itu pun terus dilanjutkan mahasiswa tak hanya saat kuliah, ironis, ia pun mewarisinya hingga akhir hayatnya.

Kawan saya menjabarkan ihwal dosa literer ini yang tak memiliki sedikit pun ruang ampun. Dosa literer dapat terhapus bila plagiator mengemis ma’af dan berjanji tak akan mengulangi kembali tindak kejinya itu kepada masyarakat literer, dan lebih khusus pada pemilik tulisan yang dioplosnya.

Karya tulis merupakan karya agung yang jauh dari manipulatif. Karya tulis bersemangatkan demi tumbuh-kembangnya pengetahuan lewat asahan ide, riset mutakhir, dan eksperimen. Dengan begitu keotentikan karya dan temuan menjadi penting sebagai wujud tanggung jawab uji pengetahuan. Masyarakat literer Indonesia, saya pikir, patut mengutuk riset palsu Djoko Suprapto yang merekayasa blue energy di UMY (Universitas Muhammadiya Yogyakarta) demi sebuah kucuran dana besar, namun usahanya terprediksi gagal. Disinilah pentingnya integrasi moral dan tanggung jawab bagi periset dan penulis (sastrawan, penyair, prosaik, dll). Semoga bermanfaat bagi diriku.

Minggu, September 14, 2008

Menuju Bangsa Nestapa, Indonesia Bisa


Oleh: A Qorib Hidayatullah

Seruan tiap-tiap manusia tampak sama. Yaitu berharap terjadi/terkabulkan apa yang bergelantungan di angan. Hal itu ihwal lazim. Hidup tidak berpengharapan seperti menanam benih tapi tidak tumbuh.

Saat aku masih kanak-kanak, guruku merisalahkan kepada setiap siswa agar memiliki ekspektasi/cita-cita. Beliau gemar menginterogasi para siswanya dengan pertanyaan: “Apa cita-cita kamu?” Guruku seakan memiliki kekhawatiran apabila siswanya tidak memiliki harapan dan cita-cita. Lebih lanjut guruku menjelaskan pentingnya hidup bercita-cita akan membikin hidup tetap bertahan penuh semangat, tidak mandul orientasi.

Ekspektasi adalah tolok ukur capaian apa nanti yang akan diraih. Beragam harapan muncul dari setiap manusia di bumi ini. Semuanya berseru serupa ingin lebih baik dari apa yang sudah terjadi. Hidup tanpa ekspektasi seakan memubazirkan karunia Tuhan. Cita-cita merupakan karunia terbesar dari Tuhan. Tuhan memperkenankan diri-Nya selalu mendengar nafas terlemah seruan hamba-Nya.

Rakyat Indonesia memiliki beragam ekspektasi kepada elite birokrasi pemerintahan. Bahkan penuhnya berpengharapan, rakyat hingga lesu berharap kepada petinggi bangsa ini. Hanya genggaman tangan kosong yang dibawa pulang rakyat setelah selesai dikibuli saat suaranya dieksploitasi dalam momen pesta demokrasi.

Semasa kampanye berlangsung digelar, rakyat diiming-imingi sejuta janji. Program yang diusung masing-masing kandidat semuanya berpihak kepada rakyat (pro rakyat). Rakyat waktu kampanye berlangsung serasa sangat diistiwewakan. Semua kandidat apabila terpilih nantinya akan menjuntrungkan arah kebijakan publiknya pro membela rakyat.

Tribune kampanye kini menjadi wahana munafik. Hanya tebar janji, namun tak ditepati. Kampanye para kandidat hanya permainan akal bulus. Program yang pro rakyat hanya selesai di atas mimbar kampanye. Tersiar kabar, kalau rakyat saat ini terkesan membendung pendengarannya dari janji-janji manis kandidat saat kampanye. Rakyat mengalami krisis keperyaan terhadap janji kandidat. Rakyat memilih jalan simplistis, yaitu siapa pun kandidat yang banyak modal, itulah yang memberi magnet kepada rakyat. “Memilih siapa nanti di TPS, itu soal nurani”, ujar salah satu rakyat.

Kini, peta politik pemilihan birokrasi kita tidak memakai politik “What is” tapi lebih pada “Who is”. Rakyat tidak hirau lagi program apa yang diusung kandidat, tapi rakyat lebih acuh siapa kandidat itu. Untuk masyarakat Jatim, rakyat lebih suka memilih kandidat dari basis kaum biru, kyai, maupun ulama’.

Tampaknya, Indonesia saat ini telah mengalami di mana Ronggowarsita menamainya dengan zaman Kalatidha, yaitu zaman yang sedemikian gila, dengan berharap butuh manusia-manusia sahaja.

Kesahajaan Manusia dan Riwayat Kelam Sisifus


Esai A Qorib Hidayatullah

Manusia yang tampak enggan bila dikemukakan sifat bejatnya, kemunafikannya, atau sesuatu yang tak baik dari dirinya, itulah manusia laiknya Sisifus. Sisifus adalah hewan kutukan Dewa. Dewa mengutuk Sisifus dengan menyuruhnya mengangkat barang dipundaknya menuju bukit, sedikit naik ke bukit, Dewa mendorongnya ke bawah lagi, terus seperti itu. Itulah wujud kutukan Dewa terhadap makhluk Sisifus.

Terlepas dari Sisifus, yang asyik-masyuk dibincang di sini adalah ihwal “kutukan”. Kutukan! Tak ada orang yang berani berhadapan dengannya. “Kutukan” merupakan kata yang tak digemari orang banyak sebab akan mengirim kesengsaraan, nestapa, dan nelangsa hidup. Dalam sinetron-sinetron dongeng –-biasanya baru-baru ini sinetron itu kerap dijumpai, diputar di stasiun Trans TV dengan tajuk program “LEGENDA”— di sana disiratkan betapa kejamnya sebuah kutukan. “Akan aku kutuk kau menjadi batu”, ujar nenek sihir pada adegan di sinetron tersebut.

Bukannya tanpa alasan sebuah daya kutukan tertuju pada manusia, pasti ada kesalahan-kesalahan sehingga kutukan itu keluar mengiringi beban dosa yang dibikin anak manusia itu. Seperti sedikit yang tergambar pada diri Sisifus, mesti Sisifus memiliki salah terhadap Dewa, sehingga Dewa mengutuknya.

Lalu pertanyaannya, mungkinkan manusia di bumi ini menerima kutukannya masing-masing? Bukankah manusia di bumi sudah bergelimang kesalahan-kesalahan, tak hanya kesalahan kecil yang dibikinnya, kesalahan fatal pun sudah manusia lakukan. Terkikisnya lapisan ozon yang menyebabkan global warming (pemanasan global), bukankah ini wujud kesalahan fatal anak manusia yang menyebabkan sengsara seluruh penduduk bumi? Apa nantinya kutukan yang mengiringi kesalahan manusia tersebut?.

Setiap ada kesalahan mesti temukan kutukannya. Pertanyaan yang telontar semisal: “kutukan apa yang akan diterima manusia sebab kesalahannya?.” Itu memang pertanyaan yang betul-betul tak salah. Namun, setiap kutukan tak harus langsung terjadi, tidak. Kutukan, mengiringi kesalahan manusia seberapa besar (kesalahan) yang ia perbuat. Kutukan, yang erat kaitannya dengan kesalahan manusia, gampangannya, kutukan itu akan mewujud menjadi peristiwa, musibah dahsyat –-Tsunami, banjir, pemanasan global, gunung meletus, lindu, gempa, dll— yang kerap menyatroni hamba manusia. Itulah sebuah kutukan bagi manusia yang telah melakukan kesalahannya.

Kutukan bagi manusia yang salah tak harus terlafal seperti kutukan-kutukan di sinetron: “Akan aku kutuk kau menjadi batu, ular, anjing, babi, dll. Kutukan dapat bermakna luas, bak hukum kausalitas. Ada sebab mesti ada akibat. Akibat Kutukan mengiringi sebab manusia merusak lingkungannya, mengeksploitasi keindahan alamnya, membalak hutan lindungnya, membangun rumah kaca, dan macam-macam kesalahan anak manusia lainnya. Yang jelas, kutukan membikin sengsara hidup. Kutukan mesti akan membikin hati pedih, menyayat hati. Semoga kutukan yang selama ini telah terjadi langsung membidik anak manusia yang melakukan kesalahan.

Adilkah Tuhan menghukum para penjahat koorporasi birokratik petinggi Lapindo yang menyebabkan lumpur panas Lapindo malah berakibat pada warga Porong yang tak melakukan kesalahan? Sungguh hati-kah Kau Tuhan melihat anak manusia tak bersalah yang nasibnya bak beras ditampi dan diayak itu, hamba-Mu itu (korban) memohon akan kebesaran-Mu.